Rabu, 3 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Mengulik Buku, Meraup Ilmu

Minat baca warga Indonesia masih sangat rendah. UNESCO menyebutkan, indeks minat baca warga Indonesia hanya 0,001 persen.

Tayang:
Editor: Yeni Hardika
SERAMBINEWS.COM/HO
Siti Amira Mardhatillah, mahasiswi Program Studi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Aceh. 

Oleh: Siti Amira Mardhatillah*)

Buku belum begitu menarik bagi sebagian besar warga Indonesia.

Padahal, buku yang sering diibaratkan sebagai ‘jendela dunia’ merupakan sumber ilmu pengetahuan dan informasi yang dapat membentuk pola pikir dan budaya suatu bangsa.

Saat ini warga masih terpaku pada budaya melihat, berbicara dan mendengar, bukan budaya baca.

Banyak orang lancar dan betah mengobrol serta berceloteh berjam-jam lamanya, tapi akan sangat lelah dan membosankan jika harus membaca atau menulis. 

Budaya ini telah menghasilkan warga yang berpikiran dangkal dan mengambang (floating thinking).

Disamping itu, banyaknya sarana hiburan, permainan, dan tayangan televisi telah menggiring warga ke budaya menonton.

Lebih-lebih di era digital saat ini, telah menjerumuskan sebagian besar warga dalam budaya ‘scroll’ dan ‘like’.

Layar gawai ibarat candu yang melenakan penggunanya dalam lautan informasi yang miskin makna. 

Membaca buku telah tergantikan oleh informasi singkat dan video viral yang serba instan.

Mirisnya lagi, generasi muda, bahkan orang tua pun kini telah terpapar dengan aktivitas nge-game dan judi online (judol).

Di tahun 2024 tercatat 8,8 juta warga Indonesia bermain judol, dimana 80 persennya adalah masyarakat bawah dan anak muda. 

Minat Baca

Minat baca warga Indonesia masih sangat rendah. UNESCO menyebutkan, indeks minat baca warga Indonesia hanya 0,001 persen.

Ini bermakna, dari seribu orang Indonesia, hanya satu orang saja yang rajin membaca.

Dalam setahun, rata-rata warga Indonesia hanya menggunakan waktu 129 jam untuk membaca buku. 

Sementara warga Amerika Serikat membaca buku selama 357 jam setahun. Disusul India 352 jam, Inggris 343 jam, Perancis 305 jam, Italia 278 jam dan negara Eropa lainnya. 

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di urutan ketiga terlama membaca buku dalam setahun setelah Singapura dan Thailand.

Sedangkan untuk urusan ‘online’, warga Indonesia menghabiskan waktu hingga 7 jam 38 menit per hari untuk internetan.

Dimana 3 jam 11 menit diantaranya digunakan untuk mengakses sosial media.

Menurut standar UNESCO, minimal satu orang harus membaca tiga buku tiap tahunnya.

Di negara-negara Eropa, Asia Timur dan Amerika Serikat, rata-rata warganya sudah mampu ‘melahap’ 15-30 buku per tahun.

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia mencatat, dalam tahun 2024, tingkat gemar membaca warga Indonesia mengalami peningkatan. Jika tahun sebelumnya pada angka 66,7, kini menjadi 72,44.

Hasil ini sejalan dengan peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional yang mencapai 73,52, melampaui target 71,4 dan capaian tahun sebelumnya 69,42. 

Manfaat Buku

Bila kita tahu manfaat dan apa yang terkandung didalam buku, tentu kita akan selalu ingin membaca dan memilikinya.

Ibarat makanan yang dikonsumsi sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah, buku adalah makanan bagi kebutuhan rohani kita, disamping  mengikuti pengajian dan ceramah-ceramah agama.

Ayat pertama Al-Qur’an yang diturunkan Allah Swt. juga memerintahkan kita untuk membaca (Iqra’), baik membaca ayat-ayat yang tersurat dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi maupun ayat-ayat yang tersirat di alam semesta.

Menurut Dr. ’Aidh al-Qarni dalam bukunya ”La Tahzan”, beberapa manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan membaca antara lain.

  1. Membaca dapat mengusir perasaan was-was, kecemasan, dan kesedihan.
  2. Membaca dapat menghindarkan seseorang agar tidak tenggelam dalam hal-hal yang batil.
  3. Membaca dapat menjauhkan kemungkinan seseorang untuk berhubungan dengan orang-orang yang menganggur dan tidak memiliki aktivitas.
  4. Membaca dapat melatih lidah untuk berbicara dengan baik, menjauhkan kesalahan ucapan, dan menghiasinya dengan balaghah dan fashahah.
  5. Membaca dapat mengembangkan akal, mencerahkan pikiran, dan membersihkan hati nurani
  6. Membaca dapat meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan daya ingat serta pemahaman
  7.  Dengan membaca orang dapat mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain, kebijaksanaan kalangan bijak bestari, dan pemahaman ulama
  8. Mematangkan kemampuan seseorang untuk mencari dan memproses pengetahuan, untuk mempelajari bidang-bidang pengetahuan yang berbeda, dan penerapannya dalam kehidupan nyata.
  9. Menambah keimanan, khususnya ketika membaca buku-buku karangan kaum muslimin
  10. Membaca dapat membantu pikiran agar lebih tenang, membuat hati agar lebih terarah, dan memanfaatkan waktu agar tidak terbuang percuma
  11. Membaca dapat membantu memahami proses terjadinya kata secara lebih detail, proses pembentukan kalimat, untuk menangkap konsep dan untuk memahami apa yang berada dibalik tulisan.

Teknik Membaca

Untuk dapat menyerap informasi yang terkandung dalam sebuah buku, seseorang harus memiliki keterampilan dan kemampuan dalam mencerna teks.

Teknik membaca juga perlu diperhatikan. Membaca buku tidaklah harus dalam keadaan diam dengan suara yang membisu, tetapi berbagai teknik dapat diterapkan untuk membuat aktivitas membaca semakin menarik dan tidak membosankan.

Dave Meier dalam bukunya ”The Accelerated Learning Handbook”, sebagaimana dinukil Hernowo (2002), menjelaskan teknik-teknik membaca yang disebut dengan metode SAVI.

SAVI merupakan singkatan Somatis (bersifat raga/tubuh), Auditori (bunyi), Visual (gambar), dan Intelektual (merenungkan).

Teknik-teknik tersebut adalah: pertama, membaca secara Somatis, yaitu membaca buku sambil berdiri atau berjalan-jalan serta gerakkanlah tubuh saat membaca.

Kedua, membaca secara Auditori yaitu membaca dengan mengeluarkan suara pada kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu yang sulit dicerna sehingga telinga dapat mendengar dan membantu dalam memahami dan mencernanya. 

Ketiga, membaca secara Visual yaitu dengan membayangkan atau mengimajinasikan apa yang kita baca sehingga akan mudah memahami dan menggambarkan maksud dari konsep-konsep atau gagasan yang ditemukan dalam buku bacaan kita.

Dan yang keempat adalah membaca secara Intelektual, yaitu dalam membaca juga perlu diselingi dengan jeda atau berhenti sesaat untuk memahami dan memaknai dari apa yang kita baca.

Menumbuhkan Minat Baca

Idealnya, menumbuhkan minat baca harus dimulai dari keluarga dan terus berlanjut dalam komunitas yang lebih besar.

Tidak ada salahnya kita mencontoh kebiasaan yang dikembangkan oleh masyarakat Jepang.

Di negeri matahari terbit ini ada gerakan 20 minutes reading of mother and child.

Gerakan ini mengharuskan seorang ibu untuk mengajak anaknya membaca selama 20 menit sebelum tidur. 

Upaya lainnya, lembaga pendidikan harus mampu mengembangkan strategi untuk menumbuhkan minat baca.

Misalnya, melengkapi perpustakaan dengan buku-buku yang relevan dan sesuai dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan.

Sekolah-sekolah dapat menerapkan program fun with book, weekly reading hours, atau ekspose buku baru secara berkala yang disesuaikan dengan tema dan subjek yang dipelajari siswa.

Selain itu memberikan penghargaan atau apresiasi bagi siswa yang paling gemar membaca buku.

Dalam konteks Aceh, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh telah meluncurkan program ‘Gerakan Aceh Membaca’ yang bertujuan meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat Aceh.

Disamping itu DPKA juga menggiatkan kegiatan ‘Perpustakaan Keliling Goes to School’ guna menggugah minat baca sejak dini di kalangan pelajar.

Melihat berbagai manfaat dan keuntungan membaca buku (tentu saja buku yang baik dan berguna), sudah saatnya kita untuk mencintai buku.

Mari abaikan semua kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti gemar memelototi layar gawai untuk nge-game atau judol, sibuk bersosial media dan aktivitas online lainnya yang melenakan.

Jika tidak bijak, kita akan terbuai dengan kemudaratan yang membuat kita semakin lalai dan abai terhadap kewajiban dan tanggung jawab sebagai makhluk Allah Swt. 

Membaca sebenarnya adalah kebutuhan dasar manusia seperti juga kebutuhan lainnya, seperti sandang dan pangan. Maka segera mengulik buku untuk meraup ilmu.

Pemerintah pun menyadari pentingnya membaca buku dengan menetapkan tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tahunnya.

*) PENULIS adalah Mahasiswi Program Studi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved