Kupi Beungoh

Menggapai Langit

Di Argentina, ada langit yang bernama Diego Maradona. Karena alasan itulah, Messi berlari kencang dan melompat tinggi untuk menggapainya.

|
Editor: Muhammad Hadi
For Serambinews.com  
Akademisi IAIN Langsa, Dr Muhammad Alkaf 

Oleh: Alkaf*)

Sepak bola tidak menua, penggemarnya yang menua. Kira-kira demikian sepetik kabar dari "perdebatan" kecil antara Dedy Lkwe dengan Albina Arahman di kolom komen status Facebook saya tadi pagi.

Dedy, seperti yang lainnya -- bahkan termasuk saya, merasa sepak bola telah pergi. Albina membantahnya. Dia menolak Batistuta dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo dalam aspek apa pun!

"Saya tidak sepakat kalau disebut jaman now kurang bintang, mungkin cara menikmati sepakbola jaman now dan jaman old yang sudah berbeda, sehingga timbul penilaian yg tidak objektif," katanya ringkas.

Albina ada benarnya, Dedy pun demikian. Kita semakin menua, sepak bola tidak.

Baca juga: VIDEO Lampaui Maradona, Sejumlah Rekor Baru Messi di Piala Dunia 2022

Ibarat langit, sepak bola terus hendak digapai oleh pesepak bola yang tumbuh dari setiap generasinya. Tetapi tidak semua negara sepak bola ada langitnya. 

Di Argentina, ada langit yang bernama Diego Maradona. Karena alasan itulah, Messi berlari kencang dan melompat tinggi untuk menggapainya.

Dia seperti ditunjuk oleh sejarah, ketika New Maradona sejak zaman Ariel Ortega gagal melakukannya, untuk menyentuh langit Argentina. 

Baca juga: In Memoriam Pele, Sang Legenda yang Melampaui Sepak Bola

Di Brasil, ada langit yang bernama Pele. Dari Zico sampai dengan Neymar, banyak pesepak bola berusaha menggapainya.

"Romario bukanlah Pele," kata ayahnya pemain tersebut ketika Brasil juara Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Bagi publik Brasil, sulit mencapai langit Pele.

Di Perancis, Michel Platini adalah langit sepak bola negara itu. Setelah mengangkat trofi Piala Eropa 1984, negara tersebut menunggu lama kedatangan penggantinya.

"Dahulu, kami berebutan mengenakan jersey dengan nama Platini. Semua hendak menjadi Platini, "kata Zinedine Zidane ketika mengenang masa kecilnya.

Sayangnya, ketika mendongak ke atas, Cristiano Ronaldo tidak melihat langit. Bukan atas nama Eusbio, atau Luis Figo. Di Portugal, tidak ada langit sepak bola.

Oleh karena itu, Ronaldo -- atas nama sejarah -- mencetak langitnya sendiri. Lalu, di masa depan, anak-anak Portugal yang akan menggapai langit itu.

Baca juga: Neymar Nyatakan Ingin Gabung Liga Amerika Serikat, Padahal Baru Saja Berseragam Al Hilal

 

*) PENULIS adalah Esais

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved