Kupi Bengoh
Rasulullah, Pemimpin Agama dan Negara
Tetapi, kehadiran Nabi Muhammad Saw lebih memberi kesempurnaan sekaligus pada dakwah Nabi dan Rasul terdahulu. Kita ketahui bersama, bahwa misi awal k
Oleh: Munawir Umar, mahasiswa Program Doktoral Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta
TULISAN ini menjadi refleksi 14 abad lalu bagi semua kita para pembaca, bahwa kehadiran Rasulullah adalah sebuah keberuntungan untuk membawa perubahan peradaban bagi seluruh umat manusia. Sebuah perubahan yang tidak saja dari sudut materi, tapi juga sudut ruhani agar semua program hidup di dunia sesuai lurus sebagaimana ketentuan Ilahi. Kita mengerti, bahwa sebelum Nabi Muhammad memang telah diutus banyak Nabi dan juga Rasul untuk memberikan pandangan dan argumentasi (dakwah) kepada umat/kaum mereka akan keberadaan Allah (dakwah ila tauhid Allah).
Tetapi, kehadiran Nabi Muhammad Saw lebih memberi kesempurnaan sekaligus pada dakwah Nabi dan Rasul terdahulu. Kita ketahui bersama, bahwa misi awal kehadiran Nabi Muhammad Saw adalah dalam rangka penyempurnaan karakter dan akhlak manusia yang telah jauh melenceng dari idealitas sebagaimana dakwah para Nabi pendahulu.
Rasulullah diutus di tengah bangsa Arab, bangsa yang disebut oleh para ahli sejarah sebagai bangsa yang berilmu pengetahuan. Terutama pengembangan ilmu dibidang seni, keindahan dalam menyusun prosa Arab sehingga indah didengar oleh banyak orang. Demikian pula bangsa-bangsa lain di sekitar jazirah Arab yang sudah kental dengan ilmu pengetahuan, baik itu Yunani, Persia dan juga Romawi dengan dinding dan bangunan megah pada masa itu.
Tapi meski demikian, ada satu hal yang masih luput (unpresent) dari mereka, itu adalah moral dan etika. Moral menghargai sesama manusia, moral dan etika kepada sesama jenis dan lawan jenis, tidak mengambil hak orang lain dengan jalan paksa, bahkan lebih parah mereka jauh dari Tuhan dan mereka berada dalam kesyirikan dengan menyembah patung berhala yang anggapan sesat mereka bahwa itulah perantara mereka menuju Tuhan. Baik kesesatan yang dampak nyata (jaliy) atau yang samar (khafiy).
Kembali Terulang
Ternyata ihwal yang terjadi kepada para umat dan kaum terdahulu sering kali terulang pada umat Nabi Muhammad masa kini, baik itu pada umat Islam atau bukan. Terlebih dengan perkembangan dunia yang begitu pesat, kemahiran intelektual manusia telah melampaui batas-batas kebiasaan dengan penciptaan aneka teknologi yang membuat manusia semakin mudah bergerak dalam waktu singkat dan akses informasi yang cepat.
Tapi justeru moralitas, norma kebaikan, dan akhlak hilang begitu saja bahkan banyak kita jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Di antara sekian banyak persoalan yang ada, dalam artikel ini penulis cenderung menyoroti sisi pengamalan agama dalam konteks kepemimpinan dan karakternya, juga eksistensi cara berpolitik yang menurut hemat kami telah jauh tergadaikan.
Artinya, antara agama dan kepemimpinan telah jauh terpisah dalam beberapa dekade ini. Idealnya, untuk mewujudkan sebuah peradaban madani maka diperlukan antara agama dan sistem kepemimpinan.
Kita sorot Rasulullah Saw sebagai tokoh sentral kita, bahwa ia mampu menaklukkan dunia ini dengan intelektualitas murni dari Tuhan, pengamalan agama yang paripurna berdasarkan tuntutan Allah tanpa distorsi. Begitu pula praktek sosial yang selalu selaras dengan nilai-nilai agama berbasis akhlak.
Maka tidak mengherankan, kesuksesan Nabi dalam berdakwah dalam waktu yang relatif singkat mampu menjadikan Islam dan nilai keislaman sebagai agama minoritas di dunia ini. Ketika Allah berkata, ‘Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah adalah Islam.
Orang-orang yang telah diberi kitab tidak berselisih, kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Siapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya).’ (QS. Ali Imran: 19). Kesan agama yang diridhai adalah sesungguhnya keridhaan Allah berada pengamalan kita umat Islam yang paripurna sebanding dan sesuai dengan pemahaman yang diketahui dan diamalkan dengan baik, sehingga menghasilkan cita yang diharapkan (ideal).
Realitas Kita
87 persen jumlah umat Islam di Indonesia secara umum dan 99 persen di Aceh secara khusus, tetapi dalam konteks pengamalan terhadap pesan Nabi belum menyentuh batas minimal, yaitu 50+1 dalam sekian persen umat Islam yang ada.
Angka itu bisa dilihat dari aspek pengamalan agama pada masyarakat menengah ke bawah, juga pada mereka yang menengah ke atas, yaitu mereka yang mengambil kebijakan sentral untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama. Masyarakat bawah mengutarakan kepada mereka yang di atas, seolah mereka yang di atas terlalu zalim kepada rakyat bawah, segalanya kebutuhan mahal, akses pekerjaan yang dipersepsikan begitu sulit untuk dicari.
Di sisi lain kurang menyadari bahwa selama ini jalan agama belum mereka jalani, jangankan sepenuhnya, minimal yang wajib dikerjakan pun ditinggalkan tanpa merasa bahwa itu adalah dosa besar dan punya dampat (impact) sosial bagi kehidupan mereka dalam arti kesulitan.
Belum lagi ditambah dengan tingkah pada mereka aktor pengambil kebijakan, hanya dengan persentase sedikit kebijakan mereka berpihak kepada kepentingan umum. Dan yang ada hanya kepentingan diri mereka paling utama, seterusnya ada kepentingan keluarga dan juga golongan serta orang yang menyertai mereka.
Dalam konteks demokrasi, tidak berlebihan bila kami berkata, bahwa ini pemimpin dengan segala kebijakan mereka adalah wajah rakyat. Sebab kelakuan seorang pemimpin adalah representasi dari kelakuan rakyat yang memilih mereka. Mustahil rakyat yang bertakwa penuh akan memilih calon pemimpin yang menyogok mereka, pasti yang dipilih adalah mereka yang seirama dan sepemikiran dengan mereka. Rasul bersabda, ‘Sebagaimana keadaanmu, demikian pula pemimpin kalian.’ (HR. Al-Dailami).
Demikian pula Al-Quran menyebutkan, ‘Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS Al-An’am: 129).
Karena itu, penulis mengajak para pembaca dari semua kalangan untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw baik kita sebagai rakyat, pemimpin agama, juga pemimpin negara dalam mengambil gagasan juga petuah sekaligus qudwah (teladan) yang telah tertulis rapi baik dalam Al-Quran, Hadis juga kitab Sirah Nabawiyah yang ada.
Al-Quran berkata, ‘Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab: 21). Kudwah (teladan) pada Nabi Muhammad Saw adalah perantara dari Allah yang menjelma pada diri Nabi.
Bila kita bercita-cita membangun rumah di Surga, menjadikan Nabi sebagai pemimpin agama (spiritual) kita dan jadikan Nabi sebagai pemimpin dunia serta bagi kita yang sedang diberi amanah sebagai pemimpin di semua tingkatan, ambillah Nabi sebagai model untuk membangun bangsa.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.