Konflik Palestina dan Israel

Dubes AS Mike Huckabee Tolak Palestina di Tepi Barat: Kenapa Harus di Tanah yang Sama dengan Israel?

"Negara-negara Muslim memiliki wilayah 644 kali lebih besar daripada Israel. Jadi mungkin ada yang bersedia menampung negara Palestina," kata Huckabee

Penulis: Gina Zahrina | Editor: Ansari Hasyim
ANADOLU AGENCY/ASHRAF AMRA
ILUSTRASI FOTO BENDERA PALESTINA - (Arsip) Sejumlah warga Palestina memegang bendera Palestina saat mereka menggelar demonstrasi setelah "Great March of Return", yang diselenggarakan untuk menandai peringatan ke-42 "Land Day", menuntut hak untuk kembali dan penghapusan blokade di perbatasan Gaza-Israel di Khan Yunis, Gaza pada 12 April 2018./ Foto ANADOLU AGENCY/ASHRAF AMRA 

Ia sering menggunakan istilah "Yudea dan Samaria", istilah biblikal yang biasa dipakai kelompok ultranasionalis di Israel.

Beberapa tokoh di kalangan sayap kanan Israel bahkan menyerukan agar warga Palestina dipindahkan ke negara-negara Arab atau Muslim, dan menyatakan bahwa negara Palestina bisa didirikan di luar wilayah yang saat ini menjadi sengketa. 

Usulan ini dikecam oleh organisasi HAM dan sejumlah negara Eropa sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

Baca juga: Pemimpin Oposisi Israel: Klaim Kemenangan Mutlak Netanyahu sebagai Kebohongan

Dalam wawancara yang sama, Huckabee juga mengecam keras keputusan negara-negara Barat seperti Inggris, Kanada, Norwegia, Australia, dan Selandia Baru yang menjatuhkan sanksi terhadap dua menteri ekstrem kanan Israel, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich. 

Kedua pejabat itu dianggap telah menghasut kekerasan terhadap komunitas Palestina di Tepi Barat.

Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, menyebut bahwa para pejabat Israel tersebut terlibat dalam ekstremisme dan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia warga Palestina. Mereka kini dilarang memasuki Inggris dan aset mereka dibekukan.

Huckabee menyebut sanksi tersebut sebagai “keputusan yang mengejutkan”. Ia mengatakan bahwa para pejabat itu adalah tokoh terpilih dan seharusnya dihormati oleh negara-negara yang mengaku menjunjung kedaulatan.

Perang di Gaza masih terus berlangsung sejak serangan mendadak Hamas ke wilayah Israel pada Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera sekitar 251 lainnya. 

Hingga saat ini, 56 orang masih ditahan Hamas, dan diperkirakan sedikitnya 20 di antaranya masih hidup.

Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, lebih dari 54.927 warga Palestina telah tewas sejak perang dimulai. 

PBB memperkirakan lebih dari seperempat korban tersebut adalah anak-anak, menandai besarnya dampak kemanusiaan dari konflik yang masih berlanjut.

(Serambinews.com/Gina Zahrina)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved