Berita Banda Aceh

Parnas Sibuk Bersolek jadi ‘Pengantin’ Mualem

lantas mereka kok mau-maunya jadi wakil gubernur Mualem? Yang bener aja ini.” HUMAM HAMID, Guru Besar Sosiolog USK

Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

“Kenapa orang-orang sekelas TM Nurlif yang mempunyai jam terbang politiknya lumayan, PKS mempunyai Nasir Djamil juga nggak jeleklah, kemudian Muslim dari Demokrat, dia juga dua kali dia di DPR RI, kemudian dari PAN, lantas mereka kok mau-maunya jadi wakil gubernur Mualem? Yang bener aja ini.” HUMAM HAMID, Guru Besar Sosiolog USK

PILKADA Aceh 2024 sudah di depan mata. Tetapi bursa bakal calon gubernur masih juga sepi. Hingga saat ini, baru Partai Aceh (PA) yang telah mendeklarasikan bakal calon gubernurnya, yaitu Muzakir Manaf alias Mualem. Sementara sejumlah partai nasional (parnas), seperti Golkar, Gerindra, Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), justru memilih merapat ke Partai Aceh yang merupakan partai lokal.

Menurut Guru Besar Sosiolog Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Prof Dr Ir A Humam Hamid MA, beberapa partai nasional itu sebenarnya memiliki figur yang layak untuk maju sebagai bakal calon gubernur Aceh. Namun sayang, kata Humam, mereka justru memilih ‘bersolek diri’ untuk dipilih menjadi pendamping Mualem.

Beberapa figur yang dinilai layak maju sebagai calon gubernur itu antara lain, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Aceh, Teuku Muhammad Nurlif; Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Muslim; dan Anggota DPR dari PKS, Nasir Djamil. Namun, alih-alih melawan kekuatan parpol lokal, beberapa tokoh partai nasional justru berharap dipilih oleh Mualem sebagai bakal calon wakil gubernur.

“Semua orang yang mendaftar menjadi wakil gubernur, apakah TM Nurlif, dari PKS, Demokrat, PAN, itu semua berbondong-bondong mendaftarkan diri. Mereka sibuk ‘bersolek’ untuk menjadi ‘pengantin’ Mualem, sibuk ‘bergincu’ agar berkeinginan untuk menjadi pasangan Muzakir Manaf. Bayangkan sekelas TM Nurlif pernah menjadi ketua BPK RI, kemudian bertahun-tahun di Senayan, kok mau bersolek menjadi wakil Mualem? Tentu disamping dengan segala alasannya,” kata Humam saat menjadi narasumber dalam Podcast Serambi Spotlight di kanal YouTube Serambinews.com yang dipandu Host Bukhari M Ali, News Manajer Serambi Indonesia, Senin (13/5/2024).

Menurut Humam, nama-nama itu sebenarnya sangat berpeluang untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh. Ia mengaku sangat menyayangkan sikap mereka yang sudah menyerah sebelum bertarung.

“Kenapa orang-orang sekelas TM Nurlif yang mempunyai jam terbang politiknya lumayan, PKS mempunyai Nasir Djamil juga gak jeleklah, kemudian Muslim dari Demokrat, dia juga dua kali dia di DPR RI, kemudian dari PAN, lantas mereka kok mau-maunya jadi wakil gubernur Mualem? Yang bener aja ini.” tegas Humam.

Di sisi lain, Humam melihat bahwa Partai Aceh sebenarnya tidak begitu hebat. “Apa kehebatan Mualem sebenarnya? Apa karena dia punya visi yang hebat untuk Aceh? Apa karena dia punya leadership yang amat luar biasa? Apa punya track rocord yang menjadi contoh teladan bagi kita semua? Saya kira kalau kita jujur, ya ada, tapi nggak sangat luar biasa, biasa-biasa aja lah,” sambungnya lagi.

Menurut Prof Humam, ada dua alasan kuat mengapa parnas tidak mau dan takut melawan Partai Aceh dalam Pilkada Aceh 2024. Pertama, karena Pemilu Legislatif 2024 di Aceh dimenangi oleh Partai Aceh, meski pun sambungnya, kemenangan itu tidaklah terlalu hebat, karena hanya 20 persen, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Alasan kedua, karena kedekatan Mualem dengan Prabowo Subianto yang merupakan presiden terpilih 2024-2029. Dari hitung-hitungan politis, Humam memprediksi Prabowo akan mendukung Mualem dalam Pilkada Aceh. “Ini dugaan kita. Jadi orang tahu bahwa Mualem berteman dekat bahkan pendukung kuat Prabowo Subianto untuk dua kali Pilpres, sehingga Mualem dianggap berasosiasi dengan Prabowo. Kalau ini benar, sehingga ini menjadi alasan semua orang takut untuk melawan,” tambah Humam.

Jadi aib

Prof Humam mengaku sangat menyayangkan sedikitnya orang yang berminat maju pemilihan gubernur dalam Pilkada Aceh 2024. Seharusnya, di momen Pilkada ini ada sosok-sosok yang mampu membongkar bagaimana kondisi Aceh saat ini, hal apa yang harus dilakukan, ancaman, serta peluang Aceh ke depannya.

“Kita nggak puas sebenarnya. Kita maunya ada permainan yang indah, yang enak ditonton, yang mampu bagaimana orang ini membongkar bagaimana Aceh hari ini. Seharusnya ada berbagai narasi yang menjelaskan bagaimana keadaan Aceh hari ini, apa yang harus dilakukan, kemana kita akan bergerak, apa ancaman, apa peluang,” beber Humam Hamid.

Humam juga menilai, jika pertarungan politik Aceh terkesan biasa-biasa saja dan tidak ada pendidikan politik di dalamnya, justru ini menjadi aib besar bagi Aceh. “Kenapa aib? Kita diberikan otonomi yang luar biasa. Tapi dari sedemikian banyak parnas tidak mempunyai harga diri, langung menyerah begitu saja,” pungkasnya.(fu)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved