Perang Gaza

Serangan Israel Menewaskan Puluhan Orang di Gaza dalam 48 Jam terakhir

Salah satu rumah sakit yang terkena dampak berat adalah Rumah Sakit Kamal Adwan di bagian utara Gaza, yang hampir tidak beroperasi

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/AFP
lebih dari 120 orang Palestina dilaporkan tewas, sementara serangan yang intensif menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas medis dan infrastruktur vital.  

SERAMBINEWS.COM- Serangan militer Israel yang terus berlangsung di Gaza telah menyebabkan korban jiwa yang semakin banyak.

Dilansir dari kantor berita Reuters pada Minggu (24/11/2024), dalam 48 jam terakhir, lebih dari 120 orang Palestina dilaporkan tewas, sementara serangan yang intensif menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas medis dan infrastruktur vital. 

Salah satu rumah sakit yang terkena dampak berat adalah Rumah Sakit Kamal Adwan di bagian utara Gaza, yang hampir tidak beroperasi karena serangan tersebut.

Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, Hussam Abu Safiya, menyatakan bahwa pemboman Israel di sekitar rumah sakit semakin intensif, dengan tujuan tampaknya untuk memaksa staf rumah sakit meninggalkan tempat tersebut.

Sejak invasi dimulai, staf medis di rumah sakit tersebut tetap bertahan, meskipun serangan terus berlangsung.

Pada hari Jumat, dari siang hingga tengah malam, serangan udara Israel menargetkan beberapa kali pintu masuk area darurat dan resepsionis rumah sakit.

 Akibatnya, 12 anggota staf, termasuk dokter dan perawat, mengalami cedera.

Selain korban luka di kalangan staf medis, serangan ini juga merusak infrastruktur rumah sakit, termasuk pembangkit listrik, jaringan pasokan oksigen, dan pasokan air.

Hal ini semakin memperburuk kondisi rumah sakit yang sudah hampir tidak berfungsi.

Militer Israel membantah tuduhan serangan langsung terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan.

Mereka menyatakan bahwa, berdasarkan tinjauan awal, pihaknya "tidak mengetahui adanya serangan di area rumah sakit tersebut."

 Israel menegaskan bahwa mereka selalu berusaha menghindari korban sipil dalam operasi militer mereka. Namun, Israel juga mengklaim bahwa Hamas menggunakan rumah sakit dan fasilitas sipil lainnya sebagai tameng manusia, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Hamas.

Lebih dari 44.000 orang Palestina telah tewas dalam kampanye militer Israel yang sudah berlangsung selama 13 bulan ini, menurut pejabat Gaza.

 Selain itu, hampir seluruh penduduk Gaza telah mengungsi setidaknya sekali karena intensitas serangan yang terus berlanjut.

 Serangan ini adalah respons terhadap serangan oleh pejuang Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang Israel dan menyandera lebih dari 250 orang.

Upaya untuk mencapai gencatan senjata telah dilakukan, namun sejauh ini tidak membuahkan hasil yang signifikan. Negosiasi yang dipimpin oleh Qatar, sebagai mediator, kini dihentikan hingga kedua belah pihak siap untuk membuat konsesi.

Hamas menginginkan kesepakatan yang mengakhiri perang dan membawa pembebasan para sandera, baik yang berasal dari Israel maupun warga asing yang ditahan di Gaza, serta warga Palestina yang dipenjara oleh Israel.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa perang ini hanya akan berakhir setelah Hamas dihancurkan.

Sementara militer Israel menyatakan bahwa tujuan operasi mereka di Gaza utara adalah untuk menghentikan serangan dan pergerakan pejuang Hamas, penduduk lokal khawatir bahwa tujuan utama Israel adalah untuk mengosongkan Gaza secara permanen, menjadikannya zona penyangga antara Israel dan wilayah Palestina.

 Israel membantah tuduhan ini, namun ketegangan dan keraguan di kalangan penduduk Gaza semakin meningkat.

Kondisi di Gaza semakin memburuk dengan banyaknya korban jiwa, cedera, dan kerusakan pada fasilitas vital, termasuk rumah sakit.

 Meskipun Israel mengklaim bahwa operasi militer mereka bertujuan untuk menghancurkan Hamas dan melindungi keamanan negara mereka, dampaknya terhadap warga sipil Palestina sangat besar.

Di tengah upaya gencatan senjata yang terhenti dan ketegangan yang terus meningkat, jalan menuju perdamaian tampaknya masih jauh.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved