Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Perjalanan Seorang Pendidik, dari Caleu ke California

Saya merasa beruntung mendapatkan penempatan di California karena konon kota-kota di negara bagian ini semisal San Francisco dan Los Angeles merupakan

Tayang:
Editor: mufti
IST
MARTHUNIS, M.A 

MARTHUNIS, M.A., Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie dan Anggota FAMe Chapter Pidie, melaporkan dari California, Amerika Serikat

Berdomisili di Caleu, Pidie, sejak tahun 2012 sebagai guru di Sekolah Sukma Bangsa Pidie, saya sering bergurau jika ditanyai tinggal di mana, jawabannya adalah  di "Caleufornia".

Kadarullah, ternyata gurauan tersebut benar-benar mengantarkan saya ke California, Amerika Serikat (AS), tahun ini. Saya lolos menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam program pertukaran Study of the U.S. Institute (SUSI) for Secondary Educators 2024. Sebuah program pertukaran guru, pendidik, dan para pimpinan sekolah dari seluruh dunia yang didanai penuh oleh Departemen Luar Negeri AS, Bidang Pendidikan dan Kebudayaan.

Program SUSI for Secondary Educators 2024 ini membawa serta 60 orang guru, pendidik, dan para pimpinan sekolah dari 60 negara berbeda yang dikelompokkan pada tiga penempatan yang berbeda pula: The University of Montana (UM) di Missoula sebanyak 20 orang, The Institute for Training and Development (ITD),  Amherst, Massachusetts, sebanyak 20 orang, dan 20 lainnya di California State University, Chico.

Saya termasuk ke dalam rombongan yang ditempatkan di Kota Chico, California.

Saya merasa beruntung mendapatkan penempatan di California karena konon kota-kota di negara bagian ini semisal San Francisco dan Los Angeles merupakan dua dari beberapa kota di AS yang terkenal ramah terhadap muslim selain New York, New Jersey, Chicago, Houston, Dallas, dan Philadelphia.

Penempatan saya tidak persis di Kota San Francisco, melainkan di Kota Chico yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan darat dari San Francisco. Kota ini merupakan kota kecil di utara California yang dihuni oleh banyak imigran dari Meksiko, Tiongkok, Taiwan, dan sebagian kecil dari Timur Tengah sehingga Chico juga ramah bagi pendatang dari berbagai belahan dunia, termasuk muslim.

Meskipun komunitas muslim di kota ini terbilang kecil, tetapi terdapat sebuah masjid yang telah berdiri sejak tahun 1979 bernama Islamic Center of Chico (ICC) yang menjadi pusat kegiatan muslim di kota tersebut.

Dalam salah satu sesi perkuliahan yang diselenggarakan oleh program SUSI 2024, kami dipertemukan dengan para imigran dari beberapa negara yang telah menetap di Chico selama belasan hingga puluhan tahun. Sebagian besar di antara mereka bahkan telah menjadi warga negara AS. Mereka bercerita tentang pengalaman serta perjalanan sebagai imigran hingga akhirnya secara resmi mendapatkan kewarganegaraan AS.

Dalam sesi itu saya juga bertemu dengan salah seorang mahasiswi asal Palestina yang mengenakan cadar, ikut membagikan ceritanya sebagai imigran di AS. Dia telah tinggal di AS selama belasan tahun. Awalnya tidak mudah baginya ketika pindah dari Palestina ke AS. Menemui banyak ‘culture shock’ dan ragam penyesuaian yang harus dilakukan. Perlahan tapi pasti, karena Konstitusi AS menjamin kebebasan dan keberagaman dengan sangat baik, dia tidak perlu canggung menunjukkan identitasnya sebagai muslimah di hadapan publik.

Sejauh ini dia merasa sangat aman dan nyaman berhijab dan bercadar di AS. Meskipun tetap saja ada oknum-oknum yang, menurutnya, rasis. Namun, secara kolektif masyarakat AS sangat menghargai perbedaan dan keberagaman, seperti halnya di Kota Chico.

Oleh karena itu, selama beberapa pekan terakhir saya berada di kota ini, orang-orang yang saya temui sangatlah ramah dan tidak sulit bagi saya menemukan makanan halal di sini. Terdapat juga restoran-restoran Asia dengan harga yang masih tergolong miring.

Kemudian, selama berada di California, selain Kota Chico, saya berkesempatan mengunjungi dua kota lainnya: San Francisco dan Sacramento. Ketiga kota ini memiliki keunikan masing-masing. Chico dikenal sebagai "kota pohon", karena kota ini memiliki banyak sekali pohon rindang di sepanjang jalanan kota. Sehingga, dengan musim panas seperti saat ini di California yang bisa mencapai 40 derajat Celsius, banyaknya pepohonan rindang sangat membantu pejalan kaki menghindari matahari yang menyengat.

Kota ini juga terkenal dengan sektor pertaniannya, khususnya tanaman almond dan walnut yang diekspor ke negara-negara Uni Eropa, Cina, dan India.

Berbeda dengan Chico yang relatif sepi dan tenang, San Fransisco adalah kota yang sibuk dan ramai karena kota ini memang menjadi salah satu primadona tujuan wisata di AS. Terdapat banyak sekali objek wisata di kota ini, selain Jembatan Golden Gate, Lombard Street, Twin Peaks.

Terdapat pula penjara Alcatraz yang melegenda itu. Sebuah penjara di pulau kecil yang dikelilingi lautan seperti halnya Nusakambangan di Indonesia. Penjara ini telah ditutup oleh Pemerintah AS pada tahun 1963 dan saat ini dibuka umum sebagai tempat wisata.

Lalu Sacramento juga memiliki ciri khas tersendiri. Sebagai ibu kota dari California yang merupakan negara bagian dengan populasi terbesar di AS, kota ini tidak setenar San Fransisco, Los Angeles, dan San Diego.

Sebagai kota yang telah berdiri sejak tahun 1848, Sacramento tidak bersolek menjadi kota metropolis dengan gedung-gedung pencakar langit sebagaimana lazimnya ibu kota. Hanya terdapat beberapa gedung tinggi di pusat kota. Namun, kota ini cukup indah dengan bangunan-bangunan neoklasik di beberapa sudut kota seperti Gedung Kongres California yang mirip dengan Gedung Capitol Hill di Washington DC.

Ronald Reagan, Presiden Ke-40 AS dulu sempat berkantor di Sacramento ketika menjabat sebagai Gubernur Ke-33 California (1967-1975).

Rasanya, perjalanan ke California melalui program SUSI for Secondary Educators 2024 benar-benar menjadi pengalaman transformatif bagi saya sebagai seorang pendidik.

Lebih dari sekadar perjalanan dan pengalaman akademis, saya menjadi lebih mengenal ruang publik dan kehidupan sosiokultural AS secara lebih dekat, sisi pendidikan yang berkeadilan bagi komunitas masyarakat, serta lingkungan inklusi yang begitu matang di tengah-tengah masyarakatnya.

Semoga semua praktik baik yang saya temui di sini dapat saya bawa pulang, mengadopsinya, dan mengimplementasikannya sesuai dengan konteks pendidikan Aceh, setidaknya dapat saya mulai di sekolah saya sendiri. Wallahu a’lam.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved