Internasional
Dunia Bernapas Lega! Saham Asia Meledak Usai Perang Dagang AS-China Mereda
"Kemenangan sesungguhnya di sini adalah perubahan nada dari AS dan China. Kata-kata seperti 'saling menghormati' dan 'martabat' menandai perubahan taj
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Muhammad Hadi
Dunia Bernapas Lega! Saham Asia Meledak Usai Perang Dagang AS-China Mereda
SERAMBINEWS.COM-Pasar saham Asia mengalami kenaikan tajam pada hari Selasa (13/5/2025), setelah Amerika Serikat dan China sepakat untuk menghentikan sementara perang dagang yang telah memicu kekhawatiran akan resesi global.
Kesepakatan ini memberi angin segar bagi para investor dan membuat pasar keuangan global bergairah.
Indeks saham utama di Asia seperti Nikkei Jepang melonjak 2 persen dan menyentuh level tertinggi sejak 25 Februari.
Sementara itu, indeks saham Taiwan, yang banyak berisi perusahaan teknologi, juga naik sebesar 2 persen.
Indeks saham China bergerak sedikit lebih tinggi di awal perdagangan.
Kenaikan ini mendorong indeks MSCI saham Asia-Pasifik di luar Jepang ke titik tertingginya dalam enam bulan terakhir.
Baca juga: Harga Emas di Banda Aceh Kembali Meredup, Berikut Rincian Harga per Mayam, Edisi 12 Mei 2025
Dilansir dari kantor berita Reuters (13/5/2025), di pasar saham AS, indeks S&P 500 naik lebih dari 3 persen , sedangkan indeks Nasdaq melonjak hingga 4,3 persen setelah pengumuman kesepakatan dagang.
Menurut Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi di Saxo Singapura, perubahan sikap dari kedua negara menjadi faktor utama yang mendukung penguatan pasar.
"Kemenangan sesungguhnya di sini adalah perubahan nada dari AS dan China. Kata-kata seperti 'saling menghormati' dan 'martabat' menandai perubahan tajam dari retorika konfrontatif baru-baru ini, dan itulah yang membuat pasar gembira," ujarnya.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, AS akan menurunkan tarif atas barang-barang impor dari China, dari sebelumnya 145 persen menjadi 30 persen.
Sebaliknya, China juga akan menurunkan bea masuk atas barang-barang dari AS, dari 125 persen menjadi 10 persen.
Meski demikian, sebagian kalangan masih khawatir tarif yang tersisa tetap bisa membebani perekonomian global.
Christopher Hodge, Kepala Ekonom AS di Natixis, menyebut bahwa meski ada kemajuan, dampak jangka panjang dari perang dagang belum sepenuhnya hilang.
"De-eskalasi ini memang tak terelakkan, tapi saya pikir jelas tidak akan ada hasil yang bertahan lama dari pembicaraan ini. Jika semua sudah dikatakan dan dilakukan, tarif akan tetap jauh lebih tinggi dan akan membebani pertumbuhan AS," katanya.
| Iran Serang Pangkalan AS di Arab Saudi, 15 Prajurit Amerika Serikat Terluka |
|
|---|
| Houthi Yaman Bantu Iran Lawan AS-Israel, Ini Dampaknya Jika Selat Bab al-Mandab Diblokade |
|
|---|
| Daftar Negara dengan Utang Tertinggi di Dunia, Ada yang Tembus 380 Persen dari PDB |
|
|---|
| Ekonomi India Terancam, Dampak Perang AS–Israel Lawan Iran Picu Krisis Energi Global |
|
|---|
| Sosok Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC, Pernah Dituduh Tewaskan 85 Yahudi Dalam Ledakan di Argentina |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/derap-311024-f.jpg)