Konflik Rusia dan Ukraina
Trump: “Lebih Sulit Berurusan dengan Ukraina daripada Rusia”
Dalam sebuah wawancara di Ruang Oval pada hari Jumat (7/3/2025), Trump mengatakan bahwa, secara jujur, dia merasa "lebih sulit berurusan dengan Ukrain
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM -Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, baru-baru ini menyampaikan pendapatnya tentang tantangan yang dihadapi AS dalam upaya menengahi perdamaian antara Ukraina dan Rusia.
Dilansir dari BBC News (8/3/2025), dalam sebuah wawancara di Ruang Oval pada hari Jumat (7/3/2025), Trump mengatakan bahwa, secara jujur, dia merasa "lebih sulit berurusan dengan Ukraina" daripada dengan Rusia.
"Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Rusia, mungkin lebih mudah berinteraksi dengan Moskow daripada dengan Kyiv," ujarnya.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah Trump mengungkapkan bahwa ia tengah mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi dan tarif besar-besaran terhadap Rusia, sebagai upaya untuk mendorong tercapainya gencatan senjata dengan Ukraina.
Keputusan tersebut menunjukkan ketegangan yang semakin meningkat dalam hubungan AS dengan Ukraina, yang beberapa waktu lalu sempat mengalami konflik diplomatik dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky.
Pada saat yang bersamaan, informasi yang diperoleh BBC Verify mengungkapkan bahwa AS telah menangguhkan sementara akses Ukraina ke beberapa citra satelit berkualitas tinggi.
Perusahaan teknologi luar angkasa, Maxar, yang menyediakan citra satelit kepada berbagai pemerintah dan perusahaan, mengonfirmasi bahwa akun Ukraina untuk program Global Enhanced GEOINT Deliver (GEGD) telah dihentikan.
Citra satelit ini merupakan alat vital bagi Ukraina, karena memungkinkan pasukan untuk mengumpulkan intelijen tentang pergerakan musuh mereka.
Langkah ini diambil setelah Trump menghentikan bantuan militer kepada Ukraina dan mengurangi pembagian informasi intelijen yang sebelumnya diberikan kepada Kyiv.
Tindakan tersebut terjadi setelah terjadinya sebuah peristiwa luar biasa di Gedung Putih, di mana Trump secara terbuka mencaci Zelensky karena dianggap "tidak sopan" terhadap AS.
Sebagai respon, Trump kemudian menghentikan semua bantuan militer dan pembagian informasi intelijen dengan Ukraina.
Pada hari Kamis malam, serangan besar-besaran oleh Rusia menggunakan rudal dan pesawat tak berawak menghantam infrastruktur energi Ukraina, yang menyebabkan kerusakan parah.
Baca juga: Pasukan Israel Larang Warga Palestina Shalat Jumat Perdana Bulan Ramadhan di Masjid Al-Aqsa
Trump mengaitkan serangan ini dengan ancaman sanksi lebih lanjut terhadap Rusia. Dia mengatakan sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan tarif baru karena "Rusia benar-benar menggempur Ukraina di medan perang saat ini."
Meski begitu, beberapa jam setelah itu, Trump menyatakan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, bertindak seperti orang lain dalam posisi yang serupa.
"Saya pikir dia [Putin] menyerang mereka [Ukraina] lebih keras dari sebelumnya, dan saya rasa siapa pun yang berada di posisi itu mungkin akan melakukan hal yang sama," kata Trump.
| Perang Rusia vs Ukraina Semakin Meluas, Kini Berkecamuk di Darat dan Laut Front Timur |
|
|---|
| Rusia Lancarkan Serangan Udara Besar-besaran ke Ukraina, Polandia Siaga Jet Tempur |
|
|---|
| Trump Ubah Haluan! Dukung Ukraina Rebut Krimea dan 20 Persen Wilayah yang Dikuasai Rusia |
|
|---|
| 3 Tahun Perang, Presiden Rusia & Ukraina Akhirnya Siap Bertemu 2 Pekan Lagi |
|
|---|
| Janji Damai Omong Kosong? Putin Sebut Ingin Damai, Tapi Malam Itu Juga Ukraina Dibombardir 270 Drone |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Presiden-Ukraina-Volodymyr-Zelensky-dan-Presiden-AS-Donald-Trump-1-3.jpg)