Sabtu, 23 Mei 2026

Salam

Rencana Penghapusan Pertalite Harus Dibatalkan

Hingga saat ini kami ma-sih menyalurkan Pertalite di semua wilayah sesuai dengan penugasan yang diberikan pemerintah. Sehingga masyarakat tidak perlu

Tayang:
Editor: mufti
For Serambinews.com
ILUSTRASI 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Senin (13/5/2024) memberitakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat suara terkait informasi penghapusan BBM jenis Pertalite (RON 90) dan diganti dengan Pertamax Green (RON 95). Kepa-la Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, mengatakan, pe-merintah belum memutuskan penghapusan Pertalite. "Masih dalam pembahasan mekanisme menuju ke subsidi tepat sasar-an, diatur dalam revisi Perpres 191 yang saat ini sedang dalam pembahasan. Pertalite akan dipertahankan sampai Green Per-tamax siap," katanya, Minggu (12/5/2024).

Sebelumnya, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Irto P Ginting, menegaskan, Pertalite masih disalurkan di se-luruh wilayah. Karenanya, dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir akan ketersediaan Pertalite. "Hingga saat ini kami ma-sih menyalurkan Pertalite di semua wilayah sesuai dengan pe-nugasan yang diberikan pemerintah. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir," kata Irto.

Dikatakan, Pertamina Patra Niaga selaku pihak yang menja-lankan penugasan penyaluran BBM subsidi berkomitmen tetap mengikuti dan menjalankan semua kebijakan yang ditetapkan pemerintah. "Prinsipnya kami akan ikuti dan jalankan semua kebijakan pemerintah sehingga bila terdapat perubahan dalam penyalurannya harus melalui kebijakan pemerintah," kata Irto.

Melihat kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat dalam be-berapa waktu terakhir yang berada pada titik mengkhawatirkan, kita semua tentu sepakat jika rencana pemerintah untuk mengha-pus BBM jenis Pertalite dan diganti dengan Pertamax Green harus dibatalkan (bukan ditunda). Sebab, penghapusan Pertalite secara langsung akan menambah beban atau biaya hidup sehari-hari ma-syarakat. Mengingat Pertalite merupakan jenis BBM yang paling banyak digunakan oleh masyarakat--terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah--maka rencana pemerintah untuk mengurangi kuotanya atau menghapus pun harus dilakukan secara hati-hati serta mempertimbangkan banyak hal termasuk efek yang akan timbul jika BBM jenis tersebut benar-benar dihapus.

Walau kita sadari tentang perlunya pergeseran konsumsi BBM dari yang beroktan rendah ke oktan tinggi karena BBM dengan ka-dar oktan rendah sudah jarang digunakan di banyak negara, tapi hal itu tak bisa dilakukan secara serta merta, tergopoh-gopoh atau terburu-buru, serta tanpa mempertimbangkan efeknya. Kalaupun pemerintah harus menghapus Pertalite dengan sejumlah alasan yang dapat diterima logika, tapi pemerintah juga harus mampu menghadirkan BBM jenis lain yang harganya sama dengan Pertali-te. Sehingga, kebijakan yang diambil tersebut tidak membuat bia-ya hidup masyarakat ‘membengkak.’ Jika hal itu tidak menjadi per-timbangan, bukan tak mungkin buntut dari penghapusan Pertalite bisa menimbulkan gejolak.

Pemerintah juga harus mencari jalan lain agar setiap kebijak-an yang diambil dalam bidang energi (seperti rencana mengha-pus Pertalite dan menggantinya dengan Pertamax Green) dapat diterima oleh masyarakat. Sebagai contoh, pemerintah bisa me-ninjau kembali subsidi yang dialokasikan untuk elpiji 3 kilogram (Kg). Sebab, hingga saat ini distribusi ‘gas melon’ tersebut be-lum benar-benar tepat sasaran. Buktinya, masih banyak masya-rakat ekonomi kelas menengah ke atas yang ikut menikmati gas untuk rakyat miskin tersebut. Dengan kondisi itu, alangkah baiknya jika sebagian subsidi elpiji 3 Kg dialihkan untuk BBM jenis baru pengganti Pertalite, sehingga kebijakan baru tersebut nantinya tidak menambah beban masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah.

Dalam konteks yang lebih luas, rencana menghadirkan Perta-max Green sebagai BBM jenis baru pengganti Pertalite, secara ti-dak langsung bisa membuat beban negara semakin berat. Sebab, jika bioetanol yang dijadikan bahan campuran dalam Pertamax Green tidak cukup produksinya dalam negeri, maka harus diimpor. Jika itu dilakukan, negara akan rugi karena defisit transaksi migas makin membengkak. Karena itulah, sekali lagi wacana penghapus-an Pertalite agar segera dihentikan atau dibatalkan. (*)

POJOK

Pengantin baru diingatkan urus dokumen adminduk
Untuk calon pengantin pria, jangan lupa bahwa sekarang hanya emas sangat mahal. He..he..he…

Israel terus menyerang, 300 ribu orang tinggalkan Rafah
Kalau berhenti menyerang dan mau berdamai dengan Palestina itu bukan Israel namanya kan?

Komposisi pansel capim KPK disoal
Selama ini, pimpinan KPK aja bermasalah kan?

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved