Kupi Beungoh
The Dumbest Generation: Tantangan Generasi Digital dan Refleksi untuk Aceh
Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, muncul sebuah istilah yang cukup menggelitik: “The Dumbest Generation.” Apa itu? ini penjelasannya
*) Oleh: Prof. Dr. Mailizar, M.Ed
DI ERA digital yang serba cepat ini, perubahan perilaku generasi muda menjadi sorotan penting, terutama di Aceh.
Jika dulu ruang-ruang publik seperti warung kopi (warkop) menjadi tempat diskusi hangat dan pertukaran ide, kini pemandangan yang lebih sering kita jumpai adalah anak-anak muda yang duduk berjam-jam di warkop, namun lebih sibuk menatap layar gadget daripada berbincang atau berdiskusi.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah kemajuan teknologi benar-benar membawa generasi muda Aceh menjadi lebih cerdas dan kritis, atau justru sebaliknya?
Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, muncul sebuah istilah yang cukup menggelitik: “The Dumbest Generation.”
Istilah ini dipopulerkan oleh Mark Bauerlein dalam bukunya yang berjudul sama, yang mengkritisi generasi muda—khususnya generasi milenial dan setelahnya—yang tumbuh di era digital.
Bauerlein menyoroti bagaimana kemudahan akses informasi melalui internet, alih-alih meningkatkan kecerdasan dan wawasan, justru berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis, literasi, dan keterlibatan sosial-politik generasi muda.
Fenomena ini tentu tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tempat Bauerlein menulis dan meneliti, tetapi juga mulai terasa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia dan khususnya Aceh.
Lantas, benarkah generasi muda kita sedang menuju “generasi terbodoh”? Dan apa yang harus dilakukan masyarakat serta lembaga pendidikan, khususnya di Aceh, untuk menghadapi tantangan ini?
Peluang dan Ancaman Generasi Digital
Tidak dapat dipungkiri, generasi muda Aceh saat ini sangat akrab dengan teknologi.
Hampir setiap remaja memiliki ponsel pintar, aktif di media sosial, dan terbiasa mengakses informasi secara instan.
Namun, kemudahan ini seringkali tidak diimbangi dengan kemampuan memilah informasi, membaca secara mendalam, atau berpikir kritis.
Banyak anak muda lebih tertarik pada konten hiburan, viral, dan instan, ketimbang membaca buku, berdiskusi, atau mengikuti perkembangan isu-isu penting.
Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menunjukkan bahwa rata-rata waktu yang dihabiskan generasi muda Indonesia untuk mengakses internet mencapai 7-8 jam per hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mailizar-SPd-MPd.jpg)