Internasional

 Dolar Melemah, Saham Tergelincir Akibat Ketegangan Geopolitik dan Kekhawatiran Tarif AS-Tiongkok

Penyebab utamanya adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran atas rapuhnya kesepakatan dagang antara Washington dan Beijing.

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Ansari Hasyim
For Serambinews.com
Tumpukan Uang Dolar AS 

 Dolar Melemah, Saham Tergelincir Akibat Ketegangan Geopolitik dan Kekhawatiran Tarif AS-Tiongkok

SERAMBINEWS.COM – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan mendekati titik terendah tahun 2025 pada Kamis (12/6/2025), sementara pasar saham global ikut tergelincir dari posisi tertingginya.

Penyebab utamanya adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran atas rapuhnya kesepakatan dagang antara Washington dan Beijing.

Di saat yang sama, investor mulai beralih ke aset safe haven seperti emas, franc Swiss, dan yen Jepang untuk mencari perlindungan dari ketidakpastian pasar.

Inflasi Masih Terkendali, Tapi Ancaman Tarif Membayangi

Dilansir dari kantor berita Reuters (12/6/2025), laporan inflasi konsumen AS yang dirilis Rabu (11/6/2025) menunjukkan bahwa tekanan harga pada bulan Mei masih terkendali, terutama karena turunnya biaya bensin, mobil, dan perumahan. 

Namun para ekonom memperkirakan, ke depan inflasi bisa naik karena efek dari kebijakan tarif baru AS.

Dolar AS sendiri telah kehilangan sekitar 10 persen nilainya terhadap sekeranjang mata uang utama sejak awal tahun.

Kini, dolar berada di level terendah sejak April, yang juga menjadi posisi terendah dalam tiga tahun terakhir.

Baca juga: Berharap Disapa Balik, Malah Surat Trump Ditolak Mentah-Mentah! Korut Tegas Kami Tak Butuh Trump

Saham Dunia Terkoreksi, Harga Minyak Naik-Turun

Sementara itu, indeks saham global seperti MSCI All-Country World turun 0,1 persen dan STOXX 600 di Eropa turun 0,8 persen, dengan saham maskapai dan otomotif paling terdampak akibat kenaikan harga minyak.

Saham berjangka AS seperti S&P 500 dan Nasdaq juga melemah masing-masing 0,5 persen.

Ini menyusul pernyataan pemerintah AS bahwa mereka mulai menarik personel dari Timur Tengah karena meningkatnya ancaman keamanan, yang sempat mendorong harga minyak naik 4 persen sebelum akhirnya turun kembali ke $69,07 per barel.

Chris Scicluna, ekonom dari Daiwa Capital, mengatakan ketegangan geopolitik menjadi perhatian serius.

“(Meningkatnya ketegangan) merupakan risiko yang signifikan, tetapi saya tidak berpikir itu adalah perkiraan dasar siapa pun. Jadi, perlu diperhatikan jika terjadi eskalasi nyata di sana, maka pasar akan ketakutan dan itu akan berdampak pada harga minyak,” ujarnya.

Baca juga:  12 Negara Dilarang Masuk AS oleh Trump, Termasuk Indonesia? Dalihnya: Ancaman Keamanan

Iran dan Tarif Baru AS Tambah Tekanan

Ketegangan bertambah ketika seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa negaranya tidak akan menghentikan aktivitas pengayaan uranium, meskipun telah mendapat peringatan dari negara sahabat di kawasan tentang kemungkinan serangan militer dari Israel.

Dari sisi perdagangan, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan mengirim surat kepada puluhan negara dalam satu hingga dua minggu ke depan.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved