Opini
Kolaborasi Kunci Menggenggam Masa Depan yang Lebih Baik
Tidak hanya itu, terkadang karena kesibukan masing-masing, sehingga terjadi miss komunikasi diantara keduanya. Perawat dan dokter memiliki pengetahuan
Oleh: Nurul Nisah, Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Syiah Kuala
DALAM perjalanan menuju puncak kualitas pelayanan kesehatan, kerjasama antar profesi yang melibatkan Dokter, Perawat, Apoteker, Fisioterapis, Nutrisionis, dan lainnya adalah sebuah problematika yang penuh tantangan.
Tingkat senioritas yang masih mengakar kuat seringkali menjadi tembok besar yang menghalangi penerapan Interprofessional Collaboration (IPC).
Komunikasi yang tersendat, perbedaan pendidikan yang mencolok, dan kurangnya pemahaman tentang peran masing-masing profesi menambah kompleksitas dalam dinamika kerja yang sudah ada.
Tradisi yang menempatkan dokter di puncak hierarki, dengan Perawat dan tenaga kesehatan lainnya sebagai pelaksana, seringkali memaksa mereka untuk bekerja tidak sesuai dengan tupoksi dan tanggung jawab yang seharusnya, menumpuk beban yang berat dalam memberikan pelayanan kesehatan yang prima kepada pasien.
Baca juga: Segudang Manfaat Daun Sirih untuk Kesehatan, dr Boyke Ungkap Cara Mengolahnya
Meski IPC dijunjung tinggi untuk meningkatkan keselamatan pasien, kualitas pelayanan, dan efisiensi perawatan kesehatan, praktik di lapangan masih jauh dari kata sempurna.
Terkadang, perawat dan dokter memiliki persepsi dan stereotip yang berbeda mengenai peran masing-masing. Stereotip inilah yang dapat menghambat komunikasi dan kolaborasi.
Misalnya, dokter mungkin menganggap perawat hanya sebagai pelaksana instruksi medis, sementara perawat merasa kurang dihargai dan perawat merasa enggan untuk menyampaikan pendapat atau memberikan masukan.
Tidak hanya itu, terkadang karena kesibukan masing-masing, sehingga terjadi miss komunikasi diantara keduanya. Perawat dan dokter memiliki pengetahuan dan kompetensi yang berbeda.
Namun, kolaborasi yang baik memerlukan pemahaman tentang peran dan kemampuan masing-masing. Jika ada kesalahpahaman, akan menyebabkan kolaborasi terganggu.
Budaya kerja di rumah sakit atau klinik juga memainkan peran penting. Jika budaya organisasi mendorong kerjasama dan saling menghargai, maka kolaborasi antara perawat dan dokter akan lebih baik.
Di kalangan tenaga kesehatan juga misalnya, antara ahli gizi, perawat, dan apoteker kolaborasi belum berjalan dengan maksimal. Ahli gizi dan apoteker mungkin memiliki persepsi yang berbeda tentang peran masing-masing.
Misalnya, apoteker mungkin lebih fokus pada obat-obatan, sementara ahli gizi lebih memperhatikan aspek nutrisi. Perbedaan ini dapat menghambat komunikasi dan kerjasama.
Banyak pasien yang mengeluh tentang informasi yang kurang memadai mengenai penyakit dan pengobatannya menjadi saksi atas celah yang masih terbuka.
Namun, IPC memiliki potensi besar untuk meminimalisir kesalahan medis dan memperkuat keamanan pasien. Kolaborasi dan pertukaran informasi yang lancar antar tim kesehatan adalah kunci untuk mendeteksi risiko lebih dini dan mengambil langkah preventif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nurul-Nisah-6u7.jpg)