Kupi Beungoh
Sebuah Pandangan Akademik: Disiplin dalam Pendidikan
Namun, banyak sekolah, kepala sekolah, dan bahkan pengawas pendidikan masih terlalu terpaku pada kehadiran fisik sebagai tanda utama kedisiplinan.
Oleh: Dr. Aishah, M.Pd
DUNIA Pendidikan, disiplin seringkali dipersepsikan secara sempit hanya sebagai kehadiran fisik siswa dan guru di sekolah.
Namun, jika kita berbicara tentang disiplin dalam konteks yang lebih mendalam, kita sebenarnya sedang membicarakan komitmen, tanggung jawab, dan kualitas dalam setiap aspek Pendidikan.
Terlalu sering, kita melihat bagaimana sistem pendidikan di banyak tempat terlalu fokus pada absensi sebagai ukuran utama disiplin, padahal hal ini sangat dangkal dan tidak mencerminkan esensi dari proses pembelajaran itu sendiri.
Absensi sebagai indikator disiplin adalah sebuah pandangan terbatas. Pendidikan yang baik harus menilai disiplin dari berbagai sisi.
Namun, banyak sekolah, kepala sekolah, dan bahkan pengawas pendidikan masih terlalu terpaku pada kehadiran fisik sebagai tanda utama kedisiplinan.
Absensi menjadi indikator yang mudah diukur, terutama ketika ada aplikasi atau system untuk mencatat kehadiran.
Tentu, kehadiran adalah hal penting, tetapi ini hanya mencerminkan salah satu aspek dari disiplin yang jauh lebih besar dan lebih mendalam.
Kehadiran fisik di kelas tidak serta merta menjamin bahwa siswa atau guru terlibat aktif dalam pembelajaran.
Bahkan lebih jauh, siswa yang hadir tetapi tidak terlibat, tidak mengerjakan tugas, atau tidak memahami materi tidak bisa dianggap sebagai siswa yang disiplin dalam pengertian yang sesungguhnya.
Begitu juga dengan guru, yang meskipun hadir di kelas, tetapi tidak memiliki strategi pengajaran yang efektif atau komitmen pada pengembangan diri, tidak dapat dikatakan disiplin dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
Namun, ironisnya, dalam banyak kasus, Pendidikan seolah hanya mengukur disiplin dari kehadiran.
Teknologi yang ada, seperti aplikasi atau website untuk mencatat absensi, bahkan dipandang sebagai solusi utama untuk mengelola disiplin.
Padahal, aplikasi tersebut hanya mengukur kehadiran fisik tanpa memperhitungkan kualitas pengajaran atau keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
Fenomena teknologi absensi adalah biaya yang tidak proposional. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah fenomena penggunaan aplikasi atau website absensi yang biayanya diambil dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
Dana BOS yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas Pendidikan melalui pengadaan bahan ajar, pengembangan kompetensi guru dan peningkatan fasilitas belajar siswa, malah digunakan untuk membayar biaya aplikasi atau website absensi.
Padahal, aplikasi tersebut hanya berfungsi untuk mencatat kehadiharan guru, tanpa memberikan kontribusi langsung terhadap pembelajaran siswa atau pengembangan kualitas pengajaran, bahkan justru sebagai alat pemotongan tunjangan dan alat intimidasi untuk guru.
Dana BOS adalah anggaran vital yang dirancang untuk membantu sekolah dalam mencapai tujuan Pendidikan yang lebih substansial, seperti meningkatkan kualitas materi ajar, menyediakan fasilitas yang lebih baik, dan memberikan bantuan langsung kepada siswa dalam bentuk pembelajaran yang lebih efektif.
Menggunakan dana tersebut untuk membiayai teknologi absensi yang tidak terkait langsung dengan proses pembelajaran adalah sebuah kesalahan besar dalam manajemen anggaran Pendidikan.
Tidak hanya itu, biaya untuk maintain aplikasi atau website absensi tersebut juga diambil dari dana BOS.
Setiap tahun, sekolah terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaharui system, membayar biaya langganan atau memperbaharui perangkat keras dan perangkat lunak.
Ini adalah pengeluaran yang tidak efisien dan tidak memberikan dampak langsung pada kualitas pengajaran atau hasil belajar siswa.
Ini merupakan kekeliruan prioritas dalam pengelolaan dana Pendidikan. Karena pengeluaran untuk teknologi absensi yang berulang ini menegaskan kesalahan prioritas dalam pengelolaan dana Pendidikan.
Dana yang seharusnya dimanfaatkan untuk mendukung keberagaman metode pembelajaran, mendorong inovasi dalam Pendidikan, dan mengembangkan kompetensi guru kini terbuang sia-sia pada aplikasi yang hanya mencatat angka kehadiran.
Di era digital saat ini, sekolah memang membutuhkan teknologi untuk mendukung pembelajaran.
Namun, teknologi yang digunakan harus benar-benar memberikan dampak yang signifikan terhadap pembelajaran siswa.
Misalnya, platform pembelajaran daring, aplikasi untuk mengelola tugas dan ujian online, atau software untuk analisis hasil belajar siswa.
Teknologi ini jauh lebih bermanfaat dan relevan dengan tujuan Pendidikan.
Sangat disayangkan, bahwa dengan dana yang terbatas, pengelolaan anggaran Pendidikan tidak fokus pada hal-hal substantif yang mendukung kemajuan akademis siswa, seperti peningkatan keterampilan berfikir kritis, peningkatan kreativitas, dan pengembangan kompetensi sosial siswa.
Alih-alih, anggaran digunakan untuk sesuatu yang lebih administrative, yang mungkin terlihat praktis, namun kurang berkontribusi pada kualitas pengajaran itu sendiri.
Disiplin dalam Pendidikan sejatinya bukan hanya masalah kehadiran atau absensi, tetapi lebih kepada komitmen dan tanggung jawab terhadap proses belajar-mengajar.
Disiplin yang sesungguhnya dalam dunia Pendidikan melibatkan pengelolaan waktu, ketekunan dalam menyelesaikan tugas dan kemampuan untuk tetap fokus pada tujuan pembelajaran.
Siswa yang disiplin adalah mereka yang hadir di kelas dengan niat untuk belajar, mengelola waktu mereka dengan baik dan berusaha menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Sementara itu, guru yang disiplin adalah mereka yang tidak hanya hadir di kelas, tetapi juga memiliki rencana pengajaran yang jelas, komitmen terhadap kualitas Pendidikan, dan kemauan untuk terus memperbaharui metode pengajaran mereka.
Jika kita ingin menciptakan generasi yang disiplin dalam belajar, maka seharusnya fokus Pendidikan kita tidak hanya terbatas pada kehadiran fisik.
Yang lebih penting adalah bagaimana kita menciptakan lingkungan belajar yang menyeluruh yang memungkinkan siswa dan guru berkembang sesuai dengan potensi dan tantangan zaman.
Kehadiran (absensi) memang memiliki pengaruh besar terhadap budaya kerja dan iklim organisasi.
Tingkat kehadiran yang baik mencerminkan kedisiplinan, komitmen, dan tanggung jawab anggota organisasi, baik di lingkungan sekolah maupun tempat kerja.
Budaya kerja yang positif, yang didukung oleh nilai-nilai seperti kerja sama, saling menghormati, dan dukungan social, akan mendorong kehadiran pegawai yang lebih baik dan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif.
Dapat disimpulkan bahwa Pendidikan harus mengedepankan disiplin dalam konteks yang lebih luas, yang mencakup komitmen terhadap kualitas pembelajaran, keterlibatan aktif siswa dan pengembangan kemampuan berfikir kritis.
Menggunakan dana BOS untuk teknologi absensi yang hanya mencatat kehadiran adalah sebuah pengalihan prioritas yang merugikan Pendidikan itu sendiri.
Pendidikan yang baik harus lebih berfokus pada pengembangan kompetensi siswa, meningkatkan kualitas pengajaran, dan menyediakan fasilitas yang mendukung proses belajar yang efektif, bukan hanya mengutamakan angka kehadiran yang dangkal.
Pengelolaan dana yang lebih bijak dan fokus pada kualitas pembelajaran dapat menciptakan system pendidikan yang lebih berkelanjutan, efisiensi, dan yang terpenting, berorientasi pada pengembangan siswa sebagai individu yang kompeten dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Selain itu, iklim organisasi dan gaya kepemimpinan juga sangat menentukan, kepemimpinan yang inspiratif, mendukung dan memperhatikan kebutuhan individu akan meningkatkan enggagement anggota, sehingga mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk hadir serta berkontribusi secara optimal.
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa iklim kerja sekolah yang baik atau organisasi didukung oleh kinerja mengajar guru yang efektif, secara signifikan meningkatkan mutu belajar siswa dan kualitas lingkungan belajar, begitu juga di lingkungan tempat kerja.
Dengan demikian, kehadiran bukan hanya sekedar indikator administrasi, tetapi juga menjadi cerminan budaya kerja yang sehat dan iklim organisasi yang diciptakan oleh kepemimpinan yang efektif.
Kehadiran yang tinggi biasanya tumbuh di lingkungan yang memotivasi, suportif, dan dipimpin dengan teladan yang baik. (*)
*) PENULIS adalah pegawai di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Artikel KUPI BEUNGOH lainnya baca DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Aishah-Mahasiswa-Doctoral-Universitas-Pendidikan-Indonesia.jpg)