Bireuen
RSUD Bireuen Sukses Operasi Pasien Mengalami Penyakit Langka
Penyakit tersebut dapat disebutkan langka, dan ini merupakan kasus pertama yang ditangani di Bireuen.
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Taufik Hidayat
Laporan Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Tim medis, dokter spesialis bedah digestif beberapa hari lalu sukses melakukan operasi terhadap seorang pasien yang mengalami penyakit achalasia atau penyakit di bagian kerongkongan (esophagus) kehilangan kemampuan mendorong makanan dari mulut ke perut.
Tindakan operasi dilakukan pada 9 April lalu terhadap seorang pasien bernama Rahmad Dani (29) warga Panton Labu Aceh Utara.
Dokter spesialis bedah digestif, dr Nasrul Hadi SpB KBD kepada Serambinews.com, Jumat (19/4/2024) malam mengatakan, RSUD dr Fauziah menerima seorang pasien dari Aceh Utara dengan keluhan sudah lama tidak bisa makan dan minum, setiap minum atau makan langsung muntah.
Memastikan penyakit jenis apa, maka dilakukan rontgen. Hasil rontgen memperlihatkan dugaan ada gangguan di dekat kerongkongan atau terjadi penyempitan. Dalam istilah medis heller myotomy perlaparoskopi. Kemudian dianalisis lagi dan pasien tersebut mengalami penyakit langka.
Informasi awal dari pasien, sebelum mengalami penyakit tersebut berat badan mencapai 60 kilogram, setelah beberapa bulan kemudian berat badan tinggal 30 kilogram.
“Cerita pasien dan keluarganya, asal setiap makan dan minum muntah,” ujarnya. Keluarganya mengatakan, anaknya pertama kali di rujuk salah satu rumah sakit pemerintah di Lhokseumawe, kemudian dirujuk ke salah satu RS swasta di Aceh Utara.
Kemudian pasien dirujuk ke Banda Aceh. “Saat penanganan di Banda Aceh tenaga medis akan melakukan salah satu tindakan operasi, namun keluarga menolak,” ujarnya.
Pasien pulang ke kampung dan balik lagi ke rumah sakit di Aceh Utara dan akhir Ramadhan pasien kemudian dirujuk ke RSUD dr Fauziah Bireuen. “Tindakan operasi dilakukan pada hari meugang,” ujar dr Nasrul.
Tindakan operasi dilakukan bersama tim medis lainnya dr Mujiburrahman SP An, serta empat perawat yaitu Fitriani, Satria, Irsa dan Azwar sampai lima jam baru selesai.
Penyakit tersebut dapat disebutkan langka satu di antara ratusan ribu orang atau 1/100.000 kehidupan. “Ini merupakan kasus pertama yang ditangani di Bireuen,” ujarnya.
Menjawab Serambinews.com tentang penyebabnya, dr Nasrul mengatakan, secara teori tidak diketahui penyebabnya. Kompleksitas penyakit tersebut ada hipotesa yang menyatakan penyebabnya virus, ada yang menyebutkan genetik atau gabungan keduanya, namun kepastian penyebabnya belum diketahui pasti.
Penyebab pasti akalasia belum sepenuhnya dipahami. Namun, peneliti menduga kondisi tersebut disebabkan oleh rusaknya saraf di kerongkongan sehingga berhenti bekerja dengan baik. Hal tersebut menyebabkan otot dan cincin otot di tenggorokan tidak berfungsi.
Selain itu, beberapa ahli juga menduga, akalasia berkaitan dengan infeksi virus, juga dikaitkan dengan kondisi autoimun, dimana system kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan, dan organ yang sehat. “Dugaan para ahli bisa gara-gara virus, bisa karena genetik atau lainnya,” ujarnya.
Menyangkut operasi, dr Nasrul mengatakan, tingkat keberhasilan suatu operasi ada skornya, dalam operasi terhadap pasien, setelah dioperasi apakah ada nyeri atau tidak, apakah sudah bisa makan dan minum dan beberapa saat kemudian berat badan meningkat.
| 148 Jemaah Haji Bireuen Dilepas Bupati: Jaga Kesehatan dan Luruskan Niat |
|
|---|
| Akademisi UMMAH Sebut JKA Sebagai Hak Politik dan Amanah Qanun |
|
|---|
| Wagub Aceh Fadhlullah Silaturrahmi dengan Abu Paya Pasi, Perkuat Sinergi Ulama dan Umara |
|
|---|
| Mahasiswa FKIP UNIKI Gelar Pengabdian kepada Masyarakat di Laut Jangka |
|
|---|
| 150 Anggota Pramuka Penegak Ikut Perkemahan Pemuda Ceria, Ini Ragam Lombanya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/langka-di-RS.jpg)