Kamis, 23 April 2026

Sejarah Aceh

Kenali Sultan Ma’ruf Syah, Pahlawan dari Pidie, Aceh yang Melawan Penjajahan Portugis

Mengenal Sultan Ma’ruf Syah bukan sekadar mengetahui nama, tetapi juga memahami semangat perjuangannya.

Penulis: Gina Zahrina | Editor: Amirullah
Dok Mapesa Aceh Khairul Syuhada
MAKAM - Makam Sultan Ma’ruf Syah (Po Teuh Al-Marhum) yang terletak di Dayah Tanoh Klibeut, Kecamatan Pidie, menjadi saksi bisu sejarah kejayaan Islam di Aceh pada awal abad ke-16./ Foto Dok Mapesa Aceh Khairul Syuhada yang diunggah melalui situs resmi Mapesa pada Jum'at (23/5/2025). 

SERAMBINEWS.COM - Budayawan Aceh asal Pidie, Tarmizi A. Hamid atau Cek Midi, mengajak masyarakat Aceh, khususnya warga Kabupaten Pidie, untuk bersama-sama menyukseskan kegiatan Meuseuraya Akbar yang akan digelar di Sigli, Pidie Darul Amni, pada 25 hingga (29/5/2025).

Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk merawat makam leluhur, membersihkan situs-situs sejarah, serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya dan sejarah sejak usia dini.

Di balik kegiatan tersebut, tersimpan kisah seorang pahlawan besar dari Pidie yang mungkin jarang kita ketahui yaitu Sultan Ma’ruf Syah.

Meskipun namanya belum sepopuler tokoh- tokoh lainnya, perannya sangat berjasa dalam menentang penjajahan Portugis di abad ke- 16.

Mengenal Siapa Sultan Ma’ruf syah

Salah satu sosok yang sangat layak untuk dikenang dalam semangat ini adalah Sultan Ma’ruf Syah.

Tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa di Pidie terdapat makam seorang sultan besar yang sangat berjasa dalam sejarah perlawanan terhadap penjajah, terutama Portugis.

Mengutip dari MapesaAceh.com, Sultan ini dikenal dengan gelar Ma’ruf Syah. Nama aslinya tidak disebutkan dalam catatan sejarah, namun gelar “Ma’ruf” yang berarti kebajikan menggambarkan sifat-sifat baik dan kebijaksanaan yang dimilikinya.

Ia wafat pada malam Ahad, 22 Jumadal Akhir 917 Hijriah atau bertepatan dengan 14 September 1511 Masehi atau hanya sebulan setelah peristiwa jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 24 Agustus 1511.

Pada tahun 1511, terjadi peristiwa penting yang sangat menentukan bagi dunia Islam di Asia Tenggara.

Pada saat itu, jatuhnya Malaka ke tangan bangsa Portugis, yang datang dengan niat memperluas kekuasaannya dan menyebarkan agama Nasrani.

Hal ini menjadi pukulan besar bagi negeri-negeri Islam di kawasan ini, termasuk Pasai, Aru, Pidie, dan Aceh.

Namun, Sultan Ma’ruf Syah tidak tinggal diam. Ia memimpin perlawanan di perairan Sumatera dan berhasil menghalau armada Portugis, yang dipimpin oleh Alfonso de Albequerque, dari wilayah tersebut.

Karena perlawanan sengit yang dipimpin oleh Sultan Ma’ruf Syah, Portugis terpaksa mundur dari Sumatera dan mengalihkan fokusnya untuk menembus benteng pertahanan Malaka.

Sayangnya, meskipun perjuangan itu penuh keberanian, Malaka tetap jatuh ke tangan penjajah. Hal ini menjadi duka besar bagi umat Islam.

Dan Sultan Ma’ruf Syah sangat terpukul dengan kenyataan ini. Ia menyadari bahwa kehadiran Portugis di Malaka akan berdampak besar terhadap stabilitas kawasan dan kehidupan umat Islam.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved