Opini
Membangun Sistem Pendidikan yang Adil untuk Mencetak Generasi Tangguh: Sebuah Utopia?
Lebih parah lagi, sistem asesmen yang seharusnya jujur dan objektif sering kali dimanipulasi demi kepentingan tertentu. Nilai-nilai akademik di-upgrad
Oleh: Samsul Bahri*)
SISTEM pendidikan seharusnya menjadi wadah bagi siswa untuk tumbuh menjadi individu yang cerdas, berkarakter, dan tangguh menghadapi tantangan. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Banyak sekolah dan lembaga pendidikan kini lebih berorientasi pada target jangka pendek, seperti kelulusan UTBK dan seleksi perguruan tinggi kedinasan, dibandingkan membangun fondasi keilmuan dan karakter yang kuat bagi siswa.
Lebih parah lagi, sistem asesmen yang seharusnya jujur dan objektif sering kali dimanipulasi demi kepentingan tertentu. Nilai-nilai akademik di-upgrade, bukan berdasarkan kompetensi nyata siswa, tetapi untuk memastikan mereka memenuhi syarat undangan UTBK dan seleksi kedinasan. Praktik semacam ini tidak hanya mencederai keadilan dalam pendidikan, tetapi juga melahirkan generasi yang rapuh—terlihat unggul di atas kertas, tetapi minim daya juang dalam kehidupan nyata.
Manipulasi Nilai: Menyelamatkan Siswa atau Merusak Masa Depan?
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa ada sekolah yang secara sistematis "menaikkan" nilai siswa agar tampak lebih unggul dalam seleksi nasional. Ini dilakukan bukan demi kemajuan siswa, tetapi demi reputasi sekolah atau tuntutan sistem yang lebih mementingkan angka daripada kompetensi.
Akibatnya, siswa yang seharusnya berjuang dengan kemampuannya sendiri justru terbiasa "dimudahkan" oleh sistem. Mereka kehilangan pengalaman berproses, kehilangan daya juang, dan akhirnya tumbuh menjadi individu yang tidak siap menghadapi tantangan dunia nyata. Pendidikan semacam ini hanya akan melanggengkan generasi strawberry—generasi yang mudah hancur ketika menghadapi tekanan.
Pendidikan Harus Berorientasi Jangka Panjang, Bukan Sekadar Lulus Seleksi
Jika kita ingin membangun sistem pendidikan yang benar-benar adil dan berkualitas, kita harus berani melakukan reorientasi target pendidikan. Pendidikan tidak boleh hanya menjadi alat untuk meloloskan siswa dalam seleksi tertentu, tetapi harus menjadi sarana untuk membentuk generasi yang mandiri, memiliki etos kerja tinggi, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Beberapa langkah yang harus segera dilakukan:
Mengembalikan Integritas Asesmen
Nilai harus mencerminkan kemampuan nyata siswa, bukan angka hasil manipulasi.
Menegakkan Etika dan Kejujuran dalam Dunia Pendidikan
Guru dan sekolah harus memiliki keberanian moral untuk menolak praktik kecurangan dalam penilaian.
Menyiapkan Siswa untuk Kehidupan Nyata, Bukan Sekadar Ujian
Kurikulum harus fokus pada keterampilan berpikir kritis, kemandirian, dan kemampuan problem-solving.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Samsul-73u3.jpg)