Berita Luar Negeri
Perang Dagang AS-China Makin Memanas, Tarif Naik 104 Persen, Siapa yang Akan Menyerah Lebih Dulu?
"Adalah suatu kesalahan jika berpikir bahwa Tiongkok akan mundur dan menghapus tarif secara sepihak," kata Alfredo Montufar-Helu, penasihat senior di
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Muhammad Hadi
Perang Dagang AS-China Makin Memanas, Tarif Naik 104 Persen, Siapa yang Akan Menyerah Lebih Dulu?
SERAMBINEWS.COM-Perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, yaitu Amerika Serikat (AS) dan China, semakin memanas dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat.
Beijing telah berjanji untuk "berjuang sampai akhir" setelah Presiden AS Donald Trump mengancam untuk menggandakan tarif terhadap China, yang berpotensi membuat sebagian besar barang impor dari China menghadapi tarif hingga 104 persen.
Kenaikan tarif ini adalah peningkatan yang sangat tajam, dan dapat mempengaruhi banyak barang yang diekspor China ke AS, mulai dari ponsel pintar, komputer, baterai lithium-ion, mainan, hingga konsol permainan video, bahkan barang-barang kecil seperti sekrup dan ketel uap.
Saat tenggat waktu yang semakin dekat, Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan mulai hari Rabu (9/4/2025).
Ini menimbulkan pertanyaan besar: Siapa yang akan menyerah lebih dulu?
"Adalah suatu kesalahan jika berpikir bahwa Tiongkok akan mundur dan menghapus tarif secara sepihak," kata Alfredo Montufar-Helu, penasihat senior di China Center di lembaga pemikir The Conference Board.
Menurutnya, jika China mundur, negara tersebut akan terlihat lemah, dan itu bisa memberi AS kesempatan untuk meminta lebih banyak.
"Kita sekarang telah mencapai jalan buntu yang kemungkinan akan menyebabkan kesengsaraan ekonomi jangka panjang," tambahnya.
Sejak tarif Trump mulai berlaku, pasar global mengalami penurunan.
Saham di Asia, yang mengalami penurunan terburuk dalam beberapa dekade pada hari Senin, sedikit pulih pada hari Selasa, namun ketidakpastian terus menghantui pasar.
China juga tidak tinggal diam, mereka membalas dengan tarif balasan sebesar 34 persen terhadap produk AS dan Trump sudah memperingatkan bahwa AS akan membalas dengan tarif tambahan 50 persen jika Beijing tidak mundur.
Keadaan semakin tegang dengan lebih banyak tarif yang akan diberlakukan, beberapa di antaranya lebih dari 40 persen.
Tarif untuk produk China akan naik menjadi 54 persen, sementara tarif untuk Vietnam dan Kamboja akan melonjak masing-masing menjadi 46 persen dan 49 persen.
Para ahli khawatir bahwa kenaikan tarif ini akan mempengaruhi banyak negara, khususnya di Asia, dan menciptakan ketidakpastian yang tinggi.
| Pengakuan Trump Usai Penembakan: "Andai Tahu Jabatan Presiden Berbahaya, Saya Tidak Calonkan Diri" |
|
|---|
| Detik-Detik Presiden Trump Nyaris Jadi Sasaran Penembakan, Pelaku Serbu Ruang Dansa di Gedung Putih |
|
|---|
| Iran Gak Mau Berunding Lagi dengan AS: Tak Ada Kompromi untuk Tuntutan Sepihak Washington |
|
|---|
| 191 Tewas Selama 4 Hari Perayaan Festival Air ‘Songkran’di Thailand, 911 Orang Terluka |
|
|---|
| Setelah Filipina, Krisis BBM Kini Hantam Bangladesh, Antrean SPBU Mengular Akibat Pasokan Kurang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Presiden-AS-Donald-Trump-kiri-dengan-Presiden-Cina-Xi-Jinping-kanan.jpg)