Berita Aceh Singkil
Bertaruh Nyawa di Sarang Buaya
Akan tetapi dorongan kebutuhan ekonomi, membuatnya nekat bertaruh nyawa demi mencari nafkah di sarang buaya.
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nurul Hayati
Akan tetapi dorongan kebutuhan ekonomi, membuatnya nekat bertaruh nyawa demi mencari nafkah di sarang buaya.
Penulis Dede Rosadi I Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Warga Aceh Singkil, yang tinggal di daerah aliran sungai dan muara hidup berdampingan dengan buaya.
Dimana ada sungai dan muara di situ terdapat buaya.
Buaya bukan hanya, mendiami sungai besar.
Aliran anak sungai juga sudah jadi rumah buaya.
Bedanya hanya ukuran saja.
Jika di sungai dan muara, merupakan habitat buaya besar.
Maka, anak sungai tempat buaya berukuran mini membesarkan diri.
Tak mengherankan, untuk melihat buaya cukup dengan menelusuri anak sungai di belakang permukiman penduduk.
Kondisi itu menunjukan populasi buaya sudah sangat tinggi di Kabupaten Aceh Singkil.
Berdasarkan catatan, setidaknya ada empat kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil, yang jadi habitat buaya.
Masing-masing Kecamatan Singkil, Singkil Utara, Kuala Baru dan Pulau Banyak Barat.
Baca juga: Tim BKSDA Pasang Perangkap Harimau di Perkebunan PTPN III Aceh Timur
Di empat kecamatan itu, buaya mudah saja ditemui.
Bahkan kerap berkonflik dengan manusia.
Konflik manusia versus buaya terjadi di Kecamatan Singkil, Kuala Baru dan Pulau Banyak Barat.
Sementara di Kecamatan Singkil Utara, sejauh ini buaya hanya terlihat di dekat rumah penduduk Ketapang Indah.
Sesekali terlihat di danau Anak Laut.
Nahasnya, sungai dan muara merupakan tempat bagi warga menggantungkan hidup mencari nafkah.
Mulai dari menangkap ikan, siput, lokan (kerang sungai) hingga pucuk nipah.
Warga menyadari, jika sungai dan muara merupakan habitat buaya.
Akan tetapi dorongan kebutuhan ekonomi, membuatnya nekat bertaruh nyawa demi mencari nafkah di sarang buaya.
"Dorong kebutuhan ekonomi membuat warga tetap ke sungai, walau tahu ada buaya," kata Pukak Dragon warga Rantau Gedang, yang berada di daerah aliran sungai.
Baca juga: Pemkab Aceh Timur Gelar Pertemuan dengan BKSDA Aceh Bahas Konflik Satwa Liar
Konflik manusia versus manusia di Kabupaten Aceh Singkil, merupakan kejadian berulang.
Di daerah aliran sungai saja, sudah dua kali terjadi dalam rentang waktu 12 hari.
Pertama, buaya menerkam Kaetek perempuan berusia 59 tahun asal Desa Teluk Rumbia, Kecamatan Singkil pada 27 Januari 2025.
Korban selamat, setelah mendapat perawatan di Puskesmas Singkil, akibat menderita luka bekas gigitan buaya di bagian lengan.
Terbaru konflik manusia vs buaya terjadi, Sabtu (8/2/2025).
Kali in,i korbannya bernama Sawiyah (63) perempuan asal Desa Rantau Gedang, Kecamatan Singkil.
Korban masih dinyatakan hilang, setelah sempat muncul ke permukaan sungai dengan bagian tubuh digigit buaya.
Terkait hal itu, Dragon berharap Pemkab Aceh Singkil, memberikan solusi.
Sehingga buaya tidak lagi mengganggu manusia.
Baca juga: Warga Singkil Hilang Diterkam Buaya, Konflik Manusia Vs Buaya Kejadian Berulang
Desa Rantau Gedang bersebelahan dengan Desa Teluk Rumbia.
Dua desa tersebut berada di pinggir aliran sungai Singkil yang lebarnya mencapai 300 meter lebih.
Penduduk di sana menjadikan sungai sebagai sumber mata pencaharian.
Kedua korban yang diserang buaya, sama sedang mencari penghidupan di sungai.
Kaetek diserang buaya ketika mencari siput.
Sedangkan korban terbaru yaitu, Sawiyah diserang buaya saat mengangkat perangkap udang.
Saat kejadian pertama, warga sempat menyuarakan agar ada penanganan dari pihak berwenang untuk mengatasi konflik manusia vs buaya.
Sebab, muncul kekhawatiran serangan buaya akan berlanjut.
Akan tetapi, suara keluhan warga belum membuahkan hasil.
Justru serangan buaya kepada manusia kembali terulang.
Sementara itu, warga masih terus melakukan pencarian menggunakan perahu.
Tim SAR gabungan juga sudah diterjunkan ke lokasi untuk membantu warga melakukan pencarian.
Namun, upaya pencarian belum membuahkan hasil.
"Nama korban Sawiyah umur 63 tahun perempuan," kata Camat Singkil Khairudin, saat dikonfirmasi identitas korban hilang diterkam buaya.
Saat melakukan pencarian, warga sempat melihat tubuh korban muncul ke permukaan sungai sambil digigit buaya.
Hal itulah yang menguatkan fakta jika Sawiyah, hilang diterkam buaya.
Proses pencarian terus dilakukan dengan melibatkan lebih banyak lagi perahu.
Pencarian dilakukan dengan menyisir pinggir sungai.
Sesekali perahu berputar di lokasi yang disinyalir tempat korban tenggelam ditarik buaya.
Dengan harapan buaya segera melepaskan tubuh korban.
Sayangnya, upaya yang dilakukan belum membuahkan hasil.(*)
Baca juga: BREAKING NEWS - Warga Rantau Gedang Hilang Diterkam Buaya
| Presiden Mahasiswa Desak Dana Jadup Korban Banjir Aceh Singkil Segera Disalurkan |
|
|---|
| Harga Sawit Naik di Seluruh Wilayah Aceh Singkil, Pupuk Masih Melambung |
|
|---|
| Tokoh Singkil Ingin Dapil Baru DPRA Karena Caleg Singkil Tak Pernah Lolos Pemilu |
|
|---|
| Perjuangkan Pembentukan Dapil Aceh Singkil & Subulussalam, Pekan Ini Puluhan Tokoh Datangi KIP |
|
|---|
| Harga Minyakita di Aceh Singkil Rp 22 Ribu Per Liter |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Proses-pencarian-Sawiyah-warga-Rantau-Gedang-Kecamatan-Singkil-Kabupaten-Aceh-Singkil.jpg)