Kakankemenag Buka Peluang Materi Imunisasi Masuk Khutbah Jumat di Banda Aceh
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kota Banda Aceh, H Salman SPd MAg membuka peluang materi imunisasi masuk khutbah Jumat.
Penulis: Sara Masroni | Editor: Eddy Fitriadi
SERAMBINEWS.COM - Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kota Banda Aceh, H Salman SPd MAg membuka peluang materi imunisasi masuk khutbah Jumat di wilayah setempat.
Hal itu disampaikannya saat menjadi pemateri Pelatihan Komunikator Kesehatan di salah satu hotel di Banda Aceh, Kamis (22/8/2024).
"Itu bisa diberikan kepada pengurus masjid melalui pembekalan khatib misalnya UNICEF bekerja sama Dewan Masjid Indonesia (DMI)," kata Salman.
"Lalu mengumpulkan khatib-khatib yang sering khutbah di situ untuk diberikan pembekalan informasi kampanye imunisasi ke masyarakat dengan ilmu kesehatan sedikit sebagai dasar dia menyampaikannya. Banda Aceh sangat welcome sekali," tambahnya.
Kakankemenag Banda Aceh itu juga memberikan pandangannya tentang pentingnya peran penyuluh agama dalam edukasi masyarakat tentang imunisasi.
“Dalam konteks Aceh, penyuluh agama memiliki peran penting untuk meningkatkan kesadaran umat tentang pentingnya imunisasi. Dengan keterlibatan penyuluh agama, diharapkan penerimaan masyarakat tentang imunisasi dapat ditingkatkan,” kata Salman.
Baca juga: Langsa Tertinggi Capaian Imunisasi, Dinkes Aceh: Lihat Mereka, Terenyuh Kita
Baca juga: 76 Persen Penderita Kasus Difteri di Aceh Tak Imunisasi
Sementara menanggapi saran terkait materi imunisasi untuk khutbah Jumat, UNICEF akan menindaklanjuti usulan tersebut.
Kepala Perwakilan UNICEF Aceh, Andi Yoga Tama mengatakan, terlebih selama ini pesan edukasi terkait imunisasi terputus karena lebih banyak disampaikan ke kaum ibu, padahal pengambil keputusan adalah kaum bapak.
"Apalagi Aceh syariat Islam, ulama mempunyai peran besar, tentunya kita akan bekerja sama dengan mereka juga, kita sudah dengan HUDA, MPU, Kemenag, penyuluh agama, ini malah usul yang bagus supaya kita bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia, akan kita tindak lebih lanjut lagi," ucap Andi.
Kepala Perwakilan UNICEF Aceh itu juga menegaskan, komitmen penuh pihaknya dalam memastikan hak setiap anak untuk tumbuh sehat, terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya dan mencapai potensinya secara maksimal.
"Kolaborasi ini adalah bukti nyata komitmen kami. Upaya membangun kapasitas anak muda harus dimulai sejak dini karena mereka adalah generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan kita," kata Andi.
"Lebih dari itu, partisipasi bermakna anak muda, khususnya dalam sektor kesehatan, bukan hanya memberi mereka suara, tetapi juga menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Memberikan peluang bagi anak muda untuk berkontribusi di lingkungannya adalah investasi jangka panjang untuk masa depan yang lebih sehat dan sejahtera," tambahnya.
Baca juga: 66 Persen Warga Aceh Masih BAB Sembarangan di Tempat Terbuka, Tertinggi Gayo Lues
Selanjutnya Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr Iman Murahman MKM SpKKLP, menyambut positif inisiatif ini.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini, melibatkan anak muda dalam edukasi imunisasi. Cakupan imunisasi di Provinsi Aceh masih yang terendah dibandingkan dengan provinsi lainnya selama 10 tahun terakhir, akibatnya dua tahun lalu, terjadi wabah Polio di Kabupaten Pidie dan wabah penyakit lainnya," ujar dr Iman.
"Oleh karena itu perlu kerjasama semua pihak untuk dapat meningkatkan cakupan imunisasi di Aceh, terutama pelibatan ulama dan aneuk muda Aceh. Jangan sampai ada lagi anak yang menjadi korban penyakit Polio dan lainnya,” tambahnya.
Sementara Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Teuku Erwin Irham SP MSi, menekankan pentingnya peran guru dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran murid tentang pentingnya imunisasi.
“Saat ini imunisasi MR diberikan di sekolah untuk cegah penyakit Campak dan Rubela, DT dan Td untuk cegah penyakit tetanus dan difteri, ada juga imunisasi HPV yang diberikan untuk cegah kanker serviks (leher rahim). Dengan demikian melibatkan guru dan murid dalam proses edukasi menjadi sangat penting,” tegasnya.
Direktur Eksekutif Portkesmas, dr. Basra Amru, menyampaikan keyakinannya tentang kekuatan kerja-kerja kolaborasi di masyarakat.
“Penting untuk dapat memfasilitasi terjalinnya kerja sama antara pemerintah, LSM, media, akademisi dan bahkan sektor swasta untuk penanganan masalah kesehatan masyarakat. Masalah ini terlalu besar dan terlalu penting untuk diatasi sendiri-sendiri,” ungkap Basra.
Salah satu peserta pelatihan dari perwakilan anak muda, Jamalidiana dari Forum Anak Aceh Besar mengungkapkan pengalamannya sebagai peserta latih.
"Pelatihan ini memberikan wawasan baru tentang cara berkomunikasi yang menyenangkan dan efektif. Saya jadi lebih percaya diri ketika terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi," katanya.
Diketahui, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), didukung oleh UNICEF, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Aceh, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Kantor wilayah Kementerian Agama Kota Banda Aceh, serta Kelompok Kerja Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat (Pokja RCCE+), melalui inisiatif 'Jaga Bersama' menyelenggarakan Pelatihan Komunikator Kesehatan.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal guna meningkatkan minat warga terhadap imunisasi. Peserta pelatihan sebagian besar adalah anak muda, kader kesehatan, guru, penyuluh agama, dan perwakilan organisasi masyarakat sipil dari Banda Aceh dan Aceh Besar.
(Serambinews.com/Sara Masroni)
BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.