Berita Luar Negeri
Pasukan Perlawanan Myanmar Rebut Kota di Perbatasan Myanmar-China, Junta Militer Semakin Terdesak
Pasukan tersebut telah menduduki kota itu sejak 29 Maret, namun baru bisa merundingkan penyerahan junta pada Kamis, kata warga Lwegel.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
Pasukan Perlawanan Myanmar Rebut Kota di Perbatasan Myanmar-China, Junta Militer Semakin Terdesak
SERAMBINEWS.COM – Pasukan perlawanan Myanmar berhasil merebut sebuah kota dekat perbatasan China, kurang dari seminggu setelah para pejabat bertemu di ibu kota Myanmar untuk membahas kerja sama antara kedua negara.
Hal itu diungkapkan oleh penduduk kepada Radio Free Asia (RFA) pada Jumat (5/4/2024).
Junta militer Myanmar, yang merebut semua kursi pemerintahan utama dalam kudeta tahun 2021, mengundang utusan China ke Naypyidaw pada Senin untuk membahas penyitaan massal kamp militer oleh Tentara Kemerdekaan Kachin dan pertempuran selanjutnya di perbatasan.
Beberapa gerbang perbatasan di negara bagian Kachin masih belum dibuka kembali, kata analis politik dan warga kepada RFA.
Pasukan perlawanan Myanmar telah merebut 60 kamp junta sejak pertempuran dimulai pada 7 Maret dan kini menguasai sebagian dari dua rute perdagangan utama di negara bagian Kachin di Myanmar utara, salah satunya melintasi perbatasan China.
Baca juga: Militer Myanmar Kembali ‘Basmi’ Etnis Rohingya di Rakhine, Belasan Terbunuh dan Puluhan Terluka
Pauskan Kemerdekaan Kachin, yang bermarkas di kota perbatasan Lai Zar, merebut kota besar lainnya hampir 160 kilometer (100 mil) selatan pada Kamis.
Pasukan tersebut telah menduduki kota itu sejak 29 Maret, namun baru bisa merundingkan penyerahan junta pada Kamis, kata warga Lwegel.
Semua badan pemerintahan di bawah junta telah ditutup dan staf mereka telah meninggalkan kota, kata seorang warga kepada RFA pada hari Jumat, seraya menambahkan bahwa pasukan Kachin kini dikerahkan di seluruh kota.
“Kota ini telah direbut. Pasukan Tentara Kemerdekaan Kachin telah tiba di kota,” katanya.
“Semua departemen administratif telah ditutup, dan bendera nasional Kachin terlihat di beberapa tempat. Tentara dan polisi masih terjebak,” kata warga itu, dikutip dari RFA.
Selain bendera nasional Kachin yang digantung di Departemen Administrasi Umum, pasar dan rumah sakit di kota tersebut, mereka juga telah mengeluarkan pemberitahuan bahwa hanya personel yang berwenang yang diperbolehkan berada di gerbang perbatasan dan departemen administrasi, tambahnya.
Tentara dan personel militer lainnya di Lwegel telah dipindahkan ke pangkalan junta di dekatnya.
Baca juga: Junta Militer Myanmar Ampuni 2.153 Tahanan Politik yang Dipenjara karena Perbedaan Pendapat
RFA menghubungi juru bicara junta negara bagian Kachin, Moe Min Thein untuk memberikan komentar mengenai penyerahan militer tersebut, namun dia belum memberikan tanggapan hingga berita ini diturunkan.
Juru Bicara Tentara Kemerdekaan Kachin, Kolonel Naw Bu mengatakan kepada RFA bahwa meskipun mantan staf administrasi telah pergi, proses administrasi kelompok anti-junta belum dimulai di 21 kantor pemerintah kota tersebut.
| Iran Gak Mau Berunding Lagi dengan AS: Tak Ada Kompromi untuk Tuntutan Sepihak Washington |
|
|---|
| 191 Tewas Selama 4 Hari Perayaan Festival Air ‘Songkran’di Thailand, 911 Orang Terluka |
|
|---|
| Setelah Filipina, Krisis BBM Kini Hantam Bangladesh, Antrean SPBU Mengular Akibat Pasokan Kurang |
|
|---|
| Stok BBM Filipina Sisa 45 Hari, Status Darurat Energi Ditetapkan, Apa Konsekuensinya? |
|
|---|
| Drone Iran Hantam Bandara Internasional Kuwait, Tangki Bahan Bakar Meledak di Tengah Perang AS-Iran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pertempuran-telah-berkobar-di-seluruh-Myanmar-sejak-kudeta.jpg)