Kajian Islam
Pendapat Tentang Suro atau Muharram Bulan Malapetaka, Buya Yahya : Suudzon Kepada Allah
Pendakwah Buya Yahya menjawab soal bulan Suro atau Muharram yang dikaitkan dengan bulan sial, keramat atau bulan pembawa malapetaka.
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Muhammad Hadi
"Hari Allah itu semua baik, hari jelek itu hanya satu. Yaitu waktu Anda bermaksiat, melanggar Allah, itu adalah hari jelek," jelas Buya Yahya. Ia mengatakan tak ada hari atau bulan sial.
Begitu pula soal mitos yang tersebar di masyarakat soal larangan menikah di bulan Muharram atau Suro adalah hal yang dilarang.
Justru kata Buya, menikah tidak ada larangan pada bulan-bulan tertentu. Semakin cepat dilaksanakan suatu pernikahan maka semakin baik tanpa harus menunggu bulan-bulan yang dianggap baik.
Bulan Muharram atau Suro disebut bulan malapetaka berlaku di daerah Jawa, padahal ini merupakan anggapan yang salah.
Baca juga: Bukan karena Skincare, Buya Yahya Ungkap Rahasia agar Istri Terlihat Cantik dari Resep Alquran
Justru sebaliknya, bulan Muharram atau Suro ini adalah bulan yang pernuh berkah dan dianjurkan banyak melakukan amalan-amalan sunnah.
"Kebalikannya, itu bulan penuh rahmat (bulan muharram). Bulan Allah ada 12, 4 diantaranya adalah bulan haram, diantaranya adalah bulan muharram bulan haram, bulan yang dimuliakan, bukan bulan mala petaka," tegas Buya Yahya.
Adapun anggapan yang mengatakan bulan Muharram atau Suro adalah bulan sial, itu adalah kepercayaan yang salah, kepercayaan atau kebohongan yang berasal dari dukun.
Apabila seseorang yang mempercayainya, justru orang tersebut telah berburuk sangka kepada Allah.
"Gak ada itu jangan percaya yang demikian, ada berita-berita, itu adalah suudzan kepada Allah yang mengatakan hari naas.
Semua bulan itu adalah bulan baik, bulan mulia, selesai gak ada itu, jangan percaya yang lain, itu hanyalah bualan dukun," tegas Buya Yahya.
Baca juga: Bolehkah Perempuan Shalat Dzuhur Sebelum Shalat Jumat Selesai? Buya Yahya Ungkap Waktu yang Tepat
Buya melanjutkan bahwa semua hari adalah hari baik, hari yang bagus untuk melaksankan ibadah.
Sementara hari jelek itu hanya satu, bukan Muharram atau Suro tetapi hari jelek itu adalah hari dimana kita melakukan kemaksiatan.
"Hari jelek adalah hari dimana kita melakukan kemasiatan," imbuh Buya Yahya.
Jika tiba bulan Muharram atau Suro, justru kita semakin dianjurkan melakukan aktivitas yang positif dan amalan sunnah lannya seperti anjuran puasa yaitu puasa asyura, tasu'a hingga puasa ayyamul bidh.
"Bulan muharram adalah bulan istimewa maka lakukan puasa, Muharram untuk puasa. Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah bulan Muharram," pungkas Buya Yahya.
(Serambinews.com/Firdha Ustin)
| Suami Tak Mampu Memberi Nafkah, Bolehkah Istri Menolak Melayani? Ini Penjelasan Buya Yahya |
|
|---|
| Buya Yahya Kritik Keras Tradisi Minta Sorban hingga Cincin Ulama untuk Ngalap Berkah: Rampok Halus |
|
|---|
| Buya Yahya Ungkap Bahaya Membuka Aib Zina kepada Anak, Bisa Berdampak pada Masa Depannya |
|
|---|
| Punya Masa Lalu Zina, Perlukah Mengaku kepada Calon Suami atau Istri? Ini Penjelasan Buya Yahya |
|
|---|
| Istri Sering Chat dengan Pria Lain? Buya Yahya Beri Peringatan soal Bahaya yang Mengintai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Buya-Yahya-menjelaskan-soal-hukum-kurban-patungan.jpg)