Kupi Beungoh
Jangan "Zalim" Dalam Mendidik
Nanti dihukum juga gara-gara kawan yang tidak bersih. Ini sebagian contoh cara mendidik yang "zalim" di sebagian sekolah asrama, pesantren dan dayah
Oleh: Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag
Dari cerita santri dan orang tua yang anaknya di pesantren, dayah atau sekolah asrama, kalau gak bisa hafal dipukul. Gak bersih, gak rapi di kamar tidur dihukum "pushup" sampai puluhan kali, yang biasa bersih dan rapi juga dihukum "pushup" karena di kamar yang sama ada yang tidak bersih dan tidak rapi.
Akhirnya, yang biasa bersih ikutan tidak bersih, malas bersih-bersih, karena aturan yang ada tidak adil, artinya biarpun anak bersih akan dihukum juga, gara-gara ada anak yang tidak bersih dikamar yang sama.
Kalau begitu buat apa bersih? Nanti dihukum juga gara-gara kawan yang tidak bersih. Ini sebagian contoh cara mendidik yang "zalim" di sebagian sekolah asrama, pesantren dan dayah.
Yang adilnya adalah yang tidak bersih diberikan hukuman, itupun hukuman yang mendidik, bukan hukuman yang lebih tepat disebut penyiksaan, yang membuat anak didik stres, bebal (keras kepala) dan kejam terhadap orang lain nantinya. Yang bersih diberikan penghargaan agar tetap menjaga kebersihan, dan menjadi contoh teladan bagi anak didik yang tidak biasa bersih.
Lain dikampus, cerita mahasiswa dan orang tua. Hari-hari perkuliahan, ada dosen jarang masuk mengajar dengan berbagai sebab dan alasan. Tiba akhir masa perkuliahan, sudah dekat jadwal final, harus tutup kuliah, dosen tersebut mulai tambah jam kuliah berlipat-lipat dalam seminggu.
Akibatnya ada mahasiswa tidak bisa masuk ke ruang kuliah karena beradu dengan jadwal kuliah lain atau lagi persiapan final dengan dosen lain. Dosen yang bersangkutan marah-marah, dianggap mahasiswa bolos.
Lebih sedih lagi mahasiswa mendapat nilai tidak bagus atau tidak lulus mata kuliah tersebut, dengan alasan karena tidak hadir, atau karena tidak memiliki kemampuan seperti yang diharapkan dosen, atau tidak bisa membuat tugas seperti yang diharapkan oleh dosen tersebut.
Apakah begitu tugas pendidik? Harusnya lewat pendidik, para mahasiswa, anak didik itu cerdas kognitif, cerdas afektif, cerdas psikomotor dan cerdas akhlak atau salah satu diantara 4 kecerdasan tersebut bisa mereka miliki. Kemudian mendapat nilai terbaik, sebagai tanda keberhasilan dalam mendidik.
Dengan nilai terbaik yang didapatkan anak didik, menunjukkan seorang pendidik terbaik dalam mendidik. Bagaimana kalau nilainya tidak baik? Itu menunjukkan tidak baiknya pendidik dalam mendidik alias gagal dalam mendidik.
Kalau mereka sudah pintar, untuk apa mereka ke kampus untuk kuliah, ke sekeloh, dayah, pesantren atau sekolah asrama untuk belajar? Kalau semua sudah pintar untuk apa pendidik digaji oleh negara, oleh lembaga tertentu untuk mendidik, mencerdaskan generasi? Oleh karena itu wahai pendidik, "Mendidik" lah, jangan men"zalimi" dalam mendidik.
Kasus-kasus kekerasan di dunia pendidikan seperti memukul anak didik dengan rotan atau dengan benda keras lainnya di paha, di punggung, di tangan, di muka, di kepala dan tempat-tempat lainnya sampai lembam dan merah.
Anak didik harus diam, tidak boleh komentar apa-apa, tidak boleh memberitahukan apa yang terjadi pada orang tua, jika orang tua mengetahui, anak didik diancan akan dihukum lebih berat lagi. Ini adalah sebuah "kezaliman", bukan "mendidik". Demikian juga dengan bulliying, mengejek, mengolok-olok anak didik, meremehkan atau dalam bentuk lainnya yang melukai hati, perasaan, dan menjatuhkan rasa percaya diri anak.
Demikian meresahkan kita lihat maraknya kekerasan fisik dan psikis (bully) terjadi diberbagai lembaga pendidikan, termasuk di lembaga pendidikan Islam.
Apakah Rasulullah menganjurkan demikian? Saya rasa tidak. Ini adalah pekerjaan "zalim" dan " menzalimi orang" bukan mendidik meski dilakukan dilembaga pendidikan, apalagi dilembaga pendidikan Islam.
| Fenomena Mualaf di Aceh: Ketika Islam Dihidupkan, Bukan Dipaksakan |
|
|---|
| Aceh, Banjir Bandang, dan Krisis Tata Kelola Lingkungan |
|
|---|
| Ketika Darurat Mengaburkan Akuntabilitas: Catatan Kritis Tata Kelola Bantuan Bencana |
|
|---|
| Demokrasi yang Diringkas: Pilkada dalam Cengkeraman Elite |
|
|---|
| Refleksi HAB Ke-80 Kemenag Pasca Bencana Aceh-Sumatra: Sinergi Umat Dan Kemajuan Bangsa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Ainal-Mardhiah-SAg-MAg-Dosen-Tetap-Pascasarjana-UIN-Ar-Raniry-Banda-Aceh.jpg)