Citizen Reporter

Lautan Manusia Tumpah ke Tanah Haram

Labbaik Allaahumma labbaik, labbaka laa syarika labbaik, innal hamdaa wani'mata lakaa wakmulk, laasyarii-kalak.

Editor: mufti
IST
M. ZUBAIR, M.H., Jemaah Haji Kloter 2 BTJ asal Bireuen, melaporkan dari Mekkah al-Mukarramah, Saudi Arabia 

M. ZUBAIR, M.H., Jemaah Haji Kloter 2 BTJ asal Bireuen, melaporkan dari Mekkah al-Mukarramah, Saudi Arabia

Labbaik Allaahumma labbaik, labbaka laa syarika labbaik, innal hamdaa wani'mata lakaa wakmulk, laasyarii-kalak.

"Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan segenap kekuasaan itu adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu."

Memenuhi panggilan Allah seperti talbiyah di atas— dalam rangka melaksanakan rukun Islam kelima— jutaan manusia pun hadir tumpah ruah ke Mekkah al-Mukarramah untuk dapat bersimpuh dan menumpahkan air mata memohon ampun kepada Allah Swt di depan Baitullah, tempat mustajab doa. Pelaksanaan ibadah haji yang hanya dapat dilakukan setahun sekali pada bulan Zulhijah maka semua umat Islam yang sudah mampu berupaya untuk dapat memenuhi panggilan Allah berhaji.

Amatan saya pada malam tanggal 6 Juni lalu di pelataran Zamzam Tower yang merupakan salah satu pintu masuk ke Masjidil Haram, jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia berduyun-duyun datang ke Masjidil Haram untuk melakasnakan umrah dan sebagiannya lagi yang sudah melaksanakan umrah hadir untuk melakasanakan shalat fardu berjemaah.

Mereka berebut hadir unt shalat fardu berjemaah di Masjidil Haram karena sekali shalat di Masjidil Haram pahalanya 100.000 kali lipat daripada shalat di mesjid lainnya di mana pun.

Oleh sebab itu, jutaan manusia dari seluruh belahan dunia rela berdesak-desakan unt memperoleh ganjaran pahala yang tiada taranya.

Terpantau juga karena tidak tertampung semua di dalam masjid ketika azan berkumandang maka jemaah terus mengatur saf di pelataran masjid, di depan pertokoan, bahkan di jalan untuk bisa shalat berjemaah mengikuti imam di dalam masjid. Sungguh luar biasa tanpa melihat status sosial semua anak Adam besimpuh bersama memohon keampunan kepada Allah Swt.

Area pelataran dan tempat parkir serta ruas-ruas jalan digunakan sebagai tempat shalat dan semua aktivitas waktu shalat dihentikan sementara. Kesadaran tersebut memang timbul pada diri sendiri masyarakat Arab yang harus diikuti pendatang. Di sini tergambarkan semua kita adalah sama di mata Allah, tidak ada si kaya dan si miskin, tidak ada pejabat dan masyarakat biasa, semua bersatu  dalam satu ikatan ukhuwah islamiah.

Membeludaknya manusia bak lautan luas yang membanjiri Kota Mekkah di bulan Zulhijah memanifestasikan miniatur Padang Mahsyar yang berkumpul seluruh manusia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama hidup di dunia.

Hal ini juga akan lebih tampak lagi nanti ketika wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah dan Muzdhalifah serta Mina karena semua jemaah dari seluruh penjuru dunia tumpah ruah ke sana dengan polah tingkah masing-masing.

Bahkan, menurut cerita jemaah yang menuaikan ibadah haji tahun-tahun sebelumnya, di sana akan terlihat kebiasaan-kebiasaan jemaah selama di kampungnya masing-masing.

Oleh sebab itu, sebelum berangkat ke Tanah Suci, ustaz-ustaz tempat manasik selalu mengamanahkan kepada jemaah untuk bertobat dengan sebenar-benar tobat sehingga setiba di Tanah Suci akan suci dirinya dan Allah tutup aibnya.

Amatan saya pada 6 Juni saja Masjidil Haram sudah jadi lautan manusia, bagaimana lagi pada tanggal 9 Zulhijah dan selanjutnya saat semua jemaah dari berbagai negara di dunia dengan bermacam bahasa akan tumpah ruang ke Padang Arafah. Namun, semua itu setiap tahunnya dengan rahmat Allah seluruh ritual ibadah haji dapat berjalan lancar, sempurna, dan aman.

Hadis Rasulullah menegaskan, "Haji mambrur tiada lain balasannya kecuali surga.” Dengan demikian, seluruh muslim di seluruh penjuru dunia berhamburan  ke Masjidil Haran yang berada di Mekkah al-Mukarramah untuk melaksanakan ibadah haji dengan harapan memperoleh haji mabrur sebagai bekal masuk ke surga-Nya Allah.

Walaupun ibadah haji merupakan ibadah fisik yang melelahkan, tetapi bila dijalankan dengan ikhlas dan meresapi makna dari setiap rangkaian kegiatan ibadah maka kelelehan itu akan hilang karena haji mabrur sudah di depan mata.

Semoga jutaan maunusia yang hadir ke tanah suci tahun ini untuk melaksanakan ibadah haji dapat memperoleh haji mabrur. Amiin.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved