Dari Aceh ke Australia: Zuhhad Naafil Bawa Semangat Wirausaha Lokal ke Kancah Global Lewat LPDP
Dari sekian banyak universitas ternama di Australia dan dunia, Zuhhad memilih The University of Queensland karena tiga alasan utama.
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Agus Ramadhan
Berinteraksi dengan mahasiswa internasional menambah warna tersendiri dalam pengalaman Zuhhad.
Baik dalam percakapan santai maupun kerja kelompok, ia menikmati pertukaran ide dengan teman-teman dari Tiongkok, Jerman, Prancis, Jepang, Amerika Latin, dan berbagai negara lainnya.
Setiap individu membawa perspektif, aksen, dan energi yang berbeda—menjadikan setiap interaksi penuh warna dan wawasan baru.
Untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan akademik yang baru, Zuhhad mengambil langkah proaktif.
Ia sering datang lebih awal ke kampus untuk mengenal lokasi ruang kuliah dan mempelajari contoh tugas mahasiswa dari semester sebelumnya melalui perpustakaan daring, guna memahami ekspektasi dosen.
Usaha ini membantunya beradaptasi dan meraih keberhasilan di lingkungan akademik yang menantang.
Di luar kegiatan akademik, Zuhhad aktif mengikuti berbagai aktivitas kampus dan komunitas. Ia turut serta dalam acara-acara UQ Ventures, seperti iLab Pitching Night, di mana mahasiswa mempresentasikan ide bisnis mereka di hadapan dewan juri untuk memperebutkan dana pengembangan.
Selain itu, ia aktif mengikuti turnamen bulu tangkis di Brisbane dan melatih secara paruh waktu saat libur semester—bukan hanya untuk menjaga kebugaran, tetapi juga untuk membangun jejaring internasional, yang menurutnya sangat penting bagi seorang wirausahawan.
Meskipun berada jauh dari tanah air, Zuhhad tetap terhubung dengan dinamika sosial, politik, dan ekonomi Indonesia.
Ia rutin mengikuti diskusi bersama Komunitas Berpikir (KOPIKIR) serta berdialog dengan para wirausahawan di Indonesia dan Aceh.
Baik dalam obrolan santai saat ngopi maupun olahraga bersama, ia terus mengevaluasi tren bisnis, peluang, dan tantangan kewirausahaan, baik di dalam maupun luar negeri.
Bagi Zuhhad, menempuh studi di luar negeri bukanlah bentuk jeda dari Indonesia, melainkan langkah strategis untuk mempersiapkan kontribusi yang lebih besar di masa depan.
Ia bercita-cita menginspirasi generasi muda Aceh, untuk mampu mengenali potensi di sekitarnya dan mengubahnya menjadi peluang usaha.
"Menjadi mahasiswa internasional bukan hanya tentang kuliah di luar negeri. Ini tentang bertumbuh sebagai pribadi, membangun jejaring, dan mempersiapkan diri untuk memberi dampak nyata,"
"Saya berharap perjalanan saya ini dapat menginspirasi orang lain, khususnya anak muda Indonesia, untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, menghadapi tantangan dengan berani, dan menyalakan semangat kewirausahaan bagi generasi berikutnya," ungkapnya.
VIDEO - Kasus Ojol Tewas Dilindas Rantis, Massa Solidaritas Rakyat Aceh Gelar Aksi di Mapolda |
![]() |
---|
Bank Sampah Program Mifa Jadi Objek Penilaian Adipura Aceh Barat |
![]() |
---|
Pastikan Api di Bakongan Benar-Benar Padam, Satgas Karhutla Aceh Selatan Lakukan Patroli Berlapis |
![]() |
---|
Bupati Aceh Selatan Mirwan MS Raih BAZNAS Award 2025 |
![]() |
---|
Pengurus Pemekaran Provinsi ALA di Aceh Singkil Terbentuk |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.