Kamis, 30 April 2026

Salam

PBB Gagal, Gaza Mati Perlahan

Kelaparan yang melanda Gaza bukanlah sekadar akibat peperangan. Ia adalah hasil dari kelumpuhan moral dunia, kebuntuan diplomasi,

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/Anadolu Agency
Nur Abu Sel'a, bocah 10 tahun, yang dirawat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza tengah, meninggal dunia akibat malnutrisi dan kurangnya formula nutrisi medis akibat krisis kemanusiaan parah akibat blokade Israel di Jalur Gaza dan penutupan perlintasan perbatasan pada 27 Juli 2025. [Ashraf Amra - Anadolu Agency] Nur Abu Sel'a, bocah 10 tahun, yang dirawat di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza tengah, meninggal dunia akibat malnutrisi dan kurangnya formula nutrisi medis akibat krisis kemanusiaan parah akibat blokade Israel di Jalur Gaza dan penutupan perlintasan perbatasan pada 27 Juli 2025. 

Kelaparan yang melanda Gaza bukanlah sekadar akibat peperangan. Ia adalah hasil dari kelumpuhan moral dunia, kebuntuan diplomasi, dan kegagalan kemanusiaan. Lebih dari sekadar angka korban, yang membengkak hari demi hari, ada wajah-wajah anak-anak yang menipis kelaparan, ibu-ibu yang memasak dengan air mata, dan keluarga-keluarga yang berharap kepada langit kosong untuk pertolongan.

Pertanyaan besar yang harus diajukan adalah: Siapa yang bertanggung jawab atas penderitaan ini? Apakah hanya pihak-pihak yang menekan tombol senjata dan menjatuhkan bom? Ataukah juga dunia yang memilih bungkam atau hanya bersuara tanpa tindakan nyata?

Demonstrasi demi demonstrasi mewarnai jalan-jalan di berbagai belahan dunia. Dari Jakarta hingga London, dari Cape Town sampai Santiago, jutaan orang turun ke jalan membawa poster perdamaian, menyerukan diakhirinya kekerasan. Mereka berteriak agar Gaza tidak dilupakan, agar tragedi kemanusiaan ini dihentikan segera. Namun damai tetap enggan datang. Suara rakyat dunia seolah menguap di udara, tak mampu menembus tembok diplomatik dan kebijakan luar negeri negara-negara besar.

Kenyataan pahitnya adalah, kelaparan bukan hanya soal logistik. Ini adalah konsekuensi dari blokade, pembatasan bantuan kemanusiaan, dan penghancuran infrastruktur dasar oleh penjajah Israel. Ketika truk bantuan tertahan di perbatasan dan distribusi pangan dipolitisasi, yang menderita adalah mereka yang tidak pernah memilih perang: warga sipil.

Organisasi kemanusiaan telah lama bersuara mengenai urgensi pangan, air bersih, dan layanan medis. Namun respons global tak sepadan dengan besarnya tragedi. Resolusi-resolusi di meja PBB menjadi perdebatan panjang tanpa implementasi nyata. Komitmen internasional untuk melindungi warga sipil seolah tergerus oleh kepentingan politik dan aliansi strategis.

Sudah saatnya dunia berhenti sekadar mengutuk. Ketika seorang anak meninggal karena kelaparan di Gaza, itu bukan hanya tragedi lokal, itu adalah kegagalan universal. Setiap pemerintah yang mengklaim menjunjung hak asasi manusia, setiap institusi yang menyerukan solidaritas, harus bertindak tegas. 

Kelaparan di Gaza bukan takdir, melainkan cermin buruk dari pilihan dan kelalaian global. 

Tragedi kelaparan di Gaza juga memperlihatkan bagaimana media internasional sering kali memilih untuk tidak memberitakan penderitaan secara proporsional. Ketika ribuan nyawa melayang, liputan justru terfokus pada narasi politik yang mengaburkan akar masalah. Padahal, setiap detik yang berlalu tanpa aksi berarti adalah kematian yang bisa dicegah.

Selain itu, negara-negara yang selama ini menjadi donator utama bantuan kemanusiaan pun terlihat gagal memastikan bantuan sampai ke tangan yang membutuhkan. Banyak laporan menyebutkan bahwa bantuan makanan dan obat-obatan dihancurkan atau dirampas. Ini bukan sekadar kelalaian, melainkan kejahatan kemanusiaan yang terstruktur.

Ketika PBB mengumumkan bahwa satu dari tiga anak Gaza menderita kelaparan akut, seharusnya dunia tersentak. Angka ini bukan sekadar statistik—ini adalah pengakuan resmi bahwa sebuah generasi sedang dihancurkan. Anak-anak yang seharusnya bermain, belajar, dan tertawa, kini bergulat dengan rasa lapar yang menggerogoti tubuh mereka. Mereka tidak hanya kehilangan makanan, tetapi juga masa depan.

Di tengah situasi ini, masyarakat global tidak boleh hanya berpangku tangan. Tekanan politik harus terus digencarkan melalui jalur diplomasi, boikot ekonomi, dan kampanye kesadaran internasional. Jika PBB tidak mampu bertindak tegas, maka rakyat dunia harus memaksa pemimpin mereka untuk mengambil sikap.

Gaza telah menjadi ujian bagi hati nurani manusia. Jika kita membiarkan kelaparan ini berlanjut, maka kita semua turut bersalah. Sudah waktunya dunia bangkit dari kelumpuhan moral dan bertindak sebelum lebih banyak nyawa tak berdosa menjadi korban. Kita tidak butuh lagi kata-kata, tapi aksi nyata.(*)

 

POJOK

Kenaikan biaya hidup, warga Malaysia minta Anwar Ibrahim mundur
Di Indonesia, rakyat pasrah meski beras dan BBM dioplos, dan korupsi gila-gilaan

Israel hancurkan 1.000 truk bantuan kemanusiaan
Itu berarti juga menghancurkan jutaan jiwa yang menanti bantuan

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved