Pilkada Aceh 2024

Pilkada Aceh 2024, Akademisi: Tak Boleh Jelekkan Calon Lain, Syarat Jadi Pemimpin Keteladanan

Jelang Pilkada Aceh 2024, Akademisi UIN Ar-Raniry menyampaikan, tak boleh menjelek-jelekkan calon lain karena syarat jadi pemimpin adalah Keteladanan.

Penulis: Sara Masroni | Editor: Muhammad Hadi
YouTube Serambinews
Dekan FISIP UIN Ar-Raniry, Dr Muji Mulia MAg (kiri) dalam program Serambi Spotlight dipandu News Manajer Serambi Indonesia, Bukhari M Ali di Studio Serambinews.com, Rabu (24/7/2024). Menurutnya, jelang Pilkada Aceh 2024 tak boleh menjelek-jelekkan calon lain, karena syarat jadi pemimpin adalah Keteladanan. 

SERAMBINEWS.COM - Menjelang Pilkada Aceh 2024, para kandidat bakal calon gubernur, bupati dan wali kota diminta agar berjiwa besar, berkampanye secara fair dan kompetitif.

Hal itu sebagaimana disampaikan Akademisi sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Ar-Raniry, Dr Muji Mulia MAg dalam program Serambi Spotlight dipandu News Manajer Serambi Indonesia, Bukhari M Ali di Studio Serambinews.com, Rabu (24/7/2024).

Dikatakannya, berkampanyelah secara elegan dengan mengedepankan track record. Terlebih di era kemajuan teknologi seperti sekarang, setiap sosok akan mudah terlacak rekam jejak atau jejak digitalnya. 

"Untuk itu, tidak boleh menjelek-jelekkan calon yang lain, karena salah satu syarat menjadi pemimpin adalah keteladanan," kata Dr Muji.

Baca juga: Tu Sop atau HRD, ke Mana Arah Dayah di Pilkada Aceh 2024

Baca juga: Bustami Hamzah: Aceh Butuh Orang Profesional yang Berpikir ke Depan, Tidak Diselingi Kepentingan

Di sisi lain, menurutnya Aceh butuh pemimpin cerdas, punya jiwa kepemimpinan yang baik, visioner, punya visi betul-betul memajukan Aceh ke depan mengingat daerah ini masih bermasalah dari lini kesejahteraan, kesehatan serta berbagai permasalahan lainnya.

"Dan pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang bisa memenej bawahannya. Top leader itu bukan dia yang lakukan, tapi bawahannya dengan kemampuan leadership," ungkap Muji.

 

 

Dekan FISIP UIN Ar-Raniry itu juga menyampaikan, bila melihat perdamaian Aceh pasca-konflik dalam konteks luas, tujuannya adalah agar masyarakat makmur dan sejahtera.

"Pemimpin ke depan punya tanggung jawab itu, menjaga perdamaian melalui kesejahteraan masyarakat," tambahnya.

Baca juga: Prof Saiful: Banda Aceh Butuh Wali Kota Baru yang Solutif dan Progresif, Agar Tak Tertinggal

Dia melanjutkan, setidaknya ada empat syarat khusus menjadi pemimpin supaya Aceh benar-benar sejahtera ke depan.

Pertama, pemimpin Aceh benar-benar mempunyai jiwa keacehan. Kedua, harus mengetahui kondisi dan permasalahan di lapangan, sehingga nanti bisa memberikan solusi nantinya.

Ketiga, orang-orang yang punya koneksi atau jaringan ke pusat. Keempat, harus menjadi mandataris syariat Islam.

"Saya melihat kepemimpinan Aceh ke depan minimal ada empat syarat khusus ini, supaya Aceh benar-benar maju dan sejahtera," pungkasnya.

(Serambinews.com/Sara Masroni)

BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved