Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Semarak Idulfitri di Kota Frankfurt

Pada momentum Idulfitri 1446 H ini, saya dan suami bertolak ke Kota Frankfurt, yang jaraknya sekitar dua jam dari tempat kami bermukim.

Tayang:
Editor: mufti
IST
NURHASANAH, S.Pd., Diaspora Indonesia yang bermukim di Kerpen-Köln, Jerman, Pegiat Forum Lingkar Pena (PLP )Aceh, dan Pengurus TBM Jambo Minda, melaporkan dari Jerman 

NURHASANAH, S.Pd., Diaspora Indonesia yang bermukim di Kerpen-Köln, Jerman, Pegiat Forum Lingkar Pena (PLP )Aceh, dan Pengurus TBM Jambo Minda, melaporkan dari Jerman

Setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan di rantau sebagai minoritas, tentu momentum Idulfitri merupakan hal yang sangat dinantikan oleh diaspora Indonesia yang ada di Jerman.

Di Jerman, presentase warga muslim diperkirakan mencapai 6 sampai 7 persen  (seitar 5,8 juta) dari populasi yang ada (sekitar 83,28 juta). Hal ini tentu saja berbanding terbalik dengan Indonesia. Dilansir oleh Kadata Media Network, presentase penduduk yang beragama islam di Indonesia mencapai 87,08 persen  pada tahun 2024. 

Oleh karena itu, menjalankan ibadah puasa di Jerman sedikit lebih menantang. Terlebih lagi jika bulan Ramadhan jatuh pada musim panas di bulan Juni di mana matahari biasanya terbit lebih cepat dan terbenam lebih lama hingga pukul 10.00 (Central European Summer Time) CEST.

Pada momentum Idulfitri 1446 H ini, saya dan suami bertolak ke Kota Frankfurt, yang jaraknya sekitar dua jam dari tempat kami bermukim. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Frankfurt bekerja sama dengan Masjid Indonesia Frankfurt, mengundang seluruh diaspora Indonesia yang ada di wilayah Kota Frankfurt dan sekitarnya, untuk melaksanakan kegiatan shalat Idulfitri, ‘open house’, dan halalbihalal Idulfitri 1446 Hijriah. 

Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan pada 30 Maret 2025, sehari lebih cepat dari hari Idulfitri di Indonesia. Untuk kegiatan shalat Idulfitri berjemaah dimulai pada pukul 09.00 (Central European Summer Time) CEST di Aula Gedung Serbaguna Kota Frankfurt atau yang lebih dikenal dengan Mainfeld Kulturzentrum Frankfurt.

Ustaz Hartanto Saryono Lc., Al Hafizh, hadir sebagai imam dan sekaligus khatib pada kegiatan tersebut. Adapun total jemaah yang hadir saat Idulfitri tahun ini diperkirakan mencapai 500 jemaah.

Selepas melaksanakan ibadah shalat Idulfitri, Ustaz Hartanto menyampaikan beberapa hal dalam khutbahnya. Para jemaah yang hadir, diajak untuk mengevaluasi ibadah yang telah terlaksana selama bulan Ramadhan karena kita tidak akan pernah tahu, apakah nantinya Allah akan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan selanjutnya atau tidak.

Ia pun menjelaskan bahwa kita berada di antara dua hal, yaitu berharap dan memohon agar segala amalan ibadah kita diterima oleh Allah Swt (raja’) dan di sisi lainnya rasa kekhawatiran jika sekiranya Allah tidak menerima amal ibadah kita (khauf).

 “Generasi terdahulu melakukan kebiasaan setelah Ramadhan untuk berdoa selama enam bulan agar ibadah yang dilaksanakan di bulan Ramadhan diterima oleh Allah Swt,” jelas Ustaz Hartanto.

Selanjutnya, beliau juga menyampaikan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., terkait hal yang paling dicintai oleh Allah Swt.   “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt adalah ibadah yang paling kontinyu, meskipun hanya sedikit.”

Terlihat jemaah mendengarkan khutbah tersebut dengan saksama. Perasaan haru dan penuh syukur pun seketika hadir di lubuk sanubari, karena untuk pertama kalinya saya diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk dapat melaksanakan salat Idulfitri bersama warga Indonesia lainnya di perantauan. Kegiatan khutbah ini pun ditutup dengan doa, dan kemudian dilanjutkan dengan pengumuman lomba Tahfiz Al-Qur’an serta agenda salam-salaman.

Menjelang pukul 11.00 CEST, semarak Idulfitri di Kota Frankfurt semakin terlihat dengan adanya kegiatan  ‘open house’ dan halalbihalal di Wisma Indonesia yang lokasinya tidak begitu jauh dari tempat pelaksanaan shalat Idulfitri.

Suasana Kota Frankfurt yang masih terbilang dingin, tidak menyurutkan semangat warga Indonesia untuk memenuhi undangan dan kegiatan tersebut.

Terlihat kurang lebih 1.000 diaspora Indonesia, termasuk jemaah shalat Idulfitri yang hadir sebelumnya, memadati lokasi kediaman Wisma Indonesia dengan  tertib. Kami dan para rombongan lainnya pun disambut langsung oleh  Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt, Bapak Antonius Yudi Triantoro, Ibu Tensi Triantoro, beserta jajarannya, dan Ketua Masjid Indonesia di Frankfurt, Bapak Tito Prabowo bersama perwakilan masjid lainnya. 

Di tengah antrean yang panjang, Bapak Yudi dan Ibu Tensi pun menyempatkan untuk menyapa para rombongan yang hadir, termasuk saya dan suami.

Pelaksanaan ‘open house’ dan halalbihalal pun diawali dengan pembukaan yang disampaikan oleh Ibu Cut yang bertugas sebagai pewara (MC). Kemudian, dilanjutkan dengan kata sambutan yang disampaikan Bapak Tito yang diwarnai dengan pantun, membuat suasana menjadi lebih santai.

Selanjutnya,  Bapak Yudi pun turut menyampaikan pidato sambutannya dan mengapresiasi para warga Indonesia yang sudah berusaha hadir untuk berkumpul pada kegiatan tersebut.

Ia menyatakan bahwa Wisma Indonesia adalah rumah bagi kita semua. Dalam sambutannya, Bapak Yudi pun menyampaikan dua hal penting terkait silaturahmi. Hal yang pertama yaitu pentingnya menjaga silaturahmi sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa dalam konteks kehidupan di Indonesia, orang rela bermacet-macetan dalam waktu 12 jam demi bisa bersilaturahmi ke kampung halamannya.

Adapun hal kedua yang disampaikan yaitu keinginan beliau agar silaturahmi ini menjadi modal besar bagi warga Indonesia yang hidup di Jerman.

“Sifat silaturahmi ini saya harapkan menjadi lem perekat bagi persatuan kita semua untuk saling tolong-menolong di antara sesama warga Indonesia. Dua hal yang penting, silaturahmi dan persatuan, suatu hal yang tidak dapat dipisahkan,” jelas Pak Yudi.

Kemudian, kegiatan ini juga diisi dengan sambutan bersama dari berbagai perwakilan kelompok organisasi dan masyarakat lainnya, seperti perwakilan dari Gereja Misi Indonesia Frankfurt (GMIF), Masyarakat Katolik Indonesia Frankfurt (MKIF), Jemaat Indonesia Immanuel Darmstadt (JIII), (Jemaat Kristus Indonesia Rhein-Main (JKI), GBI Rock Jerman, Nyama Braya Bali, dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Frankfurt (PPI Frada).

Turut hadir Ketua Masyarakat Muslim Indonesia di Frankfurt,  Bapak Sumardji Kertasentana, bersama para undangan lainnya. Acara ini pun ditutup dengan doa, makan siang, dan sesi foto bersama.

Makanan Indonesia yang dihidangkan pun juga beraneka ragam, seperti lontong yang sudah dilengkapi dengan kuah lemaknya, rendang, opor ayam, sambal goreng, dan kerupuk. Saya pun sempat mencicipi sambal terasi yang juga disediakan di sana.  

Selain itu, terdapat aneka minuman dan snack seperti risol, bolu pandan, kue lapis, dan  lain-lain.

Momentum Idulfitri di sini pun diharapkan dapat menjadi wadah bagi masyarakat Indonesia  untuk melepas rindu dengan suasana Lebaran di kampung halaman. Terlihat dari para raut wajah semua rombongan  yang hadir, tampak sangat menikmati suasana sembari berbincang ringan antarsesama.

Seluruh rangkaian kegiatan yang selesai pada siang hari tersebut, berjalan dengan tertib dan penuh suka cita. Menariknya, diaspora Indonesia yang hadir juga dapat berfoto di ‘photobooth’ yang telah disiapkan dengan sedemikian rupa.

Saya sangat mengapresiasi KJRI Frankfurt beserta jajarannya, seluruh pengurus Masjid Indonesia di Frankfurt, dan semua pendukung yang terlibat, yang telah sukses melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan di hari yang fitri.

Kendatipun jauh dari kampung halaman, suasana Idulfitri di Kota Frankfurt ini pun begitu terasa dan semarak. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved