Oleh: Risman Rachman*)
Pilkada 2024 mungkin saja menjadi pilkada terakhir bagi kita.
Pasalnya, Heinz von Foerster dari University of Illinois memperkirakan akan terjadi kiamat pada tahun 2026.
Berita itu dilansir Time pada Minggu (28/4/2024), yang kemudian ikut disebarkan oleh berbagai media, termasuk media yang ada di Indonesia.
Jika prediksi itu akurat maka ini saatnya rakyat Aceh memilih calon gubernur, calon bupati, dan calon wali kota berserta calon wakilnya yang tepat.
Itu penting karena merujuk kajian-kajian tersebut, juga tentang kedatangan Imam Mahdi menjelang kiamat.
Jangan sampai, para pemimpin di pilkada terakhir justru mengarahkan kita masuk dalam golongan kiri seperti yang dinukil dalam surah al Waqiah.
Itulah kumpulan orang-orang yang digambarkan sangat sengsara meski di masa hidupnya tergolong hidup mewah.
Pesannya jangan sampai yang memimpin Aceh adalah sosok pembuka pintu bagi kerja-kerja menyesatkan yang dilakukan oleh Dajjal.
Merujuk kajian-kajian yang disampaikan oleh Buya Arrazy misalnya menyebut bahwa Dajjal ini punya kemampuan menyamar, termasuk tampil layaknya orang shaleh.
Memang, menurut Foerster pemicu berakhirnya hidup di dunia lebih disebabkan oleh karena terjadinya ledakan penduduk pada 2026.
Dikatakan, meski manusia makin cerdas, tapi pada akhirnya akan saling memusnahkan, terjadi kelaparan ektrem dan saling memeras.
Dalam kajian-kajian kedatangan Al-Mahdi, meski tidak disebut soal ledakan penduduk, tapi disinggung soalan-soalan perselisihan hingga perebutan kekuasaan diantara umat manusia.
Barangkali itu merujuk kepada kemunculan pemerintahan yang menggigit hingga memaksa atau era diktatorian.
Soal kiamat tentu kita tidak tahu kapan kejadiannya.
Jadi, tidak perlu juga berpegang pada prediksi ilmuan fisika di atas.
Tapi, sebagai wilayah yang hidup dengan keyakinan Islam, peringatan tentang kiamat yang digambarkan oleh Allah SWT dalam Alquran tentu wajib dijadikan pedoman.
Begitu juga dengan tanda-tanda yang terjadi jelang kiamat, termasuk tentang kedatangan al Mahdi dan Dajjal.
Itu semua sebagai penambah rujukan bagi kita semua dalam berkehidupan.
Insya Allah kita semua masuk dalam golongan kanan sebagaimana yang dinukil dalam surah Al Waqiah.
Dalam konteks Pilkada 2024 tentu sangat penting kita memiliki kesadaran untuk menelaah rekam jejak semua calon.
Jangan hanya terkisima dengan suguhan narasi-narasi pendek.
Sekilas terkesan sosok yang berpotensi melakukan tindakan saleh ternyata menyimpan agenda-agenda berbuat salah.
Betapa malangnya nasib kita semua manakala yang kita pikir domba ternyata justru srigala yang berbulu domba. Atau, musang berbulu ayam.
Betapa sakitnya ketika yang terpilih justru sosok ceurapee.
Baru menyesal ketika tersadar bahwa ayam yang dapat mensejahterakan justru sudah disikat oleh ceurapee hasil pilihan kita sendiri.
Kalau itu terjadi, kiamat (k - huruf kecil) tentu akan terjadi.
Kiamat yang dimaksud adalah dalam bentuk derita hidup yang berkepanjangan.
Baca juga: Viral Wanita Mengaku Ratu Adil dan Pria Ngaku Imam Mahdi di Karawang, Sebut Dunia akan Hancur
Di atas kertas narasi kita disuguhkan kehebatan-kehebatan pencapaian pembangunan nantinya namun saat kita saksikan warga justru tercekik oleh berbagai kesengsaraan.
Memang ada hiburan ragam bantuan tapi sifatnya laksana obat bius untuk mencabut gigi.
Saat dibius memang tidak ada sakitnya, namun begitu habis masanya, terasalah semua kesakitan, dan gigi yang berfungsi untuk menikmati sudah hilang.
Itu ibarat hilangnya alat-alat utama dan penting dalam mewujudkan pembangunan untuk menghadirkan kesejahteraan yang lumpuh dan dicabut tapi tidak menimbulkan gejolak akibat sudah diberi bius (bantuan) sementara.
Dari uraian di atas, makna penting dari pesan “ini pilkada terakhir” adalah kesungguhan semua pihak untuk menjadikan momen pemilihan Kepala Pemerintah Aceh bukan sebagai dagang sapi atau yang juga disebut politik transaksional atau jual beli kekuasaan.
Mesti ada kesadaran betapa sudah sengsaranya rakyat Aceh akibat badee tan reuda.
Ragam bencana datang silih berganti, dari perang ke perang, lalu ditimpa bencana alam yang diikuti gelombang tsunami.
Masak rakyat Aceh masih harus berjuang dengan beragam bencana yang ditimbulkan oleh politik baik itu terjadi secara alamiah atau pun terjadi oleh agenda setting yang disusun penuh konspirasi.
Anggap saja “inilah pilkada terakhir bagi Aceh” yang apabila tidak diberi kepedulian serius maka sungguh akan membuat kita semua “kiamat.” (*)
*) PENULIS adalah Pemerhati Politik dan Pemerintahan.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI