Wawancara Eksklusif
Illiza Wali Kota Banda Aceh Ingin Banda Aceh Jadi Kota Parfum
Berikut petikan wawancara Pemred Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, bersama Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal
Kami sudah merencanakan pameran parfum skala dunia. Alhamdulillah, kemarin ILO bersama USK akan memfasilitasi pertemuan dengan ahli parfum dari Prancis, dan sudah disetujui. Agar parfum kita memiliki standar dunia, maka harus didatangkan ahli kelas dunia juga. Illiza Sa’aduddin Djamal, Wali Kota Banda Aceh
PENGANTAR - Illiza Sa’aduddin Djamal merupakan satu-satunya kepala daerah yang paling lama menduduki Balai Kota Banda Aceh. Ia memulai kiprahnya sebagai Wakil Wali Kota (2007–2012), kemudian menggantikan almarhum Mawardy Nurdin sebagai Wali Kota (2012–2014), dan kembali menjabat Wali Kota (2014–2017). Pada Pilkada terakhir, Illiza bersama Afdhal Khalilullah Mukhlis kembali terpilih memimpin Banda Aceh untuk periode 2025–2030.
Langkah politik Illiza berawal dari niat menyambung silaturahmi orang tua, dengan bergabung dalam kepengurusan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kariernya pun bertahap, mulai dari anggota DPRK Banda Aceh (2004–2006) hingga menjadi Wali Kota. Ia memang lahir dari keluarga politisi. Kakek, ayah, dan ibunya semuanya pernah aktif di dunia politik.
Dalam memimpin Banda Aceh, Illiza fokus pada pengembangan ekonomi kreatif sebagai sumber ekonomi baru. Ia bahkan telah menabalkan Banda Aceh sebagai “Kota Parfum”, seiring tumbuhnya industri parfum lokal. Di bidang infrastruktur, ia berkomitmen memperjuangkan pembangunan flyover di Kantor Gubernur, Jembatan Alue Naga, dan Simpang Tujuh Ulee Kareng.
Berikut petikan wawancara Pemred Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, bersama Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal—yang akrab disapa Bunda—dalam podcast Gebrakan Sang Pemimpin, sebagaimana telah tayang di YouTube Serambinews.com, Senin (4/8/2025).
Bisa diceritakan bagaimana awal Bunda terjun ke dunia politik? Konsistensi Bunda luar biasa, dari DPRK hingga DPR RI, lalu kembali menjadi Wali Kota, dan tetap bersama PPP.
Saya memang dibesarkan di keluarga politik. Kakek saya, Zaini Bakri, pernah menjabat sebagai Bupati Aceh Besar, Residen Banda Aceh, Bupati Aceh Tengah, dan Bupati Aceh Timur. Ayah saya pernah menjadi pimpinan DPR Aceh, dan hingga wafat masih menjabat sebagai anggota MPR RI. Ibu saya juga pernah menjadi anggota DPR Banda Aceh dan DPR Provinsi. Saat ayah saya meninggal, ibu sedang bertugas di Amerika Serikat.
Awal saya terjun ke politik, ada musyawarah PPP untuk memilih ketua baru. Ibu saya minta saya bantu. Biasanya, orang PPP itu dananya terbatas, jadi keluarga ikut bantu—bawa kursi dan bunga dari rumah. Saat itu saya sudah menikah dan minta izin suami untuk hadir. Tiba-tiba saya diminta jadi pengurus. Kata suami, penting juga kita lanjutkan silaturahmi orang tua.
Saya pun masuk kepengurusan PPP di kota dan maju sebagai calon anggota DPRD Banda Aceh. Saya di urutan kedua. Tapi di tengah jalan, Pak Diah (anggota DPRD) wafat, saya menggantikannya sebagai PAW. Di periode berikutnya, saya maju lagi dan dapat suara besar. Tapi belum selesai satu periode, saya PAW lagi karena maju sebagai calon Wakil Wali Kota.
Alhamdulillah, saya dan almarhum Pak Mawardi terpilih. Di periode kedua, beliau wafat, saya melanjutkan sebagai Wali Kota. Saat maju lagi, saya tidak terpilih karena isu pemimpin perempuan cukup gencar. Lalu saya maju sebagai calon DPR RI. Awalnya saya ingin ke DPRA, tapi banyak calon mundur. Saya pikir, “Ngapain kita maju lagi, pergi antar lintoe saja.”
Tiba-tiba ada perintah dari DPP. Saya diminta maju ke DPR RI, bukan DPRA. Ya sudah, “Samikna wa atho’na.” Banyak yang prediksi saya tidak akan terpilih, karena saya jarang keliling. Keluarga dan kerabat pun yakin saya cocoknya di DPRA. Tapi Alhamdulillah, di periode kedua suara saya tembus 100 ribu lebih. Sayangnya, partai saya tidak lolos threshold. Niat awal saya hanya menyambung silaturahmi orang tua, tapi ternyata digariskan sebagai jalan perjuangan saya menuju Allah lewat politik.
Kabarnya Bunda sempat ingin keluar dari PPP?
Waktu itu PPP mendukung Ahok. Di Aceh, dukungan seperti itu sulit diterima. Saya sempat diskusi dengan Ketum Romy, bilang kayaknya saya harus keluar. Tapi beliau jawab, “Nggak boleh, harus tetap di sini.”
Apa prioritas utama pembangunan Banda Aceh di periode ini?
Visi besar kami adalah menjadikan Banda Aceh sebagai kota kolaborasi. Saya terinspirasi dari Pak Anies yang ingin menjadikan Jakarta sebagai kota kolaborasi. Banda Aceh juga tidak bisa dibangun sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ILLIZA-INGIN-BANDA-ACEH-JADI-KOTA-PARFUM.jpg)