Breaking News

Konflik Palestina vs Israel

Kondisi Hussam Abu Safiya, Dokter di Gaza yang Disiksa Israel saat Ditahan di Sel Bawah Tanah

Diketahui, dr Abu Safiya ditangkap pada Desember 2024 lalu saat militer Israel mengepung lalu menggerebek Rumah Sakit Kamal Adwan.

Editor: Faisal Zamzami
Palestine Chronicle
GAZA - Dokter Hussam Abu Safiya disiksa saat ditahan oleh militer Israel sejak Desember 2024. 

SERAMBINEWS.COM, GAZA – Kondisi Hussam Abu Safiya, dokter anak sekaligus direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza Utara, dilaporkan semakin memburuk setelah berbulan-bulan ditahan oleh militer Israel di sel bawah tanah yang gelap dan lembap.

Menurut pengacaranya, Ghaida Qasem, dr Abu Safiya mengalami penyiksaan fisik, kekurangan makanan, dan tidak mendapat perawatan medis meski memiliki riwayat gangguan jantung.

“Dia ditahan di sel bawah tanah yang tanpa cahaya matahari, mengenakan pakaian musim dingin yang sama sejak ditangkap. Ia kelaparan, disiksa, dan terisolasi,” kata Qasem dalam pernyataan tertulis, Senin (14/7/2025).

Diketahui, dr Abu Safiya ditangkap pada Desember 2024 lalu saat militer Israel mengepung lalu menggerebek Rumah Sakit Kamal Adwan.

 Ia dan beberapa tenaga medis lainnya—termasuk pasien—dibawa paksa saat itu.

“Ketika ditangkap, berat badannya 100 kilogram. Sekarang hanya 60 kilogram,” ujar Qasem. Penurunan drastis itu terjadi dalam waktu kurang dari tujuh bulan.

“Pada 24 Juni, dia dipukuli selama sekitar 30 menit, dengan hantaman di dada, wajah, kepala, dan leher,” tambah sang pengacara.

Meski mengalami gangguan detak jantung, otoritas Israel tetap menolak memberikan obat, akses ke dokter spesialis, atau penanganan medis yang layak.

Baca juga: VIDEO - Hamas Makin Agresif di Jalur Gaza, IDF Aktifkan Protokol "Hannibal"

Dokter Abu Safiya dikenal sebagai salah satu tenaga medis paling berdedikasi di Jalur Gaza, terutama dalam merawat anak-anak di tengah krisis medis dan serangan udara yang tiada henti.

Istrinya, Lina Abu Safiya, dalam wawancara dengan Al Jazeera, menyebut sang suami memilih tetap berada di rumah sakit meski sempat diberi peluang untuk keluar dari Gaza.

“Dia bisa saja bergabung dengan saya di Kazakhstan,” ujar Lina.

“Tapi dia bilang tidak bisa meninggalkan pasien dan rekan-rekannya. Menurutnya, itu akan menjadi pengkhianatan terhadap tugasnya sebagai dokter,” imbuh Lina.

Laporan kantor berita Palestina WAFA menyebutkan bahwa hingga kini sudah lebih dari 360 tenaga kesehatan ditahan sejak Oktober 2023.

Di antara mereka adalah dokter-dokter spesialis yang keberadaannya sangat penting bagi para pasien.

Menurut berbagai organisasi hak asasi manusia, tindakan ini memperparah krisis kemanusiaan yang melanda Gaza, di mana sistem layanan kesehatan telah lumpuh dan ribuan orang masih terluka tanpa perawatan.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved