Rabu, 22 April 2026

Kupi Beungoh

Paes, Timnas, dan Dukungan Kita

penonton memberi tepuk tangan ketika Justin Hubner memotong dan membuang bola demi menggagalkan serangan cepat dari Australia. 

|
Ist
Muhammad Alkaf, atau lebih dikenal dengan Bung Alkaf, adalah seorang esais 

Oleh: Bung Alkaf 

SERAMBINEWS.COM - Di menit lima puluh, penonton memberi tepuk tangan ketika Justin Hubner memotong dan membuang bola demi menggagalkan serangan cepat dari Australia. 

Tepuk tangan bukan saja dari penonton di GBK, tetapi juga di Corner Kopi, di Langsa. 

Saya, bersama adik ipar dan keponakan, memilih untuk menonton bersama di tempat itu. Tepuk tangan untuk Hubner panjang dan bergemuruh.

Tidak hanya untuknya, tetapi juga untuk Martin Paes. Kiper asal Kediri ini kembali bermain apik. Dia seperti benteng yang kokoh. 

Membayangkan tanpanya, gawang Indonesia bisa berkali-kali dicabik oleh pemain-pemain Australia.

Sebelum pertandingan melawan Australia, perasaan saya tiba-tiba masygul mengenai proyek mendatangkan pemain Indonesia yang tumbuh di Eropa. 

Saya lebih senang menggunakan frasa itu, "Permain Indonesia yang tumbuh di Eropa," daripada frasa pemain keturunan; pemain diaspora; apalagi "pemain naturalisasi." 

Frasa itu, bagi saya, seperti menghentikan debat tentang keabsahan mereka menggunakan jersey tim nasional sepak bola kita. 

Baca juga: Keblinger!

Apalagi, saat saya melihat video pendek ketika Jay Izdes memberikan motivasi kepada para pemain sebelum melawan Arab Saudi pada pertandingan pertama Kualifikasi Piala Dunia Rounde 3 ini.

Hal yang membuat saya sedikit mempertanyakan proyek mendatangkan pemain Indonesia yang tumbuh di Eropa itu saat pidato singkat Jay itu disampaikan dalam bahasa Inggris. 

Pidato yang tentu saja membakar semangat. Pidato yang menggugah alam kesadaran para pesepak bola tim nasional Indonesia itu tentang mengapa mereka memakain jersey dengan lambang Garuda itu. Tetapi, pidato yang menggunakan bahasa Inggris agak sedikit menganggu perasaan mengenai rasa kebangsaan.

Perasaan yang sebenarnya dapat dijawab dengan satu hal, bahwa sebagai sebuah medium verbal, bahasa dapat dipelajari. 

Yang terpenting adalah jiwa yang berada di setiap dada para punggawa tim nasional itu. Apakah mereka memilih mati di atas lapangan untuk Indonesia, atau sebaliknya. 

Apa yang kita lihat, baik sejak proyek memanggil pulang pemain Indonesia yang tumbuh ke luar negeri sampai dua pertandingan di babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia ini adalah tentang rasa cinta tanah air. 

Pemain yang kita lihat agak berbeda warna kulit dan postur badan ternyata memiliki ikatan yang kuat dengan negeri asalnya. Lihat saja, yang dilakukan oleh Ragnar setelah membawa Indonesia lolos ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia

Dia memilih pulang untuk menjenguk tanah kelahirannya di Maluku. Di sana, Ragnar menjadi orang Maluku secara otentik. Artinya, dia menjadi orang Indonesia tanpa embel-embel lain.

Satu kali, saya bertanya kepada beberapa teman, mengapa kita mendukung proyek memanggil pulang pesepak bola Indonesia di luar negeri? Mengapa kita tidak terusik perasaan "kepribumian" ketika melihat pesepak bola berkulit sawo matang mulai kehilangan posisinya. 

Dalam dua pertandingan kualifikasi ini, STY hanya memasang dua pemain yang tumbuh di Indonesia dalam starting line up: Witan dan Rizki Ridho ketika melawan Arab Saudi, Marcelino dan Rizki Ridho sewaktu melawan Australia.

Pertanyaan saya itu dijawab dengan lugas, bahwa kecintaan kita terhadap sepak bola Indonesia, terutama tim nasional, mengalahkan perasaan sentimental demikian. Ditambah, berkali-kali pula, kekecewaan acapkali menonton tim nasional. 

Menonton tim nasional, ibarat kita mendorong batu ke gunung -- seperti dalam mitologi Sisipus -- yang kemudian turun lagi ke bawah secara terus menerus. Seperti Mitologi Sisipus itu pula, kita menerima absurditas menjadi fan Tim Nasional Indonesia dengan tidak hanya menerima itu sebagai sebuah takdir, bahkan juga memikul itu sebagai sebuah tanggung jawab. (*)

*) Muhammad Alkaf, atau lebih dikenal dengan Bung Alkaf, adalah seorang esais

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved