Kupi Beungoh
Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian
Putaran kedua pertemuan perdamaian di Islamabad menjadi momentum penting dalam sejarah upaya penyelesaian konflik yang berkepanjangan di Iran.
Oleh: Yunidar Z.A
Putaran kedua pertemuan perdamaian di Islamabad menjadi momentum penting dalam sejarah upaya penyelesaian konflik yang berkepanjangan di Iran.
Di tengah eskalasi ketegangan global, pertemuan ini tidak sekadar menjadi ruang diplomasi formal aktor-aktor penting para pihak yang terlibat dalam dialog.
Tapi juga mencerminkan adanya kehendak baru dari para pihak yang bertikai untuk keluar dari lingkaran kekerasan, menuju perdamaian, dialog yang lebih terbuka, setara, dan berorientasi pada masa depan perdamaian.
Masyarakat dunia hari ini semakin menyadari bahwa perang bukan lagi instrumen penyelesaian kehendak, melainkan sumber penderitaan yang terus meluas, terutama bagi masyarakat sipil dan keamanan manusia.
Pertemuan jilid kedua di Islamabad memang berlangsung dalam suasana yang lebih tegang dibandingkan sebelumnya karena berakhirnya gencatan senjata. Namun, ketegangan tersebut justru mencerminkan proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Para pihak mulai memahami posisi, kepentingan, serta batas toleransi masing-masing. Dalam konteks resolusi konflik, kondisi ini penting sebagai bagian dari proses menuju transformasi konflik, bukan sekadar penghentian sementara kekerasan.
Dialog yang dibangun tidak lagi sekadar formalitas, tetapi mulai menyentuh substansi persoalan yang selama ini menjadi akar konflik.
Agresi militer AS yang awalnya diprovokasi oleh Israel ke Iran telah terbukti membawa dampak kemanusiaan yang luar biasa.
Ribuan korban jiwa yang terus bertambah, kehancuran infrastruktur, serta runtuhnya sistem sosial menjadi bukti nyata bahwa tidak ada pihak yang benar-benar menang dalam peperangan.
Baca juga: Perang dan Damai : Bagian 1
Anak-anak kehilangan masa depan, perempuan menghadapi kerentanan berlapis, dan kelompok lanjut usia menjadi korban yang sering terabaikan.
Dalam konteks perang modern, kehancuran bahkan melampaui apa yang pernah terjadi pada Perang Dunia II, dengan teknologi persenjataan yang semakin canggih dan daya hancur yang jauh lebih besar.
Oleh karena itu, pergeseran paradigma menjadi sangat mendesak. Pertemuan di Islamabad putaran ke-2 harus dimaknai sebagai pintu masuk menuju pendekatan “jalan tengah” yang mengedepankan kompromi dan saling pengertian.
Dalam negosiasi, tidak ada solusi absolut, yang ada yaitu keseimbangan kepentingan sama-sama menang dan tidak kehilangan muka dan dapat diterima oleh semua pihak. Jika perang terus dilanjutkan, maka pada akhirnya “yang menang menjadi arang, yang kalah menjadi abu”.
Sebuah gambaran bahwa kehancuran akan dirasakan oleh semua pihak tanpa terkecuali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-adalah-Analis-Kebijakan-berdomisili-di-Jakarta-21-4.jpg)