Perang Gaza
Tak hanya Membunuh, Netanyahu juga Tolak Izin Berobat 150 Anak Gaza yang Sakit Parah ke UEA
Anak-anak Palestina yang sakit itu seharusnya berangkat melalui pangkalan udara Ramon di gurun Naqab (Negev) ke negara Teluk, yang dengannya Israel me
SERAMBINEWS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan menolak izin sekitar 150 anak Palestina yang sakit dari Gaza untuk mencari perawatan medis di luar negeri, media Israel melaporkan pada hari Minggu.
Keputusan itu diambil setelah serangan mematikan di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel menewaskan sedikitnya 12 anak berusia antara 10 dan 16 tahun di kota Majdal Shams pada hari Sabtu.
Lembaga penyiaran Israel Kan mengatakan pada hari Minggu bahwa sekelompok anak-anak yang sakit seharusnya berangkat dari Gaza ke Uni Emirat Arab melalui Israel pada hari Senin, tetapi setelah insiden Majdal Shams, Perdana Menteri Netanyahu memerintahkan keberangkatan mereka untuk ditunda.
Anak-anak Palestina yang sakit itu seharusnya berangkat melalui pangkalan udara Ramon di gurun Naqab (Negev) ke negara Teluk, yang dengannya Israel menormalisasi hubungan diplomatik di tengah Perjanjian Abraham yang kontroversial pada tahun 2020.
Baca juga: VIDEO Kekuatan Militer Turki 2x Lipat Israel, Ankara Invasi Pakai Senjata Canggihnya
Penyiar tersebut gagal menyebutkan apakah tanggal baru yang memungkinkan anak-anak yang sakit pergi ke UEA untuk perawatan medis telah ditetapkan atau belum.
Lebih dari 40 orang juga terluka setelah serangan di Dataran Tinggi Golan menghantam lapangan sepak bola di kota mayoritas Druze, tempat anak-anak dan remaja bermain.
Israel menyalahkan Hizbullah atas serangan itu, meskipun kelompok Lebanon itu membantah keterlibatan apa pun dan menuding Israel.
Keputusan Netanyahu muncul ketika Perdana Menteri Israel memblokir rencana pembangunan rumah sakit lapangan di Israel dengan tujuan merawat anak-anak Gaza yang sakit dan terluka awal bulan ini.
Menteri Pertahanan Yoav mengumumkan rencana untuk membangun rumah sakit sementara yang merawat anak-anak yang menderita berbagai kondisi termasuk kanker, diabetes, dan cedera ortopedi.
Kantor Netanyahu mengatakan perdana menteri Israel tidak menyetujui rencana pembangunan lokasi tersebut dan karena itu tidak akan meneruskannya.
Ribuan warga Palestina di Gaza, baik anak-anak maupun orang dewasa, semakin membutuhkan perawatan medis yang mendesak sejak Israel menutup dan mengambil alih kendali perbatasan Rafah dengan Mesir pada bulan Mei.
Ribuan orang menderita kanker, cedera akibat perang, kekurangan gizi, dan penyakit kronis lainnya.
Pada bulan Juni, kementerian kesehatan Gaza mengatakan hanya 4.895 warga Palestina yang diizinkan meninggalkan wilayah yang dilanda perang untuk mengakses perawatan medis di luar negeri, dari sekitar 25.000 kasus kritis.
Juga pada bulan Juni, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengutuk 'penghentian mendadak' Israel dalam memberikan evakuasi medis kepada warga Gaza yang paling rentan, menyusul penutupan penyeberangan Rafah.
Israel telah melancarkan serangan militer dahsyat di Jalur Gaza sejak 7 Oktober, menewaskan sedikitnya 39.363 warga Palestina di tengah kekejaman yang dicap sebagai genosida oleh sejumlah LSM terkemuka, badan PBB, dan para pemimpin dunia.
Sistem perawatan kesehatan di wilayah itu telah runtuh selama beberapa bulan akibat perang Israel. Hanya 15 rumah sakit yang dinyatakan berfungsi sebagian, dengan 24 dari 36 rumah sakit resmi tidak beroperasi.(*)
Jajak Pendapat, Mayoritas Warga Israel Yakin tidak ada Orang tak Bersalah di Gaza |
![]() |
---|
Brigade Qassam Sergap Patroli Tentara Israel dengan Bom Tanam, 5 Tewas 20 Luka-luka |
![]() |
---|
Macron kepada Netanyahu: Anda telah Mempermalukan Seluruh Prancis |
![]() |
---|
PBB Sebut Memalukan Penyangkalan Israel atas Kelaparan di Gaza |
![]() |
---|
Tentara Israel Terus Merangsek ke Kota Gaza, Bunuh dan Usir warga Palestina |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.