Opini

Era Baru Wakaf Aceh

Sasaran utama GAB ini adalah mengembalikan sektor wakaf sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi

Editor: Ansari Hasyim
IST
Fahmi M Nasir, Pengamat Perkembangan Wakaf 

Oleh: Fahmi M Nasir*)
 
SEJAK tahun 2006, pembagian dana bagi hasil pengelolaan aset wakaf Baitul Asyi di Makkah menarik perhatian masyarakat Aceh terhadap keberadaan Baitul  Asyi itu sendiri dan juga kondisi sektor wakaf secara umum. 
 
Sayang sekali, sampai tahun ini, perhatian yang diberikan masih bersifat musiman dan parsial sehingga ia belum mampu menjadi momentum untuk mengembangkan dan melakukan transformasi wakaf di Aceh.
 
Saat ini, momentum tersebut kembali hadir ketika Gubernur Aceh Muzakir Manaf meluncurkan Gerakan Aceh Berwakaf (GAB) bertepatan dengan malam Nuzulul Quran di bulan Ramadhan yang mulia. 
 
Sasaran utama GAB ini adalah mengembalikan sektor wakaf sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi di Aceh melalui rangkaian program yang disusun rapi dan bersifat komprehensif. 
 
GAB merupakan manifestasi dari visi, misi dan program kerja yang ditawarkan oleh Gubernur – Wakil Gubernur Aceh 2025-2030 ketika kontestasi Pilkada berlangsung di akhir tahun lalu. Setelah mereka terpilih, maka visi Mualem – Dek Fahd ini, bertransformasi menjadi visi Pemerintah Aceh.

Baca juga: Kanji dari Sawah Wakaf, Tradisi Berbagi yang Terus Lestari di Masjid Lama Idi Rayeuk

Apa yang menjadi visi Pemerintah Aceh periode 2025-2030? Visi Pemerintah Aceh 2025-2030 adalah mewujudkan Aceh Islami, Maju, Bermartabat dan Berkelanjutan. Hal ini akan diimplementasikan melalui 9 Program Gerak Cepat (PGC), 21 program prioritas dan 292 program kerja secara keseluruhan selama lima tahun pemerintahan Mualem – Dek Fadh.
 
9 Program Gerak Cepat (PGC) adalah Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) Unggul, Dana Abadi Pendidikan dan Beasiswa Unggul, Kekayaan Bumi Aceh untuk Kemakmuran Rakyat, Guru Unggul dan Sekolah Unggul, Satu Data Aceh, Lumbung Pangan Gratis, Makanan Bergizi Gratis, Pusat Rehabilitasi Unggul Aceh, dan Baitul Mal Gampong (BMG). 
 
Mengapa BMG menjadi salah satu program gerak cepat? Hal ini disebabkan oleh BMG sebagai salah satu entitas penting dalam tata kelola wakaf Aceh.
 
Jadi pembentukan dan optimalisasi BMG ini memiliki dua sasaran kembar yaitu, pertama, memajukan ekonomi gampong di sektor wakaf produktif, kedua melakukan penguatan dan pengembangan ekosistem wakaf secara komprehensif demi tercapainya akselerasi transformasi wakaf di Aceh. Realisasi akselerasi transformasi wakaf akan menjadikan sektor wakaf sebagai salah satu pilar pertumbuhan dan ketahanan ekonomi Aceh ke depan.   
 
Apa saja langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh untuk menyukseskan Gerakan Aceh Berwakaf? Pemerintah Aceh dan pemangku kepentingan terkait di Aceh sedang merancang dengan rapi dan komprehensif berbagai program dalam sektor wakaf untuk dapat segera diimplementasikan dan juga akan dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2025-2030.
 
Di antara langkah yang akan dilakukan adalah mengadakan Kongres Wakaf Aceh (KWA) atau untuk lebih besar impaknya, di tingkat global, bisa dinamakan dengan ‘Aceh Waqaf Summit’. Mengapa demikian? Pengembangan sektor wakaf secara komprehensif ini memerlukan satu landasan awal dan fondasi yang kuat. 
 
KWA akan menjadi tempat para pemangku kepentingan bertukar pikiran dan gagasan, mengidentifikasi segala tantangan dan potensi sektor wakaf, menawarkan solusi pengembangan wakaf secara komprehensif, mengidentifikasi mitra dan calon mitra untuk mengembangkan aset wakaf di Aceh, dan menghasilkan dokumen Peta Jalan Wakaf Aceh (PJWA) yang menjadi pedoman pengembangan wakaf di daerah kita. Output lain dari KWA adalah pembentukan Forum Wakaf Aceh (FWA) untuk mengawal implementasi PJWA.
 
Langkah berikutnya adalah membentuk BMG bagi gampong di Aceh yang belum memiliki BMG. Bagi gampong yang sudah mendirikan BMG, maka akan dilakukan optimalisasi BMG melalui peningkatan kapasitas pengurus dan implementasi beragam skema program wakaf produktif, termasuk proyek wakaf percontohan di setiap kabupaten/kota.
 
Untuk membangun dan memperkuat ekosistem wakaf, pembentukan dan optimalisasi lembaga wakaf di sekolah, masjid, dayah, lembaga wakaf ataupun badan usaha yang bergerak dalam berbagai proyek berbasis wakaf akan dilakukan secara masif. Semua usaha tersebut akan melibatkan seluruh elemen masyarakat Aceh.
 
Keikutsertaan seluruh elemen masyarakat Aceh merupakan kunci kejayaan wakaf Aceh di masa lalu. Keikutsertaan seluruh elemen masyarakat juga merupakan manifestasi bahwa wakaf sudah menjadi gaya hidup mereka di masa lampau. 
 
Peran serta semua elemen masyarakat dalam sektor wakaf dan menjadikan wakaf sebagai gaya hidup perlu kita replikasi agar wakaf Aceh dapat berkembang secara masif dan eksponensial, serta secara otomatis berarti suksesnya implementasi Gerakan Aceh Berwakaf.
 
Untuk sampai ke tahap wakaf sudah menjadi gaya hidup, maka salah satu langkah paling fundamental yang akan dilakukan adalah sosialisasi secara berkesinambungan untuk meningkatkan literasi wakaf
 
Aktivitas terkait sosialisasi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain seminar wakaf, menulis beragam tema wakaf untuk dipublikasikan di berbagai media, optimalisasi penggunaan media sosial, seperti podcast, untuk diseminasi konsepsi dan ide-ide aktual wakaf, atau program wakaf yang sedang dilakukan oleh pemerintah, memperbanyak khutbah dan ceramah yang menjadikan wakaf sebagai tema utamanya, mendirikan pusat studi wakaf di berbagai universitas di Aceh, serta memperbanyak even-even lain yang berhubungan dengan wakaf.
 
Usaha sistematik sosialisasi dan literasi wakaf ini akan berhasil ketika ia sudah mencapai level massa kritis (critical mass). Bila sudah sampai ke tahap ini, maka wakaf sudah pun kembali menjadi arus utama (mainstream). 
 
Ketika wakaf sudah berada di arus utama dan sudah menjadi gaya hidup, maka wakaf sudah berada di titik peradaban tertinggi di mana ia mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis bagi pengembangan sosial ekonomi masyarakat, khususnya di sektor kesehatan dan pendidikan sehingga ia mampu menalangi anggaran belanja pemerintah di sektor terkait.
 
Apa tolok ukur wakaf sudah menjadi gaya hidup? Birol Baskan, penulis dari Turki, menukilkan mengenai budaya wakaf Turki pada masa Kerajaan Usmani. Ia menulis bahwa, “Seseorang itu mungkin akan lahir di rumah wakaf, tidur di dalam ayunan wakaf, makan dan minum dari hasil aset wakaf, ketika membaca buku, buku-buku itu pun berasal dari wakaf, belajar di sekolah wakaf, bekerja di lembaga wakaf, ketika dia meninggal dunia dia akan dibawa dengan keranda jenazah yang merupakan aset wakaf dan selanjutnya dimakamkan di pemakaman wakaf”. 
 
Tolok ukur keberhasilan Gerakan Aceh Berwakaf adalah jika selama ini hanya jamaah haji Aceh saja yang menerima dana bagi hasil pengelolaan Wakaf Habib Bugak Asyi di Makkah, maka ke depan masyarakat di Aceh juga menerima dana bagi hasil pengelolaan aset wakaf yang ada di Aceh. Bahkan tidak salah kita berharap agar pengelolaan dana wakaf di Aceh dikelola secara profesional, mungkin saja melalui ‘Dana Abadi Wakaf Aceh’ di mana ke depannya jumlah,  nilai aset, dan dana bagi hasilnya lebih besar daripada Wakaf Habib Bugak Asyi.
 
Marilah kita berpartisipasi aktif sesuai dengan kapasitas yang kita miliki untuk menyukseskan Gerakan Aceh Berwakaf. 

*) Penulis adalah penulis buku Isu-Isu Kontemporer Wakaf Indonesia)
Email: fahmi78@gmail.com 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved