Dari Aceh ke Australia: Zuhhad Naafil Bawa Semangat Wirausaha Lokal ke Kancah Global Lewat LPDP

Dari sekian banyak universitas ternama di Australia dan dunia, Zuhhad memilih The University of Queensland karena tiga alasan utama.

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Zuhhad Naafil, alumnus Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK), saat ini sedang menempuh studi Magister di bidang Entrepreneurship & Innovation di The University of Queensland (UQ), Brisbane, Australia.  

SERAMBINEWS.COM - Zuhhad Naafil, alumnus Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK), saat ini sedang menempuh studi Magister di bidang Entrepreneurship & Innovation di The University of Queensland (UQ), Brisbane, Australia

Sebagai penerima Beasiswa LPDP 2024 yang prestisius, Zuhhad membagikan kisah inspirasinya sebagai wirausahawan muda, dengan misi untuk memberdayakan orang lain dan memberikan kontribusi nyata bagi tanah kelahirannya, Aceh.

Dari sekian banyak universitas ternama di Australia dan dunia, Zuhhad memilih The University of Queensland karena tiga alasan utama.

Pertama, ekosistem kewirausahaan yang dinamis, terutama melalui UQ Ventures, menyediakan ruang ideal bagi mahasiswa dan wirausahawan muda untuk belajar, tumbuh, dan membangun jaringan yang bermakna dalam lingkungan multikultural. 

"Kedua, struktur program Master of Entrepreneurship & Innovation sangat selaras dengan tujuan akademik dan profesionalnya, memungkinkan saya untuk mempertajam pola pikir kewirausahaannya serta memperoleh wawasan praktis," ujar Zuhhad kepada Serambinews.com, Kamis (12/6/2025)

Ketiga, jaringan luas dari dosen dan alumni yang terhubung langsung dengan dunia industri, termasuk sosok inspiratif seperti Dr Henry Burgers, dosennya dalam mata kuliah Building Innovation Capability menjadi sumber bimbingan akademik dan pengalaman nyata yang sangat berharga.

Baca juga: USK Sediakan Program Studi Tanpa Pembayaran IPI di Jalur Mandiri

Tiba pertama kali di Brisbane adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi Zuhhad.

Ia menemukan bahwa budaya Australia sangat berbeda, terutama dalam gaya komunikasi yang lebih lugas dan langsung. 

Hal ini awalnya terasa agak kaku dibandingkan dengan keramahan dan senyum hangat yang lazim ditemui di Indonesia.

Dari sisi akademik, sistem pembelajaran di UQ terasa sangat inklusif dan menyenangkan. 

Mahasiswa didorong untuk berdiskusi secara terbuka, setiap pendapat dihargai, dan dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkualitas.

Bahkan, dosen tidak menuntut perlakuan istimewa, melainkan menciptakan suasana belajar yang setara dan penuh rasa saling menghormati.

Baca juga: Prodi Bahasa Inggris USK Raih Akreditasi Unggul

"Sistem akademik di UQ juga memberikan pengalaman baru. Tugas yang diberikan tidak banyak, tetapi menuntut analisis mendalam, dan beberapa mata kuliah bahkan tidak memiliki ujian akhir," bebernya.

Mahasiswa dapat mengakses rekaman kuliah dan materi pembelajaran melalui platform digital Blackboard, yang memberikan fleksibilitas dalam proses belajar.

Meski sesi perkuliahan bisa berlangsung selama 2–3 jam, diselingi waktu istirahat singkat, pengalaman tersebut terasa sangat bermanfaat.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved