Citizen Reporter
Kisah Penting di Balik Tawaf Ifadah
Hal ini saya suarakan bukan karena saya perempuan, melainkan karena Islam telah meletakkan fondasi yang kuat dan memberi pengakuan peran perempuan.
AMRINA HABIBI, S.H., M.H., Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh, melaporkan dari Makkah Al-Mukarramah, Saudi Arabia
Sabtu, 22 Juni 2024, pukul 08.05 Waktu Arab Saudi (WAS) saya dan dua orang teman sekamar yang usianya 10 dan 20 tahun di atas saya melangkahkan kaki menuju Masjidil Haram dengan tujuan melaksanakan tawaf ifadah.
Tawaf ini merupakan rukun haji yang dikerjakan setelah lewat tengah malam sesudah wukuf di Arafah, yakni mulai tanggal 10 Zulhijah sampai kapan saja, tetapi dianjurkan di hari-hari tasyrik atau masih dalam bulan Zulhijah.
Tawaf ifadah yang kami lakukan agak terlambat karena pulang dari Armuzna banyak jemaah haji, termasuk saya, mengalami demam dan batuk.
Kami menaiki Bus Selawat yang tidak berbayar dan ternyata dalam bus sudah penuh dengan jemaah dari Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Selama dalam bus, pembimbing ibadah mereka terus memimpin bacaan talbiyah "Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk. La syarika laka" dengan irama dan terasa sangat syahdu. Tanpa terasa bus sudah sampai di terminal.
Dari segi usia, jemaah Trenggalek yang kami ikuti terlihat hampir semua lanjut usia (lansia) dan dipandu dengan sangat rapi. Berkali-kali mereka berhenti supaya tidak ada yang tertinggal, satu pemandangan yang menyejukkan buat kami bertiga.
Pelaksanaan tawaf ifadah serta doa-doa yang kami bacakan sama halnya dengan rukun umrah yang sudah kami laksanakan pada saat awal kedatangan di Kota Makkah Al-Mukarramah.
Suasana batin saya saat melaksanakan tawaf kali ini selalu dibayangi oleh perjuangan Siti Hajar, perempuan hebat. Seorang hamba sahaya yang telah dimerdekakan dan menjadi istri Ibrahim. Dalam usia tua, melalui doa yang khusyuk, Ibrahim selalu meminta diberi keturunan yang saleh, "Rabbi habli minas shalihin."
Hajar sebagai pasangan Ibrahim telah membuktikan kepada dunia dan menghapus stigma bahwa perempuan itu penggoda dan juga tidak mudah tergoda. Hajar rela pergi agar keutuhan rumah tangga Ibrahim dengan Sarah tetap terjaga. Saat Ibrahim meninggalkannya di lembah yang sunyi, kering, gersang, dan tanpa kehidupan, Hajar telah menunjukkan totalitas dan integritasnya sebagai pendamping suami dan semua terjadi atas ketetapan Allah. Dan, Hajar menerimanya dengan sepenuh keikhlasan karena keyakinannya akan keberadaan Allah tangguh sangat digdaya (tak tergoyahkan).
Tawaf ifadah juga dikengkapi dengan sai dari Bukit Safa ke Marwa dengan tujuh kali perjalanan, dimulai dari Safa dan berakhir di Marwa. Perjalanan yang kami lakukan terasa masih berat karena ramainya jemaah dari seantero dunia yang juga sedang sai. Perjuangan saya dan jemaah lain untuk menyelesaikan sai sebenarnya sungguh sudah sangat dimudahkan karena Bukit Safa dan Marwa telah diberi dinding, dikasih atap, pakai penyejuk ruangan, dan air zamzam pun tersedia pada beberapa titik yang bisa kita konsumsi sebagai pelepas dahaga.
Sementara Hajar dulu berjuang sendiri tanpa teman. Hanya Ismail kecil, dalam gelap, kesepian tanpa teman, dan saat Ismail menangis kehausan, Hajar berjuang dengan berlari-lari kecil mencari sumber air dan matanya tetap awas memperhatikan Ismail dan Mahakaya Tuhan ternyata air keluar dari entakan kaki Ismail. Kalaulah Hajar tidak berinisiatif menggali tanah dan membuat kolam dan menciduk air maka sungguh mungkin Mahasuci Allah air itu akan terus mengalir dan zamzam yang berarti "berhenti mengalir" menjadi mukjizat yang dinikmati oleh
semua orang hingga kini. Siapa pun yang meminum air zamzam sunah untuk membaca doa, "Ya Allah aku mohon kepada-Mu ilmu pengetahuan yang bermamfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala penyakit dan kepedihan. Dengan rahmat-Mu ya Allah Yang Maha Pengasih dari Segenap Pengasih."
Simbol merdeka
Hajar adalah simbol perempuan merdeka yang luar biasa, ibu mata air kehidupan. Sungguh Hajar dari beberapa dialognya dengan Ibrahim telah menunjukkan bahwa Hajar adalah wanita cerdas, mengasuh dengan penuh kasih sayang, memiliki keteladanan dan ketika ada rombongan yang singgah ke Bukit Safa dan Marwa membersamai Hajar dan Ismail, Hajar telah memerankan fungsi negosiator bahwa mereka boleh tinggal di situ, tapi tak ada hak untuk menguasai air.
Sekilas saya jadi teringat bagaimana tokoh- tokoh perempuan Aceh juga terlibat dalam proses perundingan damai atau peran lainnya dalam merawat perdamaian dan kemudian di-legacy kuat dalam sebuah pasal pada Undang-Undang Pemerintahan Aceh, yaitu Pasal 231 ayat (1) yang menyebutkan bahwa Pemerintah, Pemerintah Aceh, dan pemerintah kabupaten/kota, serta penduduk Aceh berkewajiban memajukan dan melindungi hak-hak perempuan dan anak, serta melakukan upaya pemberdayaan yang bermartabat. Apakah itu sudah terpenuhi dengan komprehensif, khususnya soal keterwakikan perempuan saja pada berbagai posisi strategis baik eksekutif, legislatif, dan yusikatif? Tentu jika merujuk kepada hasil pemilu kemarin kita berkecil hati, tapi insyaallah pada level eksekutif semoga akan menjadi sebuah komitmen baru pada kepemimpinan gubernur sekarang atau yang akan datang.
Hal ini saya suarakan bukan karena saya perempuan, melainkan karena Islam telah meletakkan fondasi yang kuat dan memberi pengakuan peran perempuan. Bahkan, dalam setiap dakwah Nabi Muhammad saw., peran Khadijah istri nabi bukan hanya pemodal dan lambang, melainkan punya peran penting dan strategis. Ibarat dua sayap yang saling melengkapi dan menyempurnakan dengan pembagian peran yang adil dan harusnya menjadi iktibar bagi kita semua. Wallahu 'alam bis-sawaf.
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Penulis CR
Kisah Penting di Balik Tawaf Ifadah
AMRINA HABIBI
| Berharap Desa Bebas dari Isolasi: Pengungsi Etnik Jawa, Gayo dan Aceh Eksodus di SMPN 32 Aceh Tengah |
|
|---|
| Obat-Obatan Masa Depan, dari Molekul Kimia Menjadi Harapan Baru bagi Pasien |
|
|---|
| Menulis Artikel tentang Dominasi Perempuan di Gereja Katolik, Mahasiswi UIN Ar-Raniry Diapresiasi |
|
|---|
| Liburan ke Sumatera Selatan, Dari Teluk Betung Hingga Palembang, Banyak Tradisi Banyak Pula Cerita |
|
|---|
| Dari Pertemuan FKUB: Perempuan di Garda Terdepan Pemulihan Pasca-Bencana Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AMRINA-HABIBI-SH-MH-BARU-LAGI.jpg)