Citizen Reporter
Pesona Kota Ta'if Masa Kini
Ketika di Ta'if, Rasulullah Saw mendatangi para pemuka dan menyampaikan dakwahnya. Sayangnya, tak seorang pun dari mereka yang merespons positif dakwa
AMRINA HABIBI, S.H., M.H., Kabid Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, melaporkan dari Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi
SAYA bersama 49 kawan sejak pukul 07.00 waktu Arab Saudi (WAS) pada hari Kamis lalu jalan naik bus dua tingkat yang cukup nyaman menuju Kota Ta'if. Ta’if (bahasa Arab: الطائف, translit. aṭ-Ṭā’if) adalah kota di Provinsi Makkah, Arab Saudi, pada ketinggian 1.700 meter di lereng Pegunungan Sarawat dan pada setiap musim panas, Pemerintah Saudi pindah dari panasnya Riyadh ke Ta'if. Kota ini juga merupakan pusat areal agrikultur yang terkenal akan anggur dan madunya.
Terasa benar perjalanan ziarah kali ini sangat menyenangkan walaupun akan ditempuh dengan jarak 120 km. Kata pemandu, agak sedikit lebih lama jika dibandingkan dengan bus kecil yang bisa melewati jalan pintas, tapi terjal. Namun, walaupun lama tidaklah terasa karena pemandu sangat menarik dalam memberikan ragam informasi penting dan pastinya selalu ada doa-doa dan juga shalawat-shalawat indah yang dilantunkan sampai perjalanan pun berhenti pada titik pertama yaitu Masjid Abdullah bin Abbas. Di sini kami shalat Duha dua rakaat dan kemudian melihat makam Ibnu Abbas walaupun hanya melalui pagar yang sudah diberi dinding tinggi, tapi tak menyurutkan semangat rombongan untuk mengirimkan doa dan serasa perjuangannya hidup bersama jamaah.
Ta'if memiliki suhu yang dingin. Kotanya hijau dan bahkan ada taman- taman yang cukup menyejukkan mata dan di luar Masjid Ibnu Abbas kami bisa belanja aneka ragam buah yang cukup segar dan beli satu, cicip banyak-banyak dan tetap halal. Selain itu, banyak mobil es krim yang juga sangat menggugah selera dan semua bisa dibeli dengan harga mulai 5 rial atau setara dengan uang dua puluh ribu rupiah.
Di kota ini juga saya menemukan dan belanja beberapa buah delima Makkah yang dulu orang kampung saya kalau berhaji pasti pulangnya bawa "geulima Makkah". Hajat hati terpenuhi ketika geulima Makkah sudah berpindah ke tas tangan yang saya bawa hari ini.
Ta'if menorehkan cerita berharga dalam sejarah kenabian Muhammad Saw. Mengutip dari buku ‘Saat-Saat Rasulullah Bersedih oleh Majdi Muhammad Asy-Syahawi,’ dikisahkan mengenai dakwah Nabi Muhammad di Ta'if dan kisah ini diriwayatkan dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im. Bahwa seusai wafatnya Abu Thalib, orang-orang Quraisy tak segan lagi menyakiti Nabi Muhammad. Karenanya, beliau memutuskan pergi ke Ta'if untuk berdakwah dengan ditemani Zaid bin Haritsah r.a.
Ketika di Ta'if, Rasulullah Saw mendatangi para pemuka dan menyampaikan dakwahnya. Sayangnya, tak seorang pun dari mereka yang merespons positif dakwah beliau. Selain berdakwah, kedatangan Nabi Muhammad Saw di Ta'if juga bertujuan memohon perlindungan kepada suku Tsaqif dari tekanan yang ia peroleh di Makkah sepeninggal Abu Thalib. Betapa beratnya perjuangan Rasulullah dan kita saat ini ke Ta'if untuk rihlah karena Ta'if telah menjadi destinasi wisata dan yang paling membahagiakan adalah ketika sepanjang jalan kita dapatkan banyak sekali wahana bermain anak-anak di mana dalam terminologi kedinasan saya dikenal dengan nama Ruang Bermain Ramah Anak dan apakah benar ramah? Secara kasat masat jika melihat pada sistem pengelolaan sepertinya sudah ramah anak, pun begitu yang paling afdal adalah membuktikannya secara langsung. Dil ain sisi taman- taman kecil yang diisi dengan banyak alat permainan juga terdapat di banyak tempat. Sepertinya kota ini ramah dan layak kepada anak dan otomatis layak kepada semua orang.
Menjelang Zuhur, kami keluar dari arena masjid menuju restoran di daerah Hada, tempat kami akan menikmati nasi mandi yang dimakan beramai-ramai di dalam talam besar ditambahi dengan suguhan kopi susu atau teh susu yang terasa sangat nikmat di lidah. Orang arab sangat jeli memanfaatkan peluang bisnis, lagi-lagi di rumah makan ini ada banyak tawaran makanan, buah, baju, beragam akesori, boneka, bahkan parfum siap menguras kocek Anda. Namun, mareka juga memberikan keleluasaan menikmati tester dengan tawaran halal-halal, begitu perkataan salesnya melancarkan aksi. Sebuah peluang bisnis yang sangat rapi dan pastinya memberikan keuntungan ganda.
Pusaran bisnis minyak wangi dengan bahan utama bunga mawar juga menjadi ikon di Kota Ta'if dan pasti jamaah Indonesia tak segan merogoh kocek untuk membeli biang mawar asli dan produk turunannya. Semoga minyak nilam kita pun yang gencar diproduksi oleh ARC Universitas Syiah Kuala akan menjadi ikon wisata yang siap membuka lapangan kerja dan menambah income pendapatan daerah seperti di Ta'if.
Ibarat pengantin baru, hampir semua jamaah tidak melewatkan untuk menaiki unta yang sudah dihias dengan tarif 20 rial, tapi dengan waktu yang sangat singkat. Sebuah pengalaman berharga yang sungguh sangat berkesan dan ziarah kali ini juga semakin sempurna karena kami bisa mengambil mikat untuk umrah sunat dan dari awal sudah diwanti-wanti bagi yang mau umrah sunat hendaknya mandi dan memakai pakaian ihram dan shalat sunat dua rakaat dan kemudian mengambil mikat. Mikat kita ambil di Masjid Qarnul Manazil atau nama lain saat ini adalah Masjid Al Said Al Kabir dan saat di masjid ini kami menikmati 'sunset' yang sungguh indah karena memang wkatunya sudah senja dan menjelang magrib.
Perjuangan Rasulullah Saw sudah kita rasakan sejak di dunia dan subhanallah semoga kita termasuk pengikut Rasullah yang akan mendapat syafaat di hari akhir nanti. (*)
| Berharap Desa Bebas dari Isolasi: Pengungsi Etnik Jawa, Gayo dan Aceh Eksodus di SMPN 32 Aceh Tengah |
|
|---|
| Obat-Obatan Masa Depan, dari Molekul Kimia Menjadi Harapan Baru bagi Pasien |
|
|---|
| Menulis Artikel tentang Dominasi Perempuan di Gereja Katolik, Mahasiswi UIN Ar-Raniry Diapresiasi |
|
|---|
| Liburan ke Sumatera Selatan, Dari Teluk Betung Hingga Palembang, Banyak Tradisi Banyak Pula Cerita |
|
|---|
| Dari Pertemuan FKUB: Perempuan di Garda Terdepan Pemulihan Pasca-Bencana Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AMRINA-HABIBI-SH-MH-BARU-LAGI.jpg)