Pemerintahan
Bupati Aceh Singkil Dibikin Jengkel Anak Buah soal Proposal: Jangan Sok, tak Mampu Kerja Mundur
Salah satunya dalam membuat proposal usulan pembangunan kepada Pemerintah Pusat, tidak bisa selesai tepat waktu.
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Dede Rosadi I Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Bupati Aceh Singkiil Safriadi, tak bisa lagi menutupi perasaan jengkelnya dengan tingkah anak buahnya yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan pola kerja dewasa ini.
Seperti bekerja serba cepat, tepat dan siap bekerja di luar jam kerja kapan saja dibutuhkan.
Tanpa tedeng aling-aling Safriadi, membuka soal sumber daya manusia (SDM) di jajarannya.
Salah satunya dalam membuat proposal usulan pembangunan kepada Pemerintah Pusat, tidak bisa selesai tepat waktu.
Dari tuntutan tiga hari selesai. Namun ternyata sampai dua pekan tidak juga rampung.
Baca juga: Jangan Lupa Bawa Payung, Cuaca Aceh Singkil Berpotensi Hujan Hari Ini
Sehingga terpaksa harus meminta bantuan kepada pegawai di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tenggara.
"Kadang SDM kita sangat disayangkan, membuat proposal dituntut dua hari tiga hari, dua minggu tidak selesai. Apalah bendanya dengan pegawai daerah lain," sesalnya.
Terkait kondisi itu, Safriadi mengingatkan pegawai satuan kerja perangkat kabupaten (SKPK) mengundurkan diri jika merasa tidak mampu bekerja.
Jangan sok seolah-olah mampu bekerja, sementara fakta menunjukan sebaliknya.
"SKPK kalau tidak mampu jangan sok, kalau tidak mampu lepaskan saja jabatan itu," kata Safriadi usai melantik Penjabat Sekda Aceh Singkil, Edy Widodo, di Op Room kantor bupati di Pulo Sarok, Singkil, Senin (4/8/2025).
Kata jangan sok dalam bahasa gaul artinya jangan sok-sokan, jangan berlagak atau bergaya seolah-olah tahu atau bisa, padahal tidak.
Sehingga pilihan kata yang dipakai Safriadi dalam mengingatkan anak buahnya cukup keras.
Menurut Safriadi pada era pemerintahan dewasa ini dituntut bekerja serba cepat.
Bahkan terkadang lebih banyak bekerja di luar jam dinas, ketimbang saat hari kerja.
Kondisi itu, berbeda dengan pengalamannya ketika menjadi bupati Aceh Singkil periode 2012-2017 lalu.
Jika tidak mengikuti tuntut kerja pada era serba cepat, maka Kabupaten Aceh Singkil, akan selalu tertinggal dengan daerah lain.
Maklum zaman sekarang hanya pemerintah daerah paling cepat mengajukan proposal usulan yang dapat program pembangunan.
"Sekarang siapa cepat ini yang dapat. Sekali ini pemerintah lain, lebih banyak kerja di luar jam dinas, tapi jadikanlah ladang ibadah," kata Safriadi.
Ia menceritakan pengalamannya ketika bertemu menteri di Jakarta, mempertanyakan alasan daerahnya tak mendapat kue pembangunan.
Begitu dijawab menteri usulannya tidak ada, dirinya hanya bisa marah.
Mengingat sebelumnya dirinya bertanya kepada anak buahnya bahwa usulan sudah diajukan.
Namun begitu dicek kepada kementerian usulan ternyata tidak ada.
"Untung menterinya kenal setelah saya marah diajaknya makan bakso dan dikasih juga bantuan, kalaulah ada proposalnya bisa lebih banyak," ujarnya.
Proposal usulan bukan hanya harus cepat sesuai tenggat waktu, tetapi harus baik agar dapat diterima oleh kementerian.
Selain tepat waktu dan lihai dalam membuat proposal, SKPK juga harus jeli dalam melihat peluang yang dapat diusulkan kepada Pemerintah Pusat.
Safriadi mengatakan dirinya telah memberikan kesempatan selama enam bulan kepada pegawainya untuk menunjukan kinerja dengan tidak melakukan mutasi.
Namun ternyata banyak yang bekerja di luar ekspektasinya. Terkait hal itu bupati perintahkan Pj sekda, melakukan evaluasi kinerja jajaran birokrasi.
Bagi pegawai yang masih bisa dibina maka, lakukan pembinaan.
Bagi yang tidak maka segara laporkan kepada bupati, untuk diganti pegawai yang mau bekerja.
Pada bagian lain Safriadi mengkalim dirinya bersama Wakil Bupati Aceh Singkil, Hamzah Sulaiman, bekerja tanpa kenal siang malam.
Langkah itu sebutnya, sebagai komitmen untuk memajukan daerah itu.
Mengingat jika berpangku tangan terhadap anggaran pendapatan dan belanja kabupaten (APBK), tidak memungkinkan melakukan pembangunan secara maksimal.
Dia lantas mengungkapkan pontensi Aceh Singkil, yaitu pariwisata, perkebunan dan perikan yang belum tergarap maksimal.
Terbukti pendapat asli daerah (PAD) hanya Rp 62 miliar.
Besaran PAD tersebut jangankan untuk pembangunan jika digunakan bayar gaji pegawai saja tidak cukup.
Konon lagi ada tambahan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) yang jumlahnya mencapai 1.800 orang.
Maka fiskal Aceh Singkil, akan tersedot anggaran gaji pegawai.
Menyikapi itu, semua jajaran birokrasi harus bekerja keras tanpa kenal lelah. Jadikan semua pengorbanan sebagai bentuk pengabdian kepada daerah.(*)
LANTIK SEKDA - Bupati Aceh Singkil, Safriadi saat lantik Pj Sekda Aceh Singkil Edy Widodo, Senin (4/8/2025).
Alasan Gaji PNS 2026 Tidak Naik, Pemerintah Juga Tutup Peluang Rekrutmen CPNS 2026 |
![]() |
---|
Benarkah Gaji PNS 2026 Tidak Naik? Presiden Prabowo Tak Singgung Dalam Pidato RAPBN, Ini Alasannya |
![]() |
---|
Ibrahim ZA Resmi Jabat Keuchik Gampong Pajar, Siap Bangun Desa Lewat Musyawarah & Kepedulian Sosial |
![]() |
---|
Rakyat Melarat, Aceh Singkil Ngotot Beli 4 Mobil Dinas 2,2 M dan Pengadaan Ipad Rp 90 juta |
![]() |
---|
Anggota DPRA Minta Perusahaan BUMN di Aceh Bantu Pemerintahan Mualem-Dek Fadh |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.