Rabu, 15 April 2026

Internasional

Dunia Bernapas Lega! Saham Asia Meledak Usai Perang Dagang AS-China Mereda

"Kemenangan sesungguhnya di sini adalah perubahan nada dari AS dan China. Kata-kata seperti 'saling menghormati' dan 'martabat' menandai perubahan taj

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Muhammad Hadi
ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/tom/am
SAHAM ASIA- Pasar saham Asia mengalami kenaikan tajam pada hari Selasa (13/5/2025). Pekerja melihat gawainya di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (28/6/2024). 

Dunia Bernapas Lega! Saham Asia Meledak Usai Perang Dagang AS-China Mereda

SERAMBINEWS.COM-Pasar saham Asia mengalami kenaikan tajam pada hari Selasa (13/5/2025), setelah Amerika Serikat dan China sepakat untuk menghentikan sementara perang dagang yang telah memicu kekhawatiran akan resesi global.

Kesepakatan ini memberi angin segar bagi para investor dan membuat pasar keuangan global bergairah.

Indeks saham utama di Asia seperti Nikkei Jepang melonjak 2 persen dan menyentuh level tertinggi sejak 25 Februari.

Sementara itu, indeks saham Taiwan, yang banyak berisi perusahaan teknologi, juga naik sebesar 2 persen.

 Indeks saham China bergerak sedikit lebih tinggi di awal perdagangan.

Kenaikan ini mendorong indeks MSCI saham Asia-Pasifik di luar Jepang ke titik tertingginya dalam enam bulan terakhir.

Baca juga: Harga Emas di Banda Aceh Kembali Meredup, Berikut Rincian Harga per Mayam, Edisi 12 Mei 2025

Dilansir dari kantor berita Reuters (13/5/2025),  di pasar saham AS, indeks S&P 500 naik lebih dari 3 persen , sedangkan indeks Nasdaq melonjak hingga 4,3 persen  setelah pengumuman kesepakatan dagang.

Menurut Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi di Saxo Singapura, perubahan sikap dari kedua negara menjadi faktor utama yang mendukung penguatan pasar.

"Kemenangan sesungguhnya di sini adalah perubahan nada dari AS dan China. Kata-kata seperti 'saling menghormati' dan 'martabat' menandai perubahan tajam dari retorika konfrontatif baru-baru ini, dan itulah yang membuat pasar gembira," ujarnya.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, AS akan menurunkan tarif atas barang-barang impor dari China, dari sebelumnya 145 persen menjadi 30 persen.

Sebaliknya, China juga akan menurunkan bea masuk atas barang-barang dari AS, dari 125 persen menjadi 10 persen.

Meski demikian, sebagian kalangan masih khawatir tarif yang tersisa tetap bisa membebani perekonomian global.

Christopher Hodge, Kepala Ekonom AS di Natixis, menyebut bahwa meski ada kemajuan, dampak jangka panjang dari perang dagang belum sepenuhnya hilang.

 "De-eskalasi ini memang tak terelakkan, tapi saya pikir jelas tidak akan ada hasil yang bertahan lama dari pembicaraan ini. Jika semua sudah dikatakan dan dilakukan, tarif akan tetap jauh lebih tinggi dan akan membebani pertumbuhan AS," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved