Rabu, 10 Juni 2026

Banda Aceh

Musim Kemarau, BMKG Imbau Warga Waspada Potensi Karhutla di Aceh

Memasuki puncak musim kemarau, Badan Meteorologi, Klimatolog dan Geofikasi (BMKG) Kelas I SIM, menyebutkan saat ini Aceh rawan...

Tayang:
Penulis: Indra Wijaya | Editor: Eddy Fitriadi
Dokumen BMKG
ILUSTRASI titik panas. Musim Kemarau, BMKG Imbau Warga Waspada Potensi Karhutla di Aceh. 

Laporan Indra Wijaya | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Memasuki puncak musim kemarau, Badan Meteorologi, Klimatolog dan Geofikasi (BMKG) Kelas I SIM, menyebutkan saat ini Aceh rawan akan potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Forecaster on Duty BMKG Aceh, Stya Juangga Dirta, mengatakan, potensi Karhutla di Aceh terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, khususnya dalam dua tahun terakhir. 

Ia merincikan, berdasarkan data yang  dihimpun oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas area  terdampak karhutla di Aceh mencapai 7.177 hektare pada tahun 2024, meningkat tajam dari 3.715 hektare pada tahun 2023. 

Sementara pada periode sebelumnya (2021-2023), karhutla konsisten menduduki peringkat ketiga tertinggi kejadian bencana  di wilayah provinsi Aceh (Pusdatin BPBA) dengan taksiran kerugian konsisten menduduki peringkat kedua terbesar setelah bencana banjir. 

“Kebakaran ini berdampak langsung terhadap ekosistem hutan tropis, lahan gambut, serta  keberlangsungan hidup masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam di wilayah terdampak,” katanya, Senin (2/6/2025).

Hingga per 1 Juni 2025 saja kata Angga, terdapat 25 titik panas di Aceh yang terpantau.  Beberapa wilayah yang menduduki zona merah tersebar di wilayah  pesisir utara dan barat Aceh. Zona merah mengindikasikan bahwa lokasi-lokasi  tersebut sangat kering dan sangat mudah terbakar. 

“Persebaran potensi tinggi  wilayah dengan kerentanan tinggi diantaranya Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh  Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Barat, Nagan Raya, Singkil dan Simeulue,” katanya.

Di samping beberapa lokasi tersebut, beberapa wilayah dinilai sangat rentan dengan potensi tinggi diantaranya Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Selatan, dimana pada beberapa daerah ini praktek pembukaan lahan dengan cara dibakar masih cukup tinggi mengingat beberapa lokasi ini merupakan sentra utama pertanian dan perkebunan di wilayah Aceh.

BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau akan terjadi pada Juni–Agustus 2025, dengan wilayah Aceh tetap berada dalam zona risiko tinggi karhutla, terutama di kawasan dengan tutupan lahan gambut dan hutan sekunder. 

Secara spasial, memasuki penghujung Mei 2025 hotspot mulai terdeteksi rutin tersebar di wilayah  Aceh, dengan tingkat kepercayaan sedang dan berpotensi tinggi, dan diproyeksikan  terus meningkat hingga memasuki puncak musim kemarau periode Juni - Agustus 2025. 

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan bukan hanya menjadi ancaman bagi lingkungan, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat, ekonomi, dan kestabilan  ekosistem. Upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla harus dilakukan secara terpadu oleh semua pihak.

“Penting bagi kita semua untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam menjaga kelestarian hutan dan lahan di Aceh. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan  kejadian karhutla dapat diminimalisir dan dampaknya dapat dikendalikan,” pungkasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved