Selasa, 14 April 2026

Opini

Komitmen Kesehatan Lingkungan dan Aksi Iklim untuk SDGs 2030 dan Indonesia Emas 2045

Ini menunjukkan bahwa, suhu tinggi yang melampaui batas nyaman menyebabkan peningkatan kasus penyakit terkait panas seperti heatstroke yang menambah b

Editor: Ansari Hasyim
BPBD Aceh Tamiang   
Kondisi kawasan hutan lindung di Kaloy, Aceh Tamiang pasca-terbakar beberapa hari lalu. Aktivis lingkungan, Mapel mendesak polisi mengusut pelaku pembakaran ini. 

Oleh: Rimaul Husna. mahasiswi Pascasarjana, Prodi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran USK.

WRI Indonesia menyatakan bahwa tahun 2024 menjadi tahun penentu bagi kebijakan iklim di banyak negara termasuk Indonesia dengan 64 negara melaksanakan pemilihan umum dan Indonesia yang telah menyelenggarakan pemilihan nasional serta akan melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak memberikan peluang besar untuk mengevaluasi komitmen pemimpin baru terhadap perubahan iklim.

Pada 20 Juli 2024, BMKG mencatat suhu tertinggi di Indonesia mencapai 37,9°C di Kota Banda Aceh, mencerminkan tren suhu ekstrem yang semakin sering terjadi.

Fenomena ini menggarisbawahi urgensi bagi para pemimpin untuk fokus pada isu perubahan iklim dan memastikan transisi menuju pembangunan rendah karbon yang inklusif dan berkelanjutan.

Perubahan iklim, khususnya peningkatan suhu ekstrem, mempengaruhi kesehatan lingkungan dengan signifikan.

Ini menunjukkan bahwa, suhu tinggi yang melampaui batas nyaman menyebabkan peningkatan kasus penyakit terkait panas seperti heatstroke yang menambah beban sistem kesehatan masyarakat terancam oleh kualitas udara yang menurun akibat polusi dan asap serta dampak kesehatan yang lebih luas dari perubahan iklim perubahan suhu dan pola cuaca juga dapat memperburuk kualitas air dan tanah yang berdampak negatif pada ketahanan pangan dan kesehatan ekosistem

Meskipun komitmen global telah diambil, peringkat Indonesia dalam Indeks SDGs 20234 di posisi 75 dari 166 negara, jauh di bawah Finlandia yang menduduki peringkat pertama, Singapura di peringkat 64, dan Thailand di peringkat 43, menunjukkan bahwa pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia perlu ditingkatkan. 

Indikator ekonomi dan sosial terhadap tata kelola pemerintahan mengindikasikan bahwa pencapaian SDGs masih di bawah harapan, dengan peran kepala daerah dan kualitas masyarakat sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan SDGs. 

Baca juga: Warga Lingkungan Kampus Unimal Dilatih Inovasi Teknologi Pengolahan Limbah Kelapa Muda jadi Bioarang

Dampak suhu ekstrem terhadap kesehatan dan lingkungan berkaitan erat dengan SDGs 2030 dan visi Indonesia Emas 20455 yang memerlukan langkah konkret dalam mitigasi dan

adaptasi perubahan iklim untuk memastikan pembangunan berkelanjutan dan inklusif, karena kegagalan mengatasi isu ini dapat merusak kemajuan yang telah dicapai dan mengancam pencapaian target pembangunan berkelanjutan.

Salah satu faktor utama yang memperburuk perubahan iklim adalah perilaku manusia, terutama dalam hal emisi gas rumah kaca dan konsumsi sumber daya.

Pembakaran bahan bakar fosil deforestasi dan limbah industri berkontribusi pada pemanasan global Penggunaan kendaraan pribadi yang berlebihan meningkatkan emisi CO2 memperburuk polusi udara dan suhu ekstrem Perilaku ini meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular serta mengancam keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.

Untuk menghadapi tantangan ini, penting bagi setiap individu, komunitas, dan pemimpin untuk menerapkan tindakan konkret. 

Misalnya, pengurangan emisi melalui penggunaan energi terbarukan, penerapan praktik berkelanjutan dalam pertanian dan industri, serta promosi gaya hidup rendah karbon dapat membantu mengurangi dampak negatif perubahan iklim. 

Pendidikan tentang dampak perubahan iklim dan dorongan untuk perubahan perilaku dapat meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam upaya mitigasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved