Rabu, 29 April 2026

Kupi Bengoh

Ahlussunnah dan Realitas Akidah 

Begitu pentingnya perkara akidah, hingga semua ulama sepakat wajib hukumnya mengenal Allah baik Dzat, Sifat, maupun Af'al-Nya. Imam Sanusi dalam Al-Aq

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
IST
Syah Reza, Penggiat diskursus Peradaban di Islamic Institute of Aceh 

Oleh: Syah Reza*)

PADA sebuah pertemuan belajar membaca kitab Jawoe (baca: Jawi)  Aceh, Akhbarul Karim, T.A Sakti, mengutip sebuah nazam yang populer dari ulama dahulu, "nye hanjeut i'tiqed 50, bui meurugoh geupeunan gata." Maknanya, jika tidak mengenal i'tiqad 50, anda layak disebut babi yang gagah. Sepintas tamsilan itu terkesan sadis. Tetapi, dalam konteks budaya Aceh yang mayoritas berakidah asy’ariyah, orang yang tidak mengenal sifat Allah adalah sebuah aib. 

Bahkan, masyarakat menaruh kesan negatif pada sebuah keluarga yang abai pada pendidikan agama anaknya sejak dini. Kenapa begitu penting hal tersebut?
Akidah umpama akar bagi sebuah tanaman yang terhubung dengan batang (syariat) dan buah (tasawuf). Jika akar kuat dan sehat, maka akan mempengaruhi kualitas batang dan buah. Begitu juga sebaliknya. Idealnya setiap muslim mempelajari akidah sejak dini, karena ia adalah dasar agama. Istilah yang masyhur yaitu ma'rifatullah.  

Pengetahuan dasar tentang ketuhanan tersebut adalah tangga awal sebelum mengenal ajaran Islam lainnya. Tanpa mengenal akidah dengan baik, sudah barang pasti ibadahpun akan menuai masalah. 

Begitu pentingnya perkara akidah, hingga semua ulama sepakat wajib hukumnya mengenal Allah baik Dzat, Sifat, maupun Af'al-Nya. Imam Sanusi dalam Al-Aqidah As-Sughra mempertegas kewajiban sampai benar-benar memahami 20 sifat bagi Allah (famimma yajibu li maulana ‘Azza wa Jalla ‘isruna sifat). Begitu juga ulama di Kesultanan Aceh Darussalam abad 18, Faqih Jalaluddin Al-Asyi dalam Hidayatul Awam lebih lanjut merincikan kewajiban tersebut menjadi 15 rukun.  

Pertama,  5 rukun Islam yang terdiri dari, syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji. Kedua, 6 rukun Iman, di antaranya; Iman kepada Allah, malaikat, nabi, kitab, akhirat, qadha dan qadar. Ketiga, 4 rukun syahadat yaitu mengistbatkan Dzat, Sifat, Af'al (perbuatan) Allah, serta kebenaran Rasulullah (Nubuwwah) sebagai utusan Allah yang mengemban risalah agama. 
Jika diuraikan lebih detail, memuat 41 sifat-sifat yang harus dii’tikadkan pada Allah, di antaranya 20 sifat wajib, 20 mustahil, dan ,1 jaiz bagi Allah.  

Sedangkan sifat yang harus dii’tikadkan pada rasul ada 9,  yang wajib 4 sifat, 4 mustahil, dan 1 jaiz. Maka, keseluruhan akidah yang harus kita ketahui adalah 50. Lantas, darimana klarifikasi tersebut ulama peroleh? Bukankah Dzat Allah itu sempurna dan tak terbatas, kenapa harus dibatasi menjadi 20 sifat, atau dirumuskan i’tiqad 50? 

Pertanyaan demikian sering muncul, terutama dalam diskursus agama. Dan memang benar bahwa sejatinya sifat-sifat Allah itu tidak terbatas. Sebagai ulama terkemuka dalam mazhab Asy'ariyah, Imam Sanusi menjawab perkara tersebut dalam Ummul Barahain bahwa, "sifat-sifat Allah tidaklah terbatas hanya pada 20 sifat saja, sebab kesempurnaan-Nya tidak terbatas.  

Namun ketidakmampuan manusia mengetahui sifat-sifat yang tidak terjelaskan baik dari dalil 'aqli dan naqli, membuat kita tidak disiksa karena hal tersebut." 
Kutub Ekstrim
Ternyata jauh sebelum Asy'ariyah merumuskan wajibnya meyakini sifat Allah, telah lebih dulu hadir dua kutub ekstrim dalam perkara akidah. Kutub kiri, kalangan fatalistik yang menafikan adanya sifat pada Tuhan (ta'til) seperti kaum Jahmiyah atau kerap dikenal Jabariyah. Satunya lagi, kalangan yang mensifatkan Tuhan dengan bentuk jasad (tajsim) yaitu kaum Mujassimah atau Musyabihah. 

Jahm bin Shafwan sebagai pionir utama aliran Jahmiyah berpandangan bahwa Tuhan tidak memiliki sifat yang sempurna yang layak bagi-Nya. Sehingga setiap kehendak manusia adalah kehendak Tuhan. Artinya, bagi mereka, manusia ibarat boneka yang digerakkan oleh pemiliknya dan tidak memiliki kehendak apa-apa. Aliran ini memiliki kesamaan dengan Mu'tazilah dalam menerapkan Dzat Allah tanpa sifat, namun dalam konsep Kehendak Tuhan (Iradah) dan beberapa hal lain keduanya sangat berlawanan.  

Mu'tazilah meyakini bahwa manusia memiliki kehendak bebas menjalani kehidupan yang tidak ada sangkut paut dengan kehendak Tuhan. Dalam terma modern sering muncul slogan, usaha tidak mengkhianati hasil, dan ini yang menjadi benih positivisme dan rasionalisme.
Sedangkan, kaum mujassimah jejak historisnya juga sudah ada sejak masa Tabi'in. Muqatil bin Sulaiman disebut sebagai pembuka pintu munculnya antropomorfisme (mujassimah) dalam Islam. Dimana ia mengatakan bahwa Tuhan adalah tubuh dan memiliki gambar seperti manusia dengan daging, darah, rambut, tulang dan anggota tubuh seperti tangan, kaki, kepala, dan mata. 

Walau dalam sejarah pernah saling konfrontasi antara keduanya, Namun nyatanya kedua mazhab tersebut (tak terkecuali mazhab ekstrim lainnya) memiliki formulasi Akidah yang keliru bahkan menyimpang dari kebenaran. Seperti kata Imam Asy'Ari dalam Maqalat al-Islamiyah, merujuk pada pernyataan Abu Hanifah bahwa, "Telah datang kepada kita kaum Muslimin, dua pendapat tokoh yang sangat buruk, Jahm bin Shafwan yang berpaham ta'thil dan pendapat Muqatil yang berpaham tasybih." Lalu Bagaimana dengan paham ekstrem tersebut apakah masih ada pada saat ini? 

Paham Jahmiyah bertransformasi kemudian menjadi kaum fatalistik yang sebagian konsep akidahnya melebur dalam paham panteisme, dan kebatinan. Sedangkan, kaum mujassimah  ajarannya berkembang melalui pengaruh Ibn Taimiyah yang kemudian pada era terakhir mendapat legitimasi politik oleh Kerajaan Arab Saudi yang berideologi wahabisme. Walau tidak dominan, kedua mazhab ini eksis sebagai pijakan akidah minoritas sampai hari ini ditengah umat Islam.  

Dibandingkan Jahmiyah, paham Mujassimah yang masuk melalui kampanye pemurnian akidah (purifikasi) jauh lebih cepat pengaruhnya, menjalar ke dunia Islam hingga ke Asia Tenggara. Ajarannya mudah diterima oleh masyarakat modern yang minim pendidikan agama sejak dini, justru hidup dalam kultur ilmu umum atau sains modern yang dominan.  

Akidah Selamat 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved