Minggu, 10 Mei 2026

Berita Aceh Utara

Petani di Aceh Utara Berharap Bantuan Traktor Untuk Pengolahan Tanah Sawah

“Dengan luas lahan sekitar 85 ha menggunakan satu hand traktor petani sangat kewalahan. Belum lagi alat olah tersebut adalah milik pribadi warga,”

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Petani Gampong Mesjid, Kecamatan Syamtalira Aron Kabupaten Aceh Utara kini menghadapi kendala dalam melanjutkan pengolahan lahan sawah yang tersisa seluas 35 hektare. 

Laporan Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Petani Gampong Mesjid, Kecamatan Syamtalira Aron Kabupaten Aceh Utara kini menghadapi kendala dalam melanjutkan pengolahan lahan sawah yang tersisa seluas 35 hektare.

Sebelumnya, petani telah berhasil mengolah lahan seluas 45 hektar yang kini sudah selesai ditanami padi.

Namun, pengolahan lanjutan untuk lahan tersisa seluas 35 hektar kini terhambat karena minimnya alat mesin pertanian (alsintan) berupa hand traktor yang diperlukan untuk pengolahan tanah.

“Dengan luas lahan sekitar 85 ha menggunakan satu hand traktor petani sangat kewalahan. Belum lagi alat olah tersebut adalah milik pribadi warga,” ujar Keuchik Mesjid, T Hamdani, AMa, dalam siaran pers yang diterima Serambinews.com, Minggu (17/11/2024).

Disebutkan, kondisi hand traktor yang tersedia saat ini juga sudah usang, sehingga sering rusak dan membutuhkan waktu yang lama untuk perbaikan.

Baca juga: Variadi Kembali Terpilih Sebagai Ketua PII Aceh Besar Periode 2024 -2027

Kondisi ini kata T Hamdani, sangat menghambat kegiatan pertanian petani.

Seharusnya bisa ditanami sekalian ini harus menunggu selesai dulu lahan 45 baru lanjut yang sisanya.

Sehingga terjadi ketidak seragaman musim tanam yang bisa berpengaruh nantinya terhadap pengendalian hama dan penyakit.

“Belum lagi wilayah lain tidak ada kegiatan cocok tanam sama sekali. Petani sangat khawatir terjadi ledakan populasi hama dan serangan penyakit,” katanya.

Menurut Hamdani para petani juga berharap adanya solusi alternatif untuk irigasi melalui pompanisasi dari sumber air sungai, menggantikan Bendung Irigasi Krueng Pase yang mengalami kendala dalam pekerusakan.

"Seharusnya kami bisa melakukan pengolahan lahan 35 hektar yang tersisa secara sekaligus, namun terpaksa tertunda karena keterbatasan alat olah tanah," ujarnya.

Baca juga: VIDEO Aksi Pejuang Al Qassam Bawa Peledak dengan Tangan Kosong, Tank Zionis Berhambur

Geuchik Hamdani mengungkapkan kekhawatiran petani yang sudah empat tahun terakhir tidak bisa mengolah sawah secara penuh akibat masalah irigasi dan kini alat pertanian.

Saat ini, momentum musim penghujan sangat ideal untuk pengairan sawah, namun peluang tersebut dapat terlewatkan jika tidak segera diatasi.

“Kami sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah, baik berupa hand traktor maupun alat pendukung lainnya, agar pengolahan lahan bisa segera dilanjutkan dan tidak tertunda lagi,” tambahnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved