Citizen Reporter
Budaya 'Peumulia Jamee' di Kedah, Malaysia
Setiap desa memiliki keunikannya sendiri, tetapi ada benang merah yang menghubungkan mereka semua, yaitu kehangatan dan keramahan yang luar biasa dala
AYANG KIA DERMAWAN, Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Ar-raniry Banda Aceh dan Peserta KPM Internasional II Fakultas Psikologi UIN dan USM Malaysia
Sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, saya berkesempatan mengikuti program KPM Internasional selama 14 hari di Kedah, Malaysia. Program KPM Internasional yang telah banyak dilakukan oleh civitas akademika UIN Ar-Raniry sebagai bentuk implementasi UIN Ar-Raniry sebagai kampus yang menuju taraf internasional. Kali ini, program ini bekerja sama dengan School of Social Science USM Penang Malaysia.
Saya merasa beruntung dapat mengikuti program ini, meskipun dukungan finansial dari lembaga sangat kecil. Namun, kami merasa apa yang telah kami upayakan mendapatkan hasil yang sangat berharga, terutama tentang nllai-nilai moral, yaitu persahabatan dan arti kasih sayang selama kami mengikuti kegiatan di Malaysia.
Saya menduga bahwa selama berada di sana, kami akan diperlakukan seperti pendatang. Namun sebaliknya, kami justru disambut layaknya seperti saudara jauh yang baru saja pulang ke kampung halaman. Pengalaman ini membuka mata saya terhadap keindahan budaya 'peumulia jamee' atau memuliakan tamu juga begitu kental di negeri tetangga kita.
Selama dua minggu yang penuh makna ini, saya dan rekan-rekan mengabdi di empat desa berbeda yang berada di negeri Kedah: Taman Permatang Katong, Desa Keda Tepi Sungai, Kampung Kuala Dulang Kecil, dan Taman Permai Utama.
Setiap desa memiliki keunikannya sendiri, tetapi ada benang merah yang menghubungkan mereka semua, yaitu kehangatan dan keramahan yang luar biasa dalam menyambut tamu.
Sejak pertama kali kami menginjakkan kaki di tanah Kedah, kami langsung merasakan atmosfer keramahtamahan yang begitu kental. Di setiap desa yang kami kunjungi, kedatangan kami selalu disambut dengan lantunan selawat yang merdu, mencerminkan tidak hanya tradisi, tetapi juga nilai-nilai spiritual yang mereka junjung tinggi. Suara-suara yang berpadu dalam harmoni selawat seolah menjadi musik latar yang menenangkan, menyambut kami ke dalam pelukan hangat masyarakat setempat.
Taman Permatang Katong menjadi pembuka yang mengesankan dalam perjalanan kami. Di sini, kami disuguhi jamuan makan yang luar biasa. Hidangan-hidangan khas lokal disajikan langsung dan dimasak ramai-ramai oleh warga, menggoda selera dan membuat kami terkagum-kagum. Namun, bukan hanya makanannya yang istimewa, tetapi juga antusiasme warga dalam berinteraksi dengan kami. Mereka dengan gembira berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari dan tradisi lokal, membuat kami merasa seperti bagian dari keluarga besar mereka. Sebagai infomasi, perumahan ini merupakan perumahan bagi korban tsunami tahun 2004. Meskipun korban tidak sebanyak di Provinsi Aceh, tsunami juga membekas bagi sebagian masyarakat di desa ini.
Perjalanan kami berlanjut ke Desa Keda Tepi Sungai. Di sini kami diperkenalkan dengan program unik “anak angkat”. Setiap peserta KPM “diadopsi” oleh keluarga lokal, memberikan kami kesempatan emas untuk merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat secara lebih intim. Pengalaman tinggal bersama keluarga angkat ini membuka wawasan kami tentang dinamika keluarga Malaysia dan cara mereka mempraktikkan nilai-nilai keramahtamahan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat setempat, program anak angkat adalah hal yang selau rutin mereka dapatkan, dalam setahun, desa ini bisa kedatangan “anak angkat” baik dari Malaysia maupun mancanegara. Tentunya program ini bisa berlangsung dengan kerja sama beberapa kampus yang ada dinegeri Keudah dan Malaysia secara keseluruhan.
Kehebohan dan kehangatan tidak saja sampai di dua desa tersebut, Kampung Kuala Dulang Kecil menyambut kami dengan cara yang paling meriah. Kedatangan kami disambut dengan arak-arakan warga yang melibatkan seluruh penduduk kampung. Suasana penuh sukacita ini menunjukkan betapa pentingnya tamu bagi mereka, membuat kami merasa benar-benar dihargai dan disambut. Di sini, kami juga berkesempatan mengikuti Sukaneka Semarak Kebangsaan, bertepatan dengan perayaan hari kemerdekaan ke-67 bangsa Malaysia. Kegiatan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mempererat hubungan antara kami dan warga lokal.
Puncak kunjungan kami di kampung ini adalah Malam Kebudayaan, di mana kami disuguhi pertunjukan tarian, musik, dan lagi-lagi sajian makanan yang memukau, memberikan kami pemahaman yang lebih dalam tentang kekayaan budaya setempat.
Taman Permai Utama menjadi penutup yang manis dalam perjalanan kami. Penyambutan di desa ini sangat istimewa dengan iringan rombongan yang membawa buket bunga telur, simbol kesuburan dan kemakmuran dalam budaya setempat. Gesture sederhana, terapi penuh makna ini menunjukkan betapa mereka menghargai kehadiran kami. Kami juga diajak berpartisipasi dalam kegiatan menanam pohon, sebuah aktivitas yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga sarat makna. Kegiatan ini mencerminkan kepedulian mereka terhadap lingkungan dan keinginan untuk meninggalkan jejak positif dari kunjungan kami. Di tempat ini, satu dari rekan kami mendapatkan tawaran untuk menjadi imam shalat Tarawih pada Ramadhan tahun depan.
Yang paling mengesankan dari seluruh pengalaman ini adalah konsistensi dalam memuliakan tamu yang ditunjukkan di semua desa yang kami kunjungi. Meskipun setiap desa memiliki cara uniknya sendiri, ada pola yang sama yang menunjukkan betapa dalamnya nilai 'peumulia jamee' tertanam dalam budaya mereka.
Di setiap tempat, kami selalu disambut dengan jamuan makan yang melimpah, partisipasi aktif warga dalam berbagai kegiatan, dan program-program budaya yang dirancang khusus untuk memperkenalkan kekayaan tradisi mereka kepada kami.
Sebagai mahasiswa psikologi, pengalaman ini memberikan wawasan yang tak ternilai tentang bagaimana budaya dapat memengaruhi perilaku sosial dan interaksi antarmanusia. Keramahan dan kehangatan yang konsisten ditunjukkan oleh warga di empat desa yang berbeda menggambarkan betapa kuatnya pengaruh nilai-nilai budaya terhadap sikap dan perilaku individu dalam masyarakat. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan cerminan dari nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Selama 14 hari yang singkat, tetapi sarat makna ini, saya merasakan betapa dalamnya arti 'peumulia jamee' bagi masyarakat Malaysia. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pemahaman saya tentang budaya negara tetangga, tetapi juga mengajarkan saya tentang pentingnya menjaga dan melestarikan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Budaya 'peumulia jamee' di Negeri Kedah adalah contoh nyata bagaimana sebuah masyarakat dapat menjunjung tinggi nilai-nilai keramahtamahan dan persaudaraan, sesuatu yang sangat relevan dan penting di era global saat ini.
Saya berharap, pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dari program KPM Internasional ini dapat saya bagikan dan terapkan di lingkungan saya sendiri, memperkuat ikatan persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia, serta menginspirasi generasi muda untuk terus melestarikan nilai-nilai budaya yang positif. Perjalanan ini telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam hati saya, mengingatkan bahwa di tengah perbedaan, ada nilai-nilai universal yang mengikat kita semua sebagai manusia, yaitu kehangatan, keramahan, dan penghargaan terhadap sesama.
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Penulis CR
AYANG KIA DERMAWAN
Peumulia Jamee
Kedah Malaysia
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
| 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Lulus Program Student Exchange ke Brunei Darussalam 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AYANG-KIA-DERMAWAN.jpg)