Senin, 8 Juni 2026

Kupiah Meukeutop Aceh, Warisan Leluhur yang Kian Populer, Tapi Terancam Gempuran Produk Massal

Prosesnya panjang dan penuh aturan. Motif-motif yang dijahit pada kain juga memiliki makna mendalam dan tak bisa sembarangan ditiru. 

Tayang:
Penulis: Yeni Hardika | Editor: Agus Ramadhan
SERAMBINEWS.COM/FIRDHA USTIN
KUPIAH MEUKEUTOP - Kupiah Meukeutop hasil buatan tangan para perajin di Gampoeng Garoet Cut, Kec. Indra Jaya, Kabupaten Pidie. 

SERAMBINEWS.COM - Kupiah meukeutop merupakan topi tradisional adat Aceh yang biasanya digunakan sebagai pelengkap pakaian adat kaum pria. 

Topi ini biasanya sering dikenakan dalam upacara adat, momen seremonial, hingga pelantikan pemimpin.

Namun bukan hanya sebagai penutup kepala atau pelengkap pakaian adat, bagi masyarakat Aceh, topi yang identik dengan perpaduan warna-warna mencolok ini telah lama menjadi simbol budaya, sekaligus jati diri masyarakat Aceh.   

Setiap warna dan motifnya menyimpan filosofi yang dalam tentang keberanian, kekuasaan, kemakmuran, ketegasan hingga kesucian.

Hampir semua bagian dari struktur Kupiah Meukeutop mencerminkan pandangan hidup masyarakat Aceh sehari-hari.

Nilai-nilai hukum, adat, dan agama yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Aceh, diukir dalam setiap anyaman benang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi.

Di balik keindahan kupiah meukeutop yang sarat akan makna tersebut, masih ada tangan-tangan terampil yang menjahitnya dengan penuh ketelitian.

Mereka adalah sekelompok perempuan Tangguh di Desa Garoet Cut, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie.

Setiap sore, sekelompok ibu rumah tangga yang sebagian besar telah memasuki usia senja berkumpul di sudut rumah tua yang menjadi 'Basecamp' mereka.

Baca juga: Tugu Kupiah Meukeutop Teuku Umar, Monumen Sejarah yang Memikat di Pesisir Aceh

Tangan-tangan renta itu begitu cekatan, tanpa henti mengayunkan jarum dan benang, sambil melempar tawa ringan.

"Ada yang sudah sangat senior, sudah tua, sekarang juga sudah mulai sakit-sakit jadi jarang bergabung. Ada yang usia 60an, paling muda di atas 30an," kata Nurdiana, warga Gampong Garoet Cut .

Diana adalah salah satu tokoh muda yang masih peduli dengan kelestarian warisan budaya serta kelangsungan hidup para perajin Kupiah Meukeutop.

Karena kepeduliannya, Dosen Universitas Jabal Gafur (Uniga) Pidie itu pun berinisiatif menaungi para perajin yang ada di desanya, menampung permintaan sekaligus menjadi penghubung antara konsumen dengan perajin kupiah meukuetop di Desa Garoet Cut.

"Peran saya sebenarnya lebih ke mengawasi para perajin, menjaga agar produk hasil karya mereka dijual sesuai dengan kualitasnya," ujar Diana.

"Saya bantu promosi atau perkenalkan langsung ke perajinnya jika ada permintaan," sambungnya.

Tak hanya mendedikasikan waktu, Diana juga terkadang menyediakan 

Jumlah perajin Kupiah Meukeutop di bawah kelompok UMKM yang dinaungi Diana kini hanya tersisa 25 orang.

Menurutnya jumlah tersebut sangat sedikit dibanding jejak-jejak tradisi Gampoeng Garoet Cut yang telah lama dikenal sebagai salah satu daerah pembuat Kupiah Meukeutop.

"Minat generasi muda sekarang memang sudah tidak ada. Mungkin salah satu faktornya karena masa depan ekonomi yang tidak menjanjikan," jelas Diana.

Baca juga: Kenakan Kupiah Meukeutop Anggota Panwaslih Aceh Utara Dilantik Bawaslu RI di Jakarta

Proses penuh makna dan aturan

Rumah panggung adat Aceh yang kondisinya sudah mulai lapuk, menjadi bukti bahwa tradisi dan warisan budaya dari Kupiah Meukeutop masih bernapas meskipun pelan.

Para perajin di Gampoeng Garoet Cut tidak sembarang memproduksi topi yang memiliki nilai sejarah tersebut. 

Prosesnya panjang dan penuh aturan. Motif-motif yang dijahit pada kain juga memiliki makna mendalam dan tak bisa sembarangan ditiru. 

"Satu kupiah (pengerjaannya) bisa satu bulan. Tergantung kecepatan dan kesanggupan perajinnya," jelas Diana.

Beberapa motif yang dirangkai pada setiap helaian kain untuk Kupiah Meukeutop ialah motif kunci dan motif bungong keupula.

"Motif ini juga digunakan pada kupiah syam. Tapi ada perbedaan susunannya. Ini yang orang-orang tidak tau," jelas Ridwan, warga asal Gampong Garoet Cut sekaligus saudara kandung Diana.

Proses pembuatan kupiah meukeutop
KUPIAH MEUKEUTOP - Proses pembuatan topi tradisional adat Aceh, Kupiah Meukeutop yang dilakukan secara manual, dijahit menggunakan jarum dan benang. Proses pengerjaannya secara kelompok, membutuhkan ketelitian dan waktu yang panjang.

Ridwan menjelaskan, meski sama-sama topi adat, ada perbedaan lain selain motif antara kupiah meukeutop dan kupiah syam.

Kupiah meukuetop pada masa dahulu digunakan oleh para pemangku kekuasaan, seperti sultan.

Sementara kupiah syam merupakan topi sehari-hari, dan umumnya digunakan oleh tokoh dan para pemuka agama di Aceh.

Penjelasan serupa juga disampaikan oleh kolektor benda bersejarah sekaligus pendiri Pedir Museum, Masykur Sayfruddin.

"Kupiah syam dan kupiah meukeutop beda fungsi. Kita bisa tau siapa orang menggunakannya, ulama atau penguasa (pejabat), dilihat dari bentuk dan motifnya," jelas Masykur yang ditemui saat pegalaran benda-benda bersejarah Aceh pada event Meuseuraya Akbar 2025 di Pidie.

Sayangnya, pemahaman ini sering diabaikan dalam versi produksi massal yang kini banyak beredar di pasaran.

Baca juga: Kupiah Riman Souvenir Khas Pidie Ikut Meriahkan PKA-8, Dipakai Pj Gubernur Aceh

Tradisi dikalahkan oleh harga

Di tengah sorak-sorai modernitas, kupiah meukeutop kini harus berjuang mempertahankan makna. 

Ia masih ada, masih dikenakan, bahkan kian populer. 

Baik kupiah meukeutop maupun kupiah syam, kini banyak dikenakan di berbagai acara resmi dan sakral, menjadi buah tangan khas Aceh, bahkan tampil dalam hajatan nasional. 

Tapi di balik popularitas itu, diam-diam tradisi menjahitnya mulai pudar.

Produksi industri hadir menawarkan versi serupa, lebih cepat dibuat, dijual dengan harga murah, dan mudah dijangkau oleh masyarakat.

Persaingan harga ini jelas tak sebanding. Kupiah tradisional yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk selesai tentu tidak bisa dibanderol murah. 

Akibatnya, para perajin tradisional kesulitan menjual hasil kerajinan mereka, bahkan tak jarang harus menghentikan produksi karena tak ada pembeli.

"Karena proses pembuatannya manual butuh waktu lama, perajin hanya bisa mendapatkan hasil di momen tertentu, kalua ada permintaan dari pemerintah," kata Diana.

"Kalau untuk keseharian, kadang perajin menjual satu. Itu dijual ke penampung seperti souvenir, yang saya rasa lebih banyak untung pihak penampung dari perajin," tambahnya. 

Diana mengungkapkan, sering kali perajin yang terdesak ekonomi terpaksa harus menjual murah hasil karya mereka ke penampung.

Sementara penampung kemudian menjualnya dengan harga tinggi.

Namun persoalan harga juga menjadi dilema apabila perajin memberikan nilai yang tinggi kepada para penampung.

Sebab, penampung juga akan mengambil keuntungan, sehingga harga kupiah meukeutop yang dijangkau oleh masyarakat menjadi semakin tinggi.

"Saya rasa Rp350.000 layak dijual ke penampung, karena produksinya lama, kerja tim dan manual," tutur Diana.

"Tapi di penampung nanti adi lebih tinggi, bisa saja jadi Rp 500.000, karena mereka hias lagi untuk jadi topi pengantin," sambungnya.

Baca juga: Kenakan Kupiah Meukeutop Anggota Panwaslih Aceh Utara Dilantik Bawaslu RI di Jakarta

Lebih lanjut ia berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan ekonomi perajin.

Dengan menyelamatkan perajin, kupiah meukeutop tidak akan kehilangan bentuk dan maknanya.

(Serambinews.com/Yeni Hardika)

BACA BERITA LAINNYA DI SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved