Citizen Reporter
18 Malam di Malaysia dan Thailand
Namun, tentu saja berbeda dengan perjalanan saya dan mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang hanya 18 malam.
HARRI SANTOSO, S.Psi., M.Ed., Staf Pengajar pada Fakultas Psikologi UIN Ar-raniry Banda Aceh, melaporkan dari Pulau Pinang, Malaysia
Setidaknya judul “18 Malam di Malaysia dan Thailand” ini mengingatkan saya pada lagu lawas tahun ‘70-an yang dinyanyikan oleh Grup D'Lloyd, berjudul Semalam di Malaysia, lagu yang bercerita tentang pengalaman hidup bertahun-tahun di negeri seberang.
Namun, tentu saja berbeda dengan perjalanan saya dan mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang hanya 18 malam.
Namun, meskipun 18 malam, ada banyak pengalaman yang didapat, baik bagi saya sebagai dosen pembimbing lapangan (DPL) maupun mahasiswa sebagai peserta Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Internasional 2024.
Tentu ada yang bertanya mengapa 18 malam/hari? Sebagai sebuah mata kuliah wajib, KPM luar negeri dapat dilaksanakan selama 14 hari saja, berbeda dengan KPM regular dalam negeri yang biasanya dilakukan di desa-desa Indonesia dengan durasi 45 hari.
Kegiatan ini dilakukan di sela-sela libur panjang antara semester genap menuju semester ganjil pada pertengahan tahun. Kami menambah empat hari kegiatan dengan mengunjungi beberapa situs penting dan menarik, baik di Malaysia maupun di Thailand. Ini bagian penting dari proses belajar, yaitu mengambil hikmah di negeri seberang.
KPM internasional sudah lama berlangsung di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Tidak hanya Malaysia, beberapa negara seperti Thailand, Turkiye, dan Jepang juga menjadi tempat tujuan pelaksanaan KPM internasional. Khusus bagi Fakultas Psikologi, kegiatan KPM internasional ini merupakan kegiatan kedua. Sebelumnya ada kegiatan bersama dengan Universitas Utara Malaysia. Kegiatan ini saya gagas secara sederhana via WhatsApp dan e-mail dengan seorang guru besar di School of Science Universiti Sains Malaysia (USM), yakni Prof Kamarulzaman Askandar.
Beliau pernah menjadi ‘trainer’ dalam sebuah pelatihan bagi dosen pengajar hak asasi manusia (HAM) di Bangkok, Thailand, pada tahun 2023.
Beliau memperkenalkan saya pada Dekan School of Sciences Universiti Sains Malaysia (USM), Penang, Dr Mohammad Shaharuddin yang kemudian dengan sangat ramah memfasilitasi kegiatan ini. Mulai dari kehadiran di hari pertama hingga di hari terakhir mereka terus membersamai saya dan 17 mahasiswa.
Kegiatan ini berlangsung pada beberapa desa di Kedah, Malaysia, yaitu Permata Katong, Desa Keudah Tepi Sungai, Desa Kuala Dulang Kecil hingga Perumahan Taman Permai Utama.
Di seluruh desa kami selalu mendapatkan sambutan yang sangat baik dari segenap komponen masyarakat. Lantunan selawat badar selalu kami dengar manakala kami berpindah dari satu desa ke desa lainnya.
Kegiatan ini berlangsung pada banyak tempat di tengah masyarakat, mulai dari kegiatan bersama di pusat komunitas, surau, dan masjid hingga program anak angkat yang memberikan pengalaman sangat berarti bagi para peserta KPM.
Malah ada satu mahasiswa kami yang selalu diminta untuk menjadi imam shalat. Ia juga dijanjikan akan diundang menjadi imam shalat Tarawih pada Ramadhan tahun depan. Sebuah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Saya menyaksikan bagaimana sangat antusiasnya masyarakat yang kami datangi maupun mahasiswa peserta sehingga tidak jarang dari setiap peserta diajak oleh keluarga angkatnya untuk berjalan-jalan sambil berbincang bebas tentang budaya, hobi, hingga rencana masa depan mereka.
Program anak angkat adalah salah satu yang harus dijalani oleh mahasiswa peserta KPM. Mereka tinggal 2-3 malam bersama keluarga yang telah ditunjuk aparatur desa setempat. Melalui program ini mereka dapat merasakan bagaimana kehidupan riil masyarakat Malaysia secara lebih dekat, khususnya penduduk di Kedah.
| Obat-Obatan Masa Depan, dari Molekul Kimia Menjadi Harapan Baru bagi Pasien |
|
|---|
| Menulis Artikel tentang Dominasi Perempuan di Gereja Katolik, Mahasiswi UIN Ar-Raniry Diapresiasi |
|
|---|
| Liburan ke Sumatera Selatan, Dari Teluk Betung Hingga Palembang, Banyak Tradisi Banyak Pula Cerita |
|
|---|
| Dari Pertemuan FKUB: Perempuan di Garda Terdepan Pemulihan Pasca-Bencana Aceh |
|
|---|
| Aceh, Kisahku: Dari Luka ke Pengabdian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/HARRI-SANTOSO-OKE-LAGI-LAGI.jpg)