Opini

Eksistensi Pustakawan di Era Digital

Awamnya masyarakat tentang ilmu perpustakaan disebabkan karena beberapa faktor. Pertama tidak semua perguruan tinggi di Aceh tersedia  jurusan perpust

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS
Siti Aminah, Dosen LB Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry dan Pustakawan MA Darul Ulum Banda Aceh 

Oleh: Siti Aminah*)

KETIKA seorang guru bertanya kepada murid, setelah dewasa nanti cita-citamu ingin menjadi apa? Tak jarang beberapa profesi ini menjadi populer di kalangan siswa sekolah, yaitu menjadi dokter, pilot, polisi, dan guru. 

Tak sedikit pun terlintas di benak siswa ingin menjadi pustakawan. Kalaupun  ditawarkan, mereka enggan menerima karena dua hal. Dinilai kurang populer di mata masyarakat, dan kinerja pustakawan dilabeli hanya berkutat dengan rutinitas menyusun buku di perpustakaan.

Awamnya masyarakat tentang ilmu perpustakaan disebabkan karena beberapa faktor. Pertama tidak semua perguruan tinggi di Aceh tersedia  jurusan perpustakaan. Wajar saja apabila  profesi ini masih menjadi tanda tanya bagi sebagian masyarakat menengah ke bawah. Sebab di provinsi Aceh sendiri hanya UIN Ar-Raniry yang membuka prodi tersebut.

Jika soal populer mungkin jurusan ini kurang dikenal. Namun  ada aspek lain yang harus kita sadari bahwa di tengah dunia yang begitu kompetitif, justru lulusan sarjana Ilmu Perpustakaan realitasnya belum ada yang menjadi pengangguran. Hal itu disebabkan, karena masih kurangnya tenaga pustakawan. Baik di lembaga pemerintah, sekolah, dan lembaga khusus yang tersedia perpustakaannya di instansi masing-masing.

Baca juga: Rahmawati, Jadi Pustakawan Berprestasi Terbaik Ketiga Nasional 2024

Profesi pustakawan bukan hanya sekadar mengatur buku, mengklasifikasi, menyampul, melayani kunjungan pengguna perpustakaan. Jika rutinitas pustakawan hanya berkutat dalam hal itu saja, wajar profesi pustakawan tidak digemari dan tidak dicita-citakan oleh banyak orang.

Mirisnya lagi, masih banyak masyarakat memandang pustakawan sebelah mata, karena di Indonesia sendiri profesi pustakawan masih dinilai baru. Padahal profesi pustakawan tak kalah bandingnya dengan profesi-profesi lain. Pustakawan, juga terlibat penuh dalam menjalankan amanat konstitusi negara UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.

Namun menjadi persoalan hari ini adalah bukan hanya menyoal profesi pustakawan, tapi perpustakaan juga masih dinilai kurang penting bagi masyarakat dan  kurang perhatian dari pihak pemerintah terutama menjadikan perpustakaan sekolah menjadi perpustakaan yang layak sesuai dengan standar perpustakaan itu sendiri.

Dengan demikian, sudah saatnya kita menyadari bahwa pada akhirnya, semua profesi saling membutuhkan satu dengan lainnya. Sebagaimana perintah Alquran: “Iqra” (bacalah) menjadi poin penting bahwa perintah membaca juga menjadi andil pustakawan untuk menggerakkan masyarakat akan pentingnya membaca.

Branding pustakawan

Saat ini, masyarakat juga sudah sangat tercerdaskan dengan informasi yang ada di media sosial. Persoalan profesi pustakawan yang kerap tak dianggap, ini persoalan waktu saja. Namun, yang menjadi catatan adalah untuk mengubah citra pustakawan yaitu masalahnya ada pada personal branding pustakawan itu sendiri.

Menurut pendapat para ahli, personal branding didasarkan pada nilai-nilai kehidupan dan memiliki relevansi yang tinggi terhadap perpustakaan. Sementara personal branding merupakan citra pribadi pustakawan di benak orang yang dikenal. Personal branding akan membuat semua orang memandang pustakawan secara berbeda dan unik.

Masyarakat mungkin lupa dengan wajah seseorang. Mamun, citra atau brand seseorang akan selalu diingat oleh orang lain. Dari itu, perpustakaan sangat membutuhkan pustakawan yang profesional, kreatif dan inovatif. Bukan hanya pada tatanan urusan buku dan gedung, tetapi juga harus mampu terjun ke lapangan untuk menggerakkan literasi. Sehingga kehadiran pustakawan benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.

Sebenarnya, apa pun pandangan masyarakat terhadap profesi tertentu bukanlah menjadi persoalan yang mutlak. Apalagi kita hidup di era digital, era yang dihadapkan dengan teknologi baru. Jika kita menelaah banyak juga jurusan baru bermunculan di era digital. Seperti cyber security, digital marketing, teknologi industri, keterampilan artifisial intelligence (AI), dan sebagainya.

Di era serba digital, bahkan banyak profesi yang sudah mulai ditinggalkan karena dampak dari kehadiran teknologi artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Bahkan setingkat Google memecat ribuan karyawan karena memang tenaga manusia sudah tidak diperlukan lagi. Ini juga menjadi tantangan bagi pustakawan, apakah masih diperlukan atau pustakawan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi masa kini. Termasuk mengubah wajah perpustakaan konvensional menuju perpustakaan berbasis digital.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved