Banda Aceh
Pasangan Gay Meningkat, Lesbi pun Ada, Aceh Terancam Dilanda Tsunami AIDS
Saat digerebek warga pada 7 November 2024 malam, kedua terdakwa dalam keadaan bugil dan mengaku barusan melakukan
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Nur Nihayati
Saat digerebek warga pada 7 November 2024 malam, kedua terdakwa dalam keadaan bugil dan mengaku barusan melakukan
Laporan Yarmen Dinamika l Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM - Aceh kini berada di ambang mencemaskan sehubungan dengan meningkatnya kasus homoseksual (orang yang tertarik pada jenis kelamin yang sama).
Masih segar di ingatan kita pada Senin (24/2/2025) lalu majelis hakim Mahkamah Syar'iyah Banda Aceh yang diketuai Dr Hj Sakwanah SAg, SH, MH, memvonis bersalah terdakwa AI dan DA, pasangan sesama lelaki atas tindak pidana melakukan hubungan sejenis (liwath).
Saat digerebek warga pada 7 November 2024 malam, kedua terdakwa dalam keadaan bugil dan mengaku barusan melakukan hubungan 'backstreet'.
Kedua mahasiswa itu pun sudah menjalani hukuman (uqubat) cambuk di depan umum: AI 85 kali dan DA 80 kali.
AI disebat lebih banyak karena darinyalah muncul ajakan untuk melakukan liwath di kamar kosnya, kawasan Rukoh, Darussalam, Banda Aceh.
Kasus dua mahasiswa Banda Aceh yang terlibat hubungan sejenis dan sudah divonis bersalah itu hanyalah fenomena gunung es.
Di lapis bawahnya tersembunyi fakta memprihatinkan.
Hanya berselang dua bulan terungkap lagi satu pasangan gay yang juga berstatus mahasiswa dipergoki petugas Satpol PP dan WH Banda Aceh pada Rabu (16/4/2025) dini hari sedang bercumbu mesra di toilet Taman Sari, Banda Aceh.
Penangkapan dua pria terduga pasangan gay tersebut dilakukan sekitar pukul 03.00 WIB, sebagaimana diakui Plt Kasatpol PP dan WH Banda Aceh, Muhammad Rizal, saat dikonfirmasi Serambinews.com.
“Benar, ada diamankan terduga pasangan gay dua malam lalu,” kata Rizal, Jumat (18/4/2025) siang.
Ia mengatakan, keduanya tertangkap tangan oleh petugas sedang asyik berduaan di dalam toilet.
Namun, ketika diamankan keduanya tidak sedang melakukan hubungan badan, hanya bermesraan khas kaum gay.
Seorang psikolog yang juga pendidik di Banda Aceh mengaku kasus homo dan lesbi di Aceh, terutama di Banda Aceh, memang meningkat akhir-akhir ini.
"Bahkan level siswa pun ada," ungkapnya menjawab Serambinews.comdi Banda Aceh, Sabtu (19/4/2025) siang.
Karena diminta Serambinews.com, psikolog ini pun menyebutkan beberapa contoh kasus.
Ia telah mendata kasus ini berbilang tahun, bukan baru sekarang.
Tahun lalu, menurutnya, ada dua siswa yang dibawa orang tuanya ke kantor sang psikolog di Banda Aceh.
Keduanya masih duduk di bangku SMA dan anak tersebut menjadi korban sodomi rekannya.
"Maksud rekan di sini adalah teman sekolah korban," ujarnya menjelaskan.
Contoh kasus lainnya: awal 2024, siswi SMP dari kota X di Aceh datang ke kantor sang psikolog untuk konsultasi.
Anak itu dibawa orang tuanya atas rekomendasi gurunya.
"Yang bersangkutan ternyata korban lesbi teman sekelasnya," ungkap sang psikolog.
Ia juga tak heran kenapa di antara terpidana kasus sodomi di Banda Aceh ada yang baru satu semester kuliah di perguruan tinggi.
Soalnya, di level SMA pun sudah ada pelakunya.
Mestinya, kata dia melanjutkan, harus ada keseriusan untuk penanganan kasus-kasus seperti ini.
Ada juga perempuan Aceh terpelajar yang semula tak percaya bahwa homoseks kini meningkat kasusnya di Banda Aceh.
"Saya kira, kasus seperti ini hanya terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Eh, ternyata di Banda Aceh yang dijuliki Kota Pelajar dan Mahasiswa pun terjadi. Bahkan pelakunya mahasiswa, berprestasi pula," kata Rina Yulistia SE MM, alumnus Universitas Gunadarma, Jakarta, yang prihatin atas fenomena ini karena ia berasal dari Aceh.
"Ya, semakin menyedihkan memang," timpal psikolog lainnya.
Melalui WA, Wali Kota Banda Aceh, Hj Illiza Sa'adudin Djamal yang belakangan ini gencar melakukan razia maksiat berkata singkat," Iya, parah sekali Banda Aceh," sambil menyertakan emoji bercucur air mata. ????
Di mata seorang psikolog lainnya, Aceh makin jauh berubah. "Dan kita tak boleh lagi tinggal diam menghadapi kenyataan ini.
Maunya ada yang bikin pertemuan dengan melibatkan beberapa pihak terkait untuk membahas soal ini. Soalnya, ini udah kebablasan," keluhnya.
Psikolog ini juga mengungkapkan bahwa pada bulan Februari lalu ia bertemu temannya sesama psikolog yang pernah mewawancarai beberapa orang di posko tempat kaum gay Banda Aceh sering ngunpul.
Posko itu berada di sebuah warung kopi (warkop). Posko-posko kecil seperti itu juga tersebar di beberapa warkop dan kafe.
"Terselubung, tetapi bisa diselidiki lebih jauh untuk mengungkap faktanya," tambah psikolog tersebut.
Sumber terpercaya menyebutkan kepada sang psikolog: rata-rata mereka melayani pelanggannya dengan imbalan Rp500.000 per trip.
"Pelanggannya kalangan terdidik pula tuh. Kalau kita dengar detail ceritanya, mau pingsan rasanya," kata psikolog tadi.
"Kalau yang berwenang tak cepat bertindak, khawatirnya terjadi tsunami AIDS di Aceh suatu masa. Nauzubillah," kata psikolog tersebut.
Kekhawatiran sang psikolog tak berlebihan. Simaklah fakta berikut. Antara tahun 1990-1991 di Aceh hanya satu orang yang terdeteksi positif HIV/AIDS.
Perempuan itu dijuluki Serambi "Miss X" karena undang-undang mengharuskan nama dan domisilinya tak boleh diungkap ke publik. Jadi, media menyembunyikan identitasnya.
Nanun, 34 tahun berselang angkanya meningkat pesat, mencapai ribuan kasus.
Ambil contoh dalam 20 tahun terakhir saja sejak tsunami dahsyat melanda Aceh.
Dinas Kesehatan Aceh mencatat kasus HIV/AIDS di provinsi istimewa dan khusus ini sejak 2004 hingga 2024 mencapai 1.735 orang.
Kasus ini mengalami kenaikan drastis pada tahun 2021 dengan jumlah penderita 181 orang, tahun 2022 terdeteksi 277 kasus baru, 2023 tercatat 309 kasus, dan tahun 2024 melonjak jadi 348 kasus.
Tren kenaikan tersebut
menunjukkan bahwa angka tertinggi terjadi pada tahun 2024, yakni 348 kasus.
"Mereka terdiagnosis positif HIV berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 109.645 orang di seluruh Aceh," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM menjawab Serambinews.com di Banda Aceh, Sabtu (19/4/2025) petang.
Ia juga menyebutkan bahwa kasus tertinggi terjadi di Kota Banda Aceh, yakni mencapai 146 kasus.
Kemudian disusul Kabupaten Aceh Utara dengan 34 kasus, Kota Langsa 30 kasus, Kota Lhokseumawe 26 kasus, Bireuen 23 kasus, Pidie 15 kasus, Aceh Barat dan Aceh Tenggara masing-masing 15 kasus.
“Sedangkan wilayah yang tidak ada kasus HIV sepanjang tahun 2024 hanya Sabang, Gayo Lues, Aceh Selatan, dan Aceh Jaya,” kata dr Iman.
Ia mengungkapkan bahwa tingginya sebaran HIV di Aceh dipicu oleh hubungan seksual sesama jenis atau kelompok lelaki seks lelaki (LSL). Hampir 90 persen dari total penderita HIV/AIDS di Aceh disebabkan oleh LSL.
“Saat ini memang banyak terdeteksi para penyuka sesama jenis yang menjadi penderita HIV," ungkapnya.
Dengan demikian, terbuktilah asunsi bahwa dua kasus LSL yang melibatkan empat mahasiswa di Kota Banda Aceh itu hanyalah bagian kecil dari fenomena gunung HIV/AIDS di Aceh.
Lonjakan kasus pun terus bertambah. Tahun berganti, tapi laju kasus baru tak jua berhenti.
Data terbaru yang dihimpun Dinas Kesehatan Aceh menunjukkan bahwa sejak Januari hingga Maret 2025 saja sudah 66 warga Aceh yang positif HIV.
Jika dirata-ratakan, per bulan 22 orang positif HIV. Malah pada bulan Januari mencapai 24 kasus.
Nyaris setiap hari satu orang Aceh kini terdeteksi positif HIV/AIDS.
Kalikanlah setahun yang terdiri atas 365 hari. Sangat mungkin, hingga akhir tahun ini sebanyak itulah orang Aceh yang terinfeksi virus mematikan ini.
Bukan saja LSL dan waria yang terinfeksi HIV,
calon pengantin wanita pun ada dua orang dalam tahun ini yang terinfeksi.
Sekarang di Aceh, kata Iman, sedang ada program cek kesehatan gratis bagi calon pengantin (catin) kerja sama antara puskesmas dan kantor urusan agama kecamatan (KUAkec).
Nah, dalam program ini ada pemeriksaan HIV-nya.
Dokter Iman bersaran, sebaiknya jangan hanya calon pengantin wanita yang diperiksa kemungkinan terinfeksi HIV, calon pengantin pria pun harus diperlakukan sama.
Soalnya, di Aceh justru lelaki seks lelaki yang lebih dominan positif HIV.
Apalagi, kata Iman, ada temuan bahwa terpidana kasus liwath yang sudah dicambuk pun, hanya dalam berbilang hari kembali lagi menekuni praktik seks menyimpang.
Ia juga menyatakan sangat sependapat dengan saran seorang dokter spesialis kulit kelamin di luar Aceh yang keturunan Aceh, dr Inong, Sp.KK.
Bahwa sudah saatnya di Aceh didirikan sebuah pusat rehabilitasi terpadu penderita HIV/AIDS.
Di pusat rehabilitasi itu dilibatkan psikolog, dokter spesialis kulit dan kelamin, ulama, pegawai dinas kesehatan dan dinas sosial, yang bahu-membahu menangani penderita.
Ini hanya salah satu ikhtiar agar penderita HIV/AIDS bisa ditolong, tak menularkan kepada orang lain, dan kemungkinan tsunami HIV/AIDS di Bumi Serambi Makkah ini dapat dicegah.
Perlu pula diingat bahwa HIV/AIDS tidak saja dapat ditularkan melalui hubungan seksual, tetapi juga melalui transfusi darah, atau jarum suntik yang terkontaminasi.
Banyaknya pengguna narkoba di Aceh yang menggunakan jarum suntik memperbesar peluang meningkatnya kasus HIV/AIDS.
Dalam tiga bulan terakhir, 25 LSL di Aceh positif HIV. Populasi umum yang terjangkit HIV 19 orang.
Sopir antarprovinsi pun termasuk kelompok berisiko tinggi terinfeksi HIV jika ia doyan "jajan" di luar Aceh. Oleh Dinas Kesehatan Aceh mereka dimasukkan ke dalam kategori "populasi umum" kasus HIV.
Harapan baru
Pengobatan antiretroviral kini menjadi harapan baru bagi penderita HIV/AIDS agar tak cepat mati.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), jika penderita HIV/AIDS tidak mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) yang efektif, maka mereka dapat menularkan virus kepada orang lain melalui hubungan seksual.
Namun, jika penderita HIV/AIDS mendapatkan pengobatan ARV yang efektif dan memiliki viral load yang tidak terdeteksi, maka peluang penularan sangat rendah.
Bahkan, CDC menyatakan bahwa orang dengan HIV yang memiliki viral load tidak terdeteksi tidak dapat menularkan virus kepada orang lain melalui hubungan seksual.
Tapi, itu bukan berarti para LSL bisa terus melanjutkan kebiasaan menyimpangnya.
Setiap perilaku menyimpang, cepat atau lambat, pasti menimbulkan konsekuensi dan terkadang teramat berat.
Saat hendak ditangani pun terkadang sudah sangat terlambat. (*)
| Cegah Kecelakaan dan Tanpa Perlindungan Asuransi Penumpang, Dishub Aceh akan Tindak Angkutan Ilegal |
|
|---|
| Prof Humam Hamid Ungkap Peluang Revisi Kebijakan JKA Usai Bertemu Muzakir Manaf |
|
|---|
| Polda Aceh dan UTU Perkuat Kerja Sama Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat |
|
|---|
| Afdhal Serahkan LKPJ Wali Kota, Begini Kata Ketua DPRK Banda Aceh |
|
|---|
| UIN Ar-Raniry Percepat Implementasi Zona KHAS, Peluang Pengembangan Inovasi Riset Ekosistem Halal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bahaya-aids.jpg)