Konflik Palestina vs Israel

Gara-gara IDF, Netanyahu Terkurung di Negaranya Sendiri, Tunda Pergi ke New York karena Takut

Penundaan ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi setelah Israel melancarkan agresi terhadap sebuah bangunan perumahan di pinggiran Lebanon

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
AP
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu 

Gara-gara IDF, Netanyahu Terkurung di Negaranya Sendiri, Tunda Pergi ke New York karena Takut

SERAMBINEWS.COM – Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu terkurung di negaranya sendiri.

Itu terjadi setelah pasukan zionis Israel (IDF) melancarkan serangan ke wilayah Lebanon dalam beberapa hari terakhirnya.

Serangan itu mengakibatkan situasi Netanyahu dalam ancaman.

Bahkan, Netanyahu menunda kunjungannya ke New York, Amerika Serikat karena alasan keamanan di kawasan utara.

"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menunda kunjungannya ke AS selama satu hari mengingat situasi keamanan di wilayah utara Israel," kata sumber pejabat Israel yang tak ingin disebutkan namanya, Jumat (20/9/2024).

Sumber itu menambahkan bahwa Netanyahu kini akan berangkat pada tanggal 25 September, bukan tanggal yang dijadwalkan semula yaitu 24 September.

Penundaan ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi setelah Israel melancarkan agresi terhadap sebuah bangunan perumahan di pinggiran selatan ibu kota Lebanon pada Jumat.

Serangan itu meratakan seluruh bangunan tempat tinggal dengan tanah. 

Laporan awal menunjukkan bahwa 9 orang meninggal dan sedikitnya 50 orang terluka akibat serangan itu, Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan tak lama setelah itu.

Tak lama kemudian, Perlawanan Lebanon mengumumkan bahwa mereka menargetkan markas besar unit kontrol udara dan divisi operasi udara di pangkalan Meron di wilayah utara Palestina yang diduduki.

Dalam sebuah pernyataan, kelompok Perlawanan mengatakan mereka menyerang pangkalan intelijen Israel yang mereka tuduh melakukan "pembunuhan".

Laporan berita Israel kemudian mengatakan bahwa tempat perlindungan bom dibuka di beberapa daerah di wilayah Palestina tengah yang diduduki.

Netanyahu akan menyampaikan pidato di sidang tahunan Majelis Umum PBB selama kunjungannya ke AS dan diperkirakan akan kembali ke wilayah pendudukan pada tanggal 28 September.

 

Militer Yaman Turun Gunung, Siap Perang Panjang Lawan Israel-AS

Menteri Pertahanan Yaman mengatakan angkatan bersenjata negaranya siap untuk perang panjang melawan Israel.

Dia menambahkan kalau membela Palestina melawan rezim perampas kekuasaan adalah "tugas agama."

 "Tentara Yaman memegang kunci kemenangan, dan siap untuk perang panjang yang melelahkan melawan rezim Zionis yang merampas kekuasaan, para sponsor dan sekutunya," kata Mayor Jenderal Mohammad al-Atifi pada Kamis (19/9/2024) dilansir MNA, Sabtu (21/9/2024). 

Ia menekankan kalau, "Menunjukkan solidaritas dengan kampanye sah bangsa Palestina melawan pendudukan Israel dan memberikan dukungan bagi Masjid al-Aqsa serta orang-orang tertindas di Jalur Gaza merupakan salah satu prinsip dasar Yaman."

"Perjuangan kami melawan entitas Zionis Nazi berakar kuat dalam keyakinan kami. Kami sangat menyadari fakta bahwa kampanye ini merupakan tugas suci dan religius yang membutuhkan pengorbanan yang luar biasa," kata Atifi.

Ia menekankan bahwa Angkatan Bersenjata Yaman sepenuhnya siap menghadapi konfrontasi besar-besaran, dan memiliki kemauan keras dan tekad untuk perang berkepanjangan.

Rakyat Yaman telah menyatakan dukungan terbuka mereka terhadap perjuangan Palestina melawan pendudukan Israel sejak rezim tersebut melancarkan perang yang menghancurkan di Gaza pada 7 Oktober tahun lalu, yang telah menewaskan lebih dari 41.000 warga Palestina hingga saat ini. 

Angkatan Bersenjata Yaman mengatakan bahwa mereka tidak akan menghentikan serangan sampai serangan darat dan udara Israel yang tak henti-hentinya di Gaza berakhir.

Seorang pejabat senior Yaman telah memperingatkan Amerika Serikat dan rezim Israel bahwa “hari-hari mendatang penuh dengan kejutan.”

Pada Jumat (20/9/2024), kepala Dewan Politik Tertinggi Yaman, Marsekal Lapangan Mahdi Mohammad Al-Mashat, mengucapkan selamat kepada Pasukan Roket militer negara tersebut atas keberhasilan mereka dalam menyerang target militer di Tel Aviv dengan rudal hipersonik Palestine 2. 

Al-Mashat mengklaim kalau rudal itu melewati dan menembus semua lapisan sistem pertahanan Amerika, Inggris, dan Israel, PressTV melaporkan.

Ia menegaskan bahwa “hari-hari mendatang penuh dengan kejutan.”

“Operasi kami akan terus berlanjut selama agresi dan pengepungan di Gaza masih berlangsung,” katanya.

Al-Mashat juga menegaskan kembali pendirian Yaman yang teguh dan berprinsip dalam mendukung rakyat Palestina yang tertindas sampai tanah yang diduduki dibebaskan dari pendudukan Israel.

"Tidak ada kekuatan di dunia yang dapat menghalangi kita dari keputusan ini, terlepas dari biaya atau tantangannya," tambahnya.

Al-Mashat juga menekankan komitmen penuh Yaman untuk mencapai perdamaian yang adil dan terhormat.

Ia meminta para pemimpin negara agresor untuk menghentikan perang yang tidak masuk akal ini, karena telah menjadi jelas bahwa tujuannya tidak dapat tercapai.

"Satu-satunya solusi adalah mendekati perdamaian dengan niat yang tulus, mencabut pengepungan, dan memenuhi persyaratan perdamaian, 

yang meliputi pembayaran gaji warga Yaman dari sumber daya nasional mereka, pembukaan penuh bandara dan pelabuhan Yaman, pembebasan semua tahanan, kompensasi atas kerusakan, dan penarikan penuh semua pasukan asing," katanya.

Al-Mashat memperingatkan risiko yang akan timbul jika mempertahankan kondisi tidak perang maupun damai, sementara memperpanjang permusuhan terhadap rakyat Yaman, 

memperketat pengepungan, dan membuat mereka kelaparan dengan menghalangi pembayaran gaji.

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved