Kupi Bengoh
Tempat Sejarah Sebagai Fondasi Masa Depan Wisata Halal di Aceh
Kekayaan budaya Indonesia dapat dilihat melalui berbagai bentuk seni, seperti tari, musik, kerajinan tangan, dan kuliner yang bervariasi dari satu dae
Oleh: Muhammad Shiddiq*)
NUSANTARA memiliki warisan budaya yang unik, mencerminkan keragaman etnis, bahasa, dan tradisi yang telah berkembang selama berabad-abad. Dari Sabang hingga Merauke, menyimpan beragam cerita yang terjalin dengan keindahan alamnya yang mempesona, mulai dari pegunungan yang menjulang hingga pantai berpasir.
Indonesia, negara yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau hal ini sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 Tentang perairan indonesia, dikenal sebagai salah satu bangsa paling kaya akan budaya di dunia.
Kekayaan budaya Indonesia dapat dilihat melalui berbagai bentuk seni, seperti tari, musik, kerajinan tangan, dan kuliner yang bervariasi dari satu daerah ke daerah lainnya. Setiap tradisi tidak hanya mencerminkan identitas lokal, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan mereka.
Dalam konteks wisata Halal, sebenarnya tidak berbeda dengan wisata pada umumnya, wisata halal merupakan sebuah konsep yang dilahirkan untuk memudahkan wisatawan muslim lokal maupun internasional untuk memenuhi kebutuhannya dalam berwisata sekaligus menunaikan kewajiban yang berlandasan keagamaan.
Berdasarkan hasil dari Global Travel muslim Index (GTMI) pada tahun 2018, Indonesia berada di rangking kedua sesudah Malaysia sebagai negara destinasi wisata halal dunia yang diikuti lebih dari 130 negara. Kabar membanggakan di tahun 2024, seperti yang dikutip dalam website Kumparan Travel, Indonesia kembali meraih penghargaan sebagai destinasi paling ramah didunia tahun ini. Dalam ajang Mastercard-crescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI). Indonesia dinobatkan sebagai destinasi wisata Top Muslim Friendly Destination Of The Year ( wisata Ramah Muslim 2024).
Aceh merupakan provinsi di ujung barat Indonesia disebut sebagai “Serambi Mekkah”, memiliki reputasi yang kuat sebagai destinasi wisata dengan keindahan alam yang memukau dan warisan budaya yang kaya. Terkenal dengan pantai-pantainya yang indah, gunung-gunung yang menakjubkan, serta tradisi dan adat istiadat yang unik, Aceh menawarkan pengalaman yang menarik bagi wisatawan.
Aceh termasuk daerah yang pernah terjadi konflik sosial dan bencana yang dahsyat pada tahun 2004 lalu, Aceh bangkit dan berusaha untuk memperkenalkan wisata halal kepada seluruh pengunjung yang ingin berlibur ke Aceh. Hal tersebut terbukti Aceh berhasil meraih peringkat kedua sebagai destinasi wisata Halal Indonesia pada tahun 2019, dimana perseta merupakan seluruh Provinsi, serta penilaian mengacu pada standar Global Muslim Travel Index (GMTI).
Dikutip dari laman akun pemerintahan Aceh, Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara SIM setiap bulannya bervariasi namun paling tinggi pada Desember 2023 sebanyak 4.604 orang. Setiap tahun, ada sekitar 20 ribu hingga 30 ribu turis asing berkunjung ke Aceh
Identitas dan sejarah Aceh Sebagai Pariwisata Halal
Pariwisata halal di Aceh bertujuan untuk memberikan pengalaman yang memenuhi kebutuhan spiritual dan sosial wisatawan muslim, sambil tetap menghormati nilai-nilai lokal dan budaya masyarakat. Dengan destinasi seperti Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi simbol kebangkitan Aceh pasca-bencana, serta Pantai Lampuuk dan Pantai Lhoknga yang mempesona, Aceh berupaya menciptakan lingkungan yang ramah bagi wisatawan. Keberadaan kuliner halal yang kaya, serta layanan yang memperdalam nilai islami.
Aceh juga terkenal dengan sejarahnya yang panjang sekaligus melahirkan cendekiawan dan panglima yang gagah. Dalam sejarah perang Aceh dengan belanda yang terjadi sejak tahun 1873 hingga 1904 yang terlibat peperangan dengan kesultanan Aceh, belanda cukup kewalahan melawan Aceh karena perjuangan mereka begitu keras.
Sejarah yang panjang tentu memiliki bukti yang kuat, banyak sekali tempat bersejarah di Aceh, salah satunya adalah “Bentang Sultan Iskandar Muda”. Benteng yang dibagun pada abad ke 16 oleh Sultan Iskandar Muda untuk melindungi wilayah kekuasaan dari serangan belanda dan portugis. Sangat disayangkan kondisi yang tidak terawat dengan baik, dinding yang sudah dipenuhi lumut dan batu tembok yang dibiarkan hancur begitu saja tanpa perhatian khusus dari pemerintah setempat.
Berbeda halnya, salah satu benteng Fort Rotterdam peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang terletak di Makasar, Pemda setempat memanfaatkan tempat bersejarah ini sebagai objek wisata yang dirawat dengan baik. Sehingga akan menghasilkan manfaat tersendiri dalam menunjang ekonomi masyarakat setempat.
Dengan memanfaatkan peninggalan sejarah sebagai bagian dari konsep wisata Islami, Aceh dapat menawarkan pengalaman yang menggabungkan pendidikan, spiritualitas, dan penghargaan terhadap warisan budaya. Wisata Islami yang berbasis sejarah ini tidak hanya menarik bagi umat Islam, tetapi juga bagi wisatawan internasional yang tertarik dengan sejarah dan budaya Islam yang terjadi di masa lalu.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.